PENDAHULUAN

            Dalam hal ini buku yang akan di review adalah buku karangan Koentjaraningrat cetakan kedua yang berjudu” Beberapa Pokok Antropologi Sosial “. Buku ini memiliki tebal 307 halaman. Terdapat pula lima Bab yang dibahas dalam buku tersebut. Berikut yang akan dibahas mengenai kedudukan dan pokok-pokok antropologi sosial selain itu juga membahas mengenai sistem mata pencaharian, sistem kekerabatan, Kesatuan hidup dalam masyarakat dan yang terakhir membahas mengenai Sistem Religi dan Ilmu Gaib. Buku ini cetakan yang kedua dan diterbitkan pada tahun 1972. Buku ini diterbitkan oleh Dian Pustaka.Menurut saya buku ini adalah buku wajib yang harus dijadikan sebagai pegangan penting untuk para antropolog pemula untuk dasar ilmu tentang masyarakat dan kebudayaan.

BAB I

1.Kedudukan Antropologi Sosial dalam rangka Antropologi

Dalam buku ini  Antropologi Sosial itu termasuk dalam Antropologi Budaya. Antropologi Budaya ini bercabang lagi ke dalam prehistory,etniolinguistik dan etnologi.Dalam Etnologi ada dua sub ilmu Etnologi yaitu Descriptive Intergration (ethnology) dan  generalizing approach ( social anthropology). Terlihat jelas bahwa Antropologi Sosial kedudukannya terhadap Antropologi adalah terletak dalam sub ilmu etnologi mengenai Generalizing Approach yaitu Social Antrhopology.

Descriptive Integration itu selalu mengenai suatu daerah tertentu. Bahan yang dijadikan sebagai pokok dalam ilmu etnologi adalah bahan-bahan mengenai keterangan etnografi. Keterangan etnografi ini bisa meliputi bahasa ( bahan dari etno linguistik ), ciri ras ( bahan dari somatologi ), fosil-fosil ( bahan dari paleoantropologi ) dan artefak ( bahan dari prehistory). Descriptive Integration ini memiliki tujuan yang penting seperti yang Koentjaraningrat katakan dalam buku ini bahwa tujuannya adalah mencapai pengertian tentang sejarah perkembangan suatu daerah serta mencoba untuk memandang suatu daerah tersebut pada bidang yang diachronisnya juga . ( Koentjaraningrat : 1972 )

Generalizing approach ( Antropologi Sosial ) di dalam sub ilmu etnologi ini memiliki prisnsip tentang persamaan di balik banyaknya keanekaragaman dan varian dalam  kelompok yang terjadi di dalam masyarakat dan kebudayaan. Dalam hal ini Koentjaraningrat mengatakan bahwa ada dua metode yang dimasukan ke dalam dua golongan yang dipakai dalam Antropologi sosial ini yang pertama metode yang menuju ke arah penelitian dan yang kedua mengarah kepada perbandingan merata dari sejumlah unsur – unsur terbatas dalam suatu jumlah kebudayaan dan masyarakat dengan jumlah yang sebanyak mungkin. (Koentjaraningrat : 1972 ).

Melihat hal tersebut menurut saya Antropologi sosial erat kaitannya dengan kelompok suatu masyarakat dan kebudayaan. Hal ini yang membedakan antara Antropologi Sosial dengan Sosiologi pada umumnya adalah terletak dalam objeknya. Jika kita berbicara tentang Sosiologi berbicara pula mengenai masyarakat sedangkan Antropologi Sosial akan lebih spesifik lagi dengan membahas suatu kelompok – kelompok yang ada di dalam masyarakat. Pendekatan dan sudut pandang yang dilakukan juga akan berbeda. Antropologi Sosial adalah ilmu yang sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat. Karena ilmu ini mencari solusi dan memahami persoalan – persoalan yang ada di dalam suatu kelompok masyarakat.

2. Pokok-pokok dan pokok –pokok khusus  dalam Antropologi Sosial

Dalam hal ini kita akan belajar mengenai istilah pokok-pokok Etnologi. Koentjaraningrat mengatakan bahwa “pokok-pokok etnografi merupakan isi dari sesuatu suku bangsa tertentu sedangkan pokok-pokok etnologi merupakan abstraksi dari hal itu, ialah : isi kebudayaan manusia.” ( Koentjaraningrat : 1972 : 6 ). Antropologi sosial tentunya akan membahas pula tentang pokok-pokok yang dibicarakan dalam etnologi. Dalam buku ini disebutkan bahwa C. Kluckhohn  dalam sebuah karangan bukunya Universal Categories of Culture (1953). Tujuh unsur kebudayaan itu ada sistem peralatan dan perlengkapan hidup, sistem mata pencaharian, sistem kemasyarakatan, bahasa, kesenian, sistem pengetahuan, sistem religi.Pada Bab selanjutnya juga akan membahas mengenai sistem mata pencaharian yang cukup berpengaruh dalam perekonomian masyarakat sejak dulu hingga sekarang adanya perubahan budaya juga akan mempengaruhi sistem mata pencaharian.

BAB II

Sistem Mata Pencaharian

1.Berburu dan Meramu

Berburu dan meramu ini termasuk dalam dua sistem mata pencaharian hidup yang erat kaitannya dengan pergerakan “ekonomi pengumpulan pangan”. Terbukti bahwa berburu dan meramu adalah sistem mata pencaharian yang paling tua dan paling awal yang dilakukan oleh manusia. “Ekonomi pengumpulan pangan “ ini sering disebut juga dengan istilah “food gathering” artinya dalam kehidupan manusia berburu dan meramu ini sudah mengenal mengenai bagaimana cara mencari dan mengumpulkan berbagai tanaman dan binatang yang dijadikan sebagai pangan pokok agar bisa bertahan hidup. Berburu dan meramu juga erat kaitannya dengan alam. Karena semua objek yang dijadikan untuk bahan pangan sehari-hari adalah dari alam. Mereka hidup dari alam.

Dalam buku ini koentajaranngrat juga menjelaskan mengenai sistem berburu ini dengan menggunakan pendapat seorang ahli yang bernama J. Steward. J Steward ini mengatakan “ aneka warna masyarakat suku bangsa berburu itu dapat dikembalikan kepada dua bentuk dasar : Satu bentuk dasar itu disebabkan karena binatang yang diburu itu hidup terpencar , tidak dalam kawanan dan tidak mengembara menurut musim . Sedangkan bentuk dasar yang kedua disebakan karena binatang-binatang yang diburu itu hidup dalam kawanan yang besar , yang mengembara pada jarak-jarak yang jauh menurut musim.” (Koentjaraningrat : 1972 : 14)

Menurut analisa J. Steward mengenai masyarakat berburu ini ada dua bentuk dan susunan yang beragam. Yaitu Patrilineal Hunting Band artinya adalah keanggotaan dalam kelompok ditetapkan menurut garis keturunan dari pihak ayah. Serta memiliki adat perkawinan yang mewajibkan untuk menikah di luar kelompoknya. Yang kedua adalah Composite Hunting Band artinya adalah keanggotaan dalam kelompok tidak lagi patrilineal sedangkan adat perkawinannya tidak bersifat exogam lagi. ( Koentjaraningrat : 1972 )

Menurut Koentjaraningrat ,perbedaan mayarakat berburu dan meramu ini dengan masyarakat yang mengenal bercocok tanam akan terlihat jelas ketika masyarakat berburu tingkat angka kelahirannya rendah. Gejala ini disebabkan karena adanya tekanan batin yang dirasakan masyarakat pada waktu itu sehingga keterbatasan pangan yang menjadi persoalan mendasar sehingga angka kelahirannya pun akan ikut rendah. Namun hal ini masih dianggap belum bisa dijadikan sebagai teori karena belum dirumuskan secara konkret dan perlu diteliti dengan metode yang bersifat ilmiah. Suatu permasalahan yang mendasar pada masyarakat berburu dan meamu ini adalah sarana dan prasarana dalam membawa hasil buruan dengan tempat lokasi yang jauh dan juga kondisi-kondisi yang menyulitkan para peburu untuk membawa hasil tangkapannya.

Peramu sagu yang ada di Pantai utara Irian Jaya mulai ada perbedaan bahasa antar daerah karena adanya pulau-pulau yang berahadapan dengan Pantai Utara Irian Jaya ini. Seperti Pulau Wakde, Takar, Yamna dan lain-lain.Pada masa meramu ini pengkristenisasi sudah terjadi ketika awal tahun 1913. Dengan kedatangannya bagsa belanda pada tahun 1920 menempatkan pemerintahan jajahan mulai terjadi yang namanya asimilasi budaya dimana tradisi masyarakat meramu ini lambat laun akan mengalami perubahan budaya pada masyarakat meramu ini. Hal ini disebabkan adanya kontak budaya dari luar yang dibawa oleh pengaruh belanda. ( Koentjaraningrat : 1972 ).

2.Perikanan di Asia Tenggara

Selain mengenal berburu dan meramu ada juga sistem mata pencaharian perikanan. Hal ini penting karena perikanan juga dapat dikatakan sebagai sistem mata pencaharian yang lama dan tua terutama yang tinggal di pinggir pantai , laut dan di daerah peraiaran. Pada dasarnya nelayan tahu persis bagaimana  menjalankan dan menggunakan perahu namun nelayan juga dituntut untuk tahu mengenai sifat-sifat laut,angin dan arusnya . Sangat penting bagi para nelayan untuk memahami berbagai macam yang berhubugan dengan pemanfaatan sumber daya alam.

            Banyak yang dapat kita pelajari dari seorang nelayan antara lain nelayan ini memiliki peran sangat penting bagi ekonomi masayarakat pada waktu dulu hingga sekarang ini. Hal ini dibuktikan sejak dulu hingga sekarang sistem mata pencaharian ini tidak pernah menghilang dan masih akan terus ada selama biota laut yang ada masih tersisa hidup di air. Berbeda dengan sistem mata pencaharian berburu dan meramu yang menghilang lalu digantikan oleh sistem bercocok tanam. Jelas bahwa sistem mata pencaharian perikanan ini akan terus dan tetap eksis karena semakin banyak orang yang mengeksploitasi sumber pangan di darat yang lambat laun akan habis tentunya akan banyak yang beralih ke dalam pencarian sumber pangan di laut . Sehingga keberadaan mata pencaharian ini sangat diperlukan dan penting bagi roda perekonomian di Indonesia.

3. Asal Mula Bercocok Tanam

            Dalam buku ini membahas mengenai bagaimana dan dimana asal mula bercocok tanam itu mulai ada menggantikan mata pencaharian berburu dan meramu. Menjawab persoalan tersebut Koentajaraningrat banyak menggunakan pedapat dari beberapa ahli sejarah kebudayaan, ahli pertanian dan juga antropolog. Yang pertama mengenai ahli sejarah kebudayaan yaitu Verre Gordon Childe . Menurut beliau “kepandaian bercocok tanam itu merupakan suatu peristiwa hebat dalam proses perkembangan kebudayaan manusia sehingga peristiwa disebutnya suatu revolusi kebudayaan” ( Koentjaraningrat : 1972 : 37). Selain itu juga melibatkan ahli pertanian yaiu N.I Vavilov ( Ketua Lembaga Lenin untuk Ilmu Pertanian di Leningrad). Ahli-ahli pertanian tersebut menyimpulkan bahwa “ kepandaian bercocok tanam tidak diketemukan oleh manusia di satu tempat , melainkan di beberapa tempat di muka bumi ,masing-masing cukup terlepas satu dari yang lain dengan menggunakan metode ilmiah ethnobotany (Koentajaraningrat : 1972 : 38 ). Vavilov dan kawan-kawannya menemukan setidaknya tujuh daerah asal dari bercocok tanam (lihat halaman: 38 ) , namun hal ini sedikit ditambahkan oleh pakar antropolog G.P Murdock yang terdapat dalam bukunya “ Africa . Its Peoples and Their Cultural History (1959). Pada buku ini intinya G.P Murdock ingin menunjukan bahwa Afrika Barat ini juga termasuk daerah asal mulanya bercocok tanam.  

4 Bercocok Tanam di Ladang

            Pengertian dari bercocok tanam di Ladang seperti yang telah disebutkan dalam buku Anropologi Sosial ini adalah “ Suatu cara bercocok tanam terutama yang ada di daerah hutan rimba tropik dan juga di daerah sabana tropik dan sub tropik “(Koentjaraningrat : 1972 : 41). Bercocok tanam di ladang ini sudah dikenal sejak zaman neolithik. Di dalam buku ini juga dijelaskan mengenai kegiatan-kegiatan yang dilakukan ole para pencocok tanam ladang yang sangat perlu kita ketahui agar kita tahu perbedaan antara pencocok tanam di ladang ataupun pencocok tanam yang menetap. Berikut kegiatan-kegiatannya secara singkat ( Koentjaraningrat : 1972 : 41):

  1. Daerah di hutan atau di sabana di bersihkan ( ditebang dan dibakar)
  2. Bidang tanah ladang yang demikian dibuka,ditanami satu samapai paling banyak tiga kali (1-2 tahun)
  3. Kemudian ladang tadi dibiarkan untuk waktu yang lama ( 10-15 tahun) sehingga menjadi hutan kembali
  4. Sesudah itu hutan bekas ladang tadi dibuka lagi dengan cara seperti tersebut seperti yang dilakukan dalam sub a, dan demikian seterusnya.

Mereka juga membedakan golongan berdasarkan jenis tanah hutan yang digolongkan secara teliti dan cermat. Adapun banyak faktor yang perlu diperhatikan oleh para pencocok tanam adalah tanah, curah hujan, topografi bumi dan juga faktor masyarakat juga sangat penting bagi para pencocok tanam ladang ini. Pada kenyataannya banyak permaslahan yang terjadi ketika penguasaan hak milih tanah yang tadinya bersifat umum namun adanya individu yang memanfaatkan hutan secara berlibahan atau ekslpoitatif, maka dari itu banyak hutan yang habis karena ulah manusia itu sendiri. Dalam buku ini juga dijelaskan mengenai teknik orang bercocok tanam di Ladang.Berbeda ketika kita melihat negara Indonesia , hasil ladang di Indonesia itu bukan untuk dijadikan sebagai pemenuhan keperluan hidup masyarakat lokal namun hasil ladang ini justru di ekspor ke luar negeri. Sehingga daerah lokal justru tidak dapat terpenuhi kebutuhannya secara optimal oleh masyarakat.

5. Bercocok Tanam Menetap

            Menurut Koentjaraningrat  pemahaman mengenai bercocok tanam menetap ini adalah  yang dilakukan oleh masyarakat di pedesaan bukan seperti bercocok tanam yang ada di perusahaan atau di perkebunan besar. Selain itu pula Koentjaraningrat juga menjelaskan bagian – bagian daerah yang cocok untuk bercocok tanam menetap. Berikut daerah – daerahnya; 1. Daerah tropik 2. Daerah Subtropik 3. Daerah setengah – dingin ( Koentjaraningrat : 1972 ).

            Dengan adanya permasalahan dan persebaran bercocok tanam ini sebagai salah satu unsur kebudayaan. Dalam hal ini antropolog juga perlu memahami peralatan bercocok tanam  apa yang digunakan sehingga muncul lah penggolongan pencocok tanam berdasarkan peralatan yang digunakan . Menurut Koentjaraningrat ada dua penggolangan tersebut yaitu a. Bercocok tanam tanpa bajak ( hand agriculture,hoe agriculture,horticulture ) b. Bercocok tanam dengan bajak ( Koentjaraningrat :1972).

            Dalam buku ini bercocok tanam yang sifatnya masih tidak menggunakan alat bajak ( hoe agriculture atau horticulture) termasuk dalam bercocok tanam di ladang sedangkan bercocok tanam yang menggunakan alat bajak adalah bercocok tanam yang sudah menetap. Dapat disimpulkan bahwa para pencocok tanam yang sudah menetap ini memiliki alat yang sudah lebih maju. Masyarakat pedesaan ini sudah mengenal teknik dengan semakin modern. Pola berpikir masyarakatnya juga lebih maju dan modern . Hal ini dibuktikan dengan adanya teknik- teknik baru serta alat-alat bercocok tanam yang setingkat lebih maju daripada bercocok tanam yang di ladang. Dalam hal ini juga dijelaskan mengenai teknik bercocok tanam menetap dan juga adanya sistem milik tanah para pencocok tanam menetap.  Pada Bab selanjutnya juga tidak kalah pentingnya dengan sistem mata pencaharian yaitu sistem kekerabatan . Sistem kekerabatan ini sangat penting dalam perubahan budaya yang sekarang terjadi ini . Pada dasarnya manusia hidup di dalam suatu kekerabatan . kita berkeluarga itu salah satu bentuk sosial yang dilakukan dalam perkawinan. Bab selanjutnya akan dibahas lebih lanjut mengenai macam-macam keluarga yang mungkin ada di dalam masyarakat dan juga pendapat para ahli yang membahas mengenai sistem kekerabatan ini.

BAB III

Sistem- sistem Kekerabatan

Di dalam bab ini juga menjelaskan tentang tingkatan-tingkatan di dalam proses perkembangan masyarakat dan kebudayaan manusia. Tingkatan pertama mengenai adanya sekelompok laki-laki dan perempuan bersetubuh melahirkan anak tanpa adanya ikatan. Tingkatan kedua dalam perkembangan masyarakat dan kebudayaan manusia adalah adanya kelompok keluarga yang meluas karena garis keturunan ibu (matriarchaat). Kemudian adanya kelompok keluarga yang meluas karena garis ayah (patriarchaat).

Perhatian Antropologi banyak kepada kehidupan binatang yang berklompok dalam hal ini disebut dengan “konsep promiscuity”.Kehidupan keluarga manusia diatur oleh kompleks yang besar dari bermacam adat istiadat dan hukum-hukum yang tidak ditentukan oleh nalurinya secara biologis,tetapai oleh kebudayaan . Adapun aneka warna bentuk sistem kekeluargaan dan kekerabatan manusia . (Koentjaraningrat : 1972 : 88).

Adat Istiadat Lingkaran Hidup

Dalam pembahasan materi ini kita akan bayak menemui berbagai istilah yang ada dalam sistem kekerabatan diantaranya stages along ( tingkat-tingkat sepanjang hidup individu). Ada juga istilah the life cycle yaitu masa peralihan bisa seperti masa bayi,masa kanak-kanak,remaja dan seterusnya. Dalam the life cycle juga akan dekat degan upacara-upacara yang akan berkaitan dengan kepercayaan. Sifat Universal yang ada dalam the life cycle  disebabkan karena kesadaran umum diantara semua manusia . ( Koentjaraningrat : 1972).

Upacara atau ritus-ritus yang dilakukan itu memiliki tujuan untuk menjauhkan diri dari hal yang dianggap berbahaya. Erat kaitannya dengan barang-barang sakti yang mempunyai kekuatan gaib dan hal ini juga akan berhubungan dengan kepercayaan. Sebab adat istiadat ini dianggap sebagai hal yang sakral. Tidak boleh sembarangan dengan aturan adat istiaadat karena hal ini bersifat diwariskan dan hanya sebatas tidak menjalankan tidak tahu bagaimana awalnya adat istiadat ini terjadi namun orang-orang yang melanjutkan tradisi ini memiliki kepercayaan bahwa hanya melakukannya agar tidak terkena hukum alam yang telah disimpulkan oleh nenek moyang terdahulu. Mereka sangat percaya dengan hukum alam yang sudah digariskan .

Perkawinan

Jika kita memandangnya dari sisi kebudayaan maka perkawinan merupakan pengatur kelakuan manusia yang bersangkut paut dengan kehidupan sexnya. Hal ini agar seorang laki-laki tidak sembarangan dalam bersetubuh dengan wanita.( Koentjaraningrat : 1972: 90 ). Pada dasarnya manusia memiliki keinginan untuk bisa berkeluarga . Dalam berkeluarga juga memberikan hak dan kewajiban serta perlindungan teradap anak. Hal ini keluarga sangat erat kaitannya dengan kekerabatan. Perkawinan itu memperluas jaringan kekerabatan kita .

Dalam pembahasan tentang perkawinan ini kita nantinya akan banyak menemui hal tentang pembatasan jodoh dalam perkawinan , syarat untuk kawin dan adat menetap sesudah menikah. Masalah tentang pembatasan jodoh yang ada dalam perkawinan dekat dengan istilah perkawinan yang eksogami. Artinya menikah diluar batasan suatu kelompok tertentu. Seperti yang ada dalam buku ini , Koentjaraningrat memberikan contoh pada masyarakat Batak yang tidak boleh menikahi orang yang memiliki marga yang sama. Jika dilarang akan mendapat hukuman dari nenek moyang dan ini sudah menjadi suatu kepercyaan yang telah diwariskan dari nenek moyang . Memang betul ketika kita berbicara perkawinan di luar batas lingkungan keluarga sendiri terutama untuk menghindari perkawinan incest atau perkawinan sedarah karena hal ini dianggap tidak produktif. Incest ini juga memiiki istilah yang namanya sumbang seperti yang disebutkan dalam bukunya Koentjaraningrat ini.

Untuk syarat –sayarat kawin juga akan membahas mengenai mas kawin atau bride price .Maksutnya mas kawin ini sebagai alat pengganti kerugian . Koentjaraningrat memberikan contoh mengenai masyarakat Tanimbar yang mengenal sistem pemberi dan penerima wanita dan kedua kelompok  ini akan saling memeberika persembahan sebagai hubungan timbal balik agar tetap melanggengkan hubungan kekerabatan sosial.

Dalam adat menetap menikah akan menemui banyak istilah yang perlu kita ketahui misalnya : ( Koentjaraningrat : 1972 : 103)

  1. Adat Utralokal : menetap di sekitar pusat kediaman kaum kerabat suami atau di sekitar pusat kediaman kaum kerabat istri.
  2. Adat Virilokal : menetap sekitar pusat kediaman kaum kerabat suami.
  3. Adat Uxorilokal : menetap di sekitar pusat kediaman kaum kerabat istri.
  4. Adat Bilokal : menetap dengan bergantian baik di pusat kediaman kerabat suami dan kerabat istri.
  5. Adat Neolokal : menetap di tempat baru tidak berada di sekitar kediaman kerabat suami dan istri.
  6. Adat Avunkulokal : menetap sekitar tempat kediaman saudara laki-laki ibu (avunculus) dari suami.
  7. Adat Natolokal : tinggal terpisah , suami dekat dengan kerabat suaminya dan istri juga dekat dengan kerabat istri.

Dalam kekerabatan ini sangat dipengaruhi oleh pergaulan. Semakin luas pergaulan otomatis akan semakin luas jaringan kekerabatannya. Hal ini akan mendukung perkembangan suatu kelompok kekerabatan denga bentuk yang konkret.

 

 

Rumah Tangga dan Keluarga Inti

            Rumah tangga adalah bentuk suatu kesatuan sosial dan kesatuan ini biasanya mengurus ekonomi rumah tangga. Dan uniknya Koentjaraningrat memberikan contoh masyarakat Bali yang mengenal kata “kuren” yaitu rumah tangga namun juga bisa berarti dapur. Karena dalam hal ini Koentjaraningrat menjelaskan tentang cara menghitung jumlah rumah tangga bukan dengan cara menghitung jumlah rumah atau jumlah keluarga intinya namun dilihat dari jumlah dapur yang ada . Karena jumlah dapur itu akan sesuai dengan jumlah rumah tangga yang masing-masing hidup dalam berpetak-petak. (Koentjaraningrat : 1972).

Dapat disimpulkan bahwa adanya variasi-variasi kelompok kekerabatan yang mungkin ada di dalam masyarakat. Berikut rangkumannya: ( Koentjaraningrat : 1972 : 135)

  1. Keluarga Inti ( nuclear family) , wujudnya itu kecil, warga biasanya tinggal di suatu tempat tinggal dan merupakan satu rumahtangga . Dan kemungkinan variasi itu terjadi karena adanya orientasi yang conjugal .Keluarga inti itu berupa seorang ayah,ibu,anak yang belum kawin.
  2. Keluarga Luas ( extended family), wujudnya itu kecil , warga biasanya tinggal bersama di satu tempat tinggal dan merupakan satu rumah tangga. Dan kemungkinan variasi itu terjadi karena adanya orientasi yang collateral dan memiliki adat menetap menikah berupa utrolokal,uxoriokal dan virilokal.
  3. Kindred , wujudnya itu antar warga masih bisa saling mengenal namun tinggal terpencar berkumpul kadang kala. Kemungkinan variasi itu terjadi karena adanya orientasi yang collateral  dan memiliki prinsip keturunan yang bilateral.
  4. Keluarga Ambilineal Kecil ( Minimal ramage ), wujudnya itu hampir sama dengan Kindred yang membedakan ketika brbicara mengenai Orientasi yang digunakan adalah nenek moyang ( lineal ) dan memiliki prinsip keturunan yang ambilineal.
  5. Klen kecil ( Minimal lineage,clan), wujudnya itu hampir sama juga dengan Ambilineal kecil namun yang membedakan terletak dalam prinsip keturunannya itu adalah patrilineal ,matrilineal dan bilineal.
  6. Keluarga Ambilineal Besar ( Maximal ramage ) , wujudnya itu melibatkan banyak warga yang membuat perkumpulan yang sangat besar dan tidak saling mengenal karena tmapt tinggal mereka terpencar jauh. Kemungkinan variasinya adalah adanya orientasi yang lineal namun memiliki prinsip keturunan yang ambilineal.
  7. Klen besar ( Maximal lineage, clan), wujudnya itu hampir sama dengan keluarga ambilineal besar namun yang membedakan adalah prinsip keturunannya yaitu patrilineal, matrilineal dan juga bilineal.
  8. Fratri (Phratry), wujudnya itu antar warganya tidak saling kenal karena jumlah warganya amat banyak . Selain itu tempat tinggalnya terpencar jauh dan sebagian berkumpul secara kadang kala pada upacara fratri yang besar. Kemungkinan variasianya adalah orientasinya yang lineal dan prinsip keturunannya patrilineal, matrilineal dan bilineal.
  9. Paroh masyarakat ( Moiety ). Wujudnya itu antar warganya tidak saling mengeanal karena jumlahnya yang terlalu besar dan bertempat tinggal terpencar jauh sebagian juga ada yang berkumpul secara kadang kala pada upacara moiety yang besar. Kemungkinan variasinya adalah orientasinya pada nenek moyang atau lineal dan memiliki prinsip keturunan yang patrilineal, matrilineal dan bilineal.

Menurut konsepsi G.P Murdock ada tiga penggolongan dalam kekerabatan yaitu fungsi yang bersifat koorporasi ( corporate) , yang bersifat kadang kala ( occasional) dan yang bersifat melambangkan kesatuan adat ( circumscriptive). Dalam zaman modern ini banyak fungsi sosial yang diambil alih oleh pranata sosial dan lembaga-lembaga dalam masyarakat. Misalnya mengerahkan tenaga untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dalam masyarakat kota bahkan di desa sudah jarang sekali yang masih menggunakan hubungan kekerabatan karena semakin spesifik keahlian manusia maka dapat dikerahkan dengan sistem upah .  (Kontjaraningrat : 1972 ).

      Pada bab selanjutnya akan membahas mengenai suatu kesatuan hidup setempat . Maksutnya adalah terjadi suatu kelompok yang bukan berdasarkan pada ikatan kekerabatan namun berdasarkan pada letak dimana ia tinggal. Hal ini juga sangat perlu kita ketahui untuk hal- hal yang berkaitan dengan sosial masyarakat.

BAB IV

KESATUAN HIDUP SETEMPAT

Kesatuan hidup (community) terjadi bukan karena adanya ikatan kekerabatan, tetapi karena ikatan lingkungan tempat tinggal. Bentuk komunitas ada banyak; komunitas besar (kota, negara bagian, negara, persekutuan negara-negara, dll). Komunitas kecil seperti band (kelompok berburu yang berpindah-pindah), desa, rukun tetangga, dan sebagainya.(Koentjaraningrat : 1972).

Dalam buku ini dijelaskan juga mengenai kelompok kecil artinya adalah kelompok yang warganya masih bisa saling mengenal, tidak ada aneka warna yang besar, dan dapat menghidupi sebagian besar dari lapangan – lapangan kehidupannya secara penuh.Solidaritas dalam masyarakat kecil kemungkinan besar dapat terjadi karena adanya prinsip timbal balik sebagai penggerak masyarakat yang disebabkan karena adanya rasa saling tolong menolong yang besar dan di samping itu lingkupnya yang kecil. Tolong –  menolong banyak macamnya, seperti tolong – menolong dalam aktivitas pertanian, sekitar rumah tangga, persiapan pesta dan upacara, peristiwa kecelakaan, bencana, kematian, dsb.

Kebiasaan gotong royong yang masih menjadi kebiasaan masyarakat Indonesia merupakan salah satu bentuk kerjasama dalam kehidupan sosial. Gotong royong tidak membutuhkan keahlian atau latar pendidikan yang tinggi. Semangat gotong royong merupakan sikap yang mengandung pengertian terhadap kebutuhan sesama warga masyarakat yang bersumber dari hati nurani. Memang pada dasarnya, manusia adalah makhluk sosisal yang selalu membutuhkan bantuan dari orang lain, secara sadar mereka akan saling membantu satu dengan yang lain. Salah satu kegiatan yang didapat dari jiwa gotong royong ialah musyawarah, yaitu suatu unsur sosial yang ada dalam banyak masyarakat pedesaan di dunia dan juga di Indonesia.

Pelapisan sosial muncul karena adanya pembedaan status dan peran terhadap individu satu dengan yang lain. Dan pembedaan tersebut tidaklah sama, ada yang berupa kekuasaan, kekayaan, kepandaian, dan sebagainya. Adanya perbedaan yang amat mendasar dalam suatu tingkat pelapisan sosial dinamakan social classes atau sosial takresmi. Penilaian tentang tinggi ataupun rendah pada suatu lapisan sosial takresmi oleh tiap warga tidaklah sama. (Koentjaraningrat : 1972)

Dalam beberapa masyarakat tertentu orang dengan latar belakang pendidikan tinggi bisa – bisa saja menjadi lebih tinggi tingkatannya dengan orang kaya. Di samping itu berbagai individu memiliki paradigma masing – masing yang bisa melihatnya dari berbagai perspektif, dengan kata lain sesuai dengan konteks dan konsep. Ada juga masyarakat yang lapisan dan kelas sosial itu sudah menjadi hal nyata, karena warga dari suatu lapisan atau kelas itu mendapat sejumlah hak – hak dan kewajiban – kewajiban ke dalam adat yang dilindungi oleh hukum adat atau hukum yang berlaku.

Alasan-alasan untuk susunan berlapis dapat dilihat melalui: kualitas dan kepandaian, tingkat umur yang senior, sifat keaslian, keanggotaan kaum kerabat kepala masyarakat, sifat pengaruh dan kekuasaan, pangkat, dan kekayaan harta benda.(koentjaraningrat : 1972).

Sistem pengendalian sosial; berupa adat, yang dalam prakteknya berupa cita-cita, norma, pendirian, kepercayaan, sikap, aturan – aturan, hukum, undang-undang, dan sebagainya. Berikut ini beberapa butir cara pengendalian sosial :

  1. Mengajakan kepada masyarakat tentang norma dan nilai.
  2. Mempertebal keyakinan masyarakat akan kebaikan adat istiadat.
    1. Mengembangkan rasa malu dalam masyarakat yang melakukan pelanggaran dari aturan adat istiadat.
    2. Memberi ganjaran kepada masyarakat yang biasanya taat kepada adat istiadat.
      1. Mengembangkan rasa takut dalam jiwa masyarakat yang handak menyeleweng dari adat istiadat dengan ancaman dan kekerasan. (Koentajaraningrat : 1972 : 206-209).

Selanjutnya akan membahas mengenai asal usul dari munculnya sistem religi dan ilmu gaib di dalam masyarakat. Hal ini sangat menarik karena di jaman sekarang walaupun dengan segala kemajuan teknologi dan ketrampilan manusia yang semakin berkembang ternyata masih ada masyarakat yang percaya dengan kekuatan yang ada di luar dari dirinya yang secara langsung dapat mempengaruhi kehidupannya dan membuat kita untuk berfikir bahwa ada kekauatan lain yang ada di luar diri kita kaitannya dengan nilai religi dan mistis.

BAB V

SISTEM RELIGI DAN ILMU GAIB

Dalam Bukunya, Koentjaraningrat memaparkan dasar teori yang digunakan dalam sistem religi dan ilmu gaib. Banyak pembahasan yang diterangkan oleh Koentjaraningrat dengan menggunakan metode deskripsi dan penjelasan yang dihubungkan dengan teori-teori-teori yang mendukung dan dari ahli-ahli yang memperdalam materi tersebut. Berikut teori-teori yang penting dan perlu kita ketahui bersama.Teori tentang asal mula dan inti religi yaitu : (Koentjaraningrat : 1972)

  1. Teori bahwa manusia mulai sadar akan adanya faham jiwa.
  2. Teori bahwa manusia mengakui adanya banyak gejala yang tidak dapat diterangkan dengan akalnya.
  3. Teori bahwa manusia bermaksud untuk menghadapi krisis – krisis yang ada dalam jangka waktu hidup manusia.
  4. Teori bahwa manusia kagum akan adanya gejala dan kejadian luar biasa dalam hidupnya dan alam sekelilingnya.
  5. Teori bahwa emosi yang ditimbulkan oleh getaran dalam jiwa manusia sebagai akibat dari pengaruh rasa kesatuan sebagai warga masyarakatnya.
  6. Teori bahwa manusia mendapat sesuatu yang berupa firman dari Tuhan.

 

 

Berikut ini merupakan pemaparan teori – teori sesuai dengan efek dari nama teori tersebut : ( Koentjaraningrat : 1972)

  1. 1.    Teori jiwa

Faham jiwa disebabkan karena dua hal; (1) Perbedaan yang tampak pada manusia antara hal-hal yang hidup dan hal-hal yang mati. (2) Peristiwa mimpi.

  1. 2.    Teori batas akal

Makin maju kebudayaan manusia, makin luas batas akal. Menurut Frazer ada perbedaan antara magic dan religion. Magic adalah perbuatan manusia untuk mencapai suatu maksud dengan kekuatan gaib didalam alam. Sedangkan religion adalah perbuatan manusia untuk suatu maksud dengan menyandarkan diri pada kemauan dan kekuasaan makhluk halus seperti ruh, dewa, dan sebagainya.

  1. 3.    Teori masa kritis dalam hidup individu

Ketika mengalami masa kritis dalam hidup, manusia butuh perbuatan untuk memperteguh iman dan menguatkan dirinya. Dan hal itu merupakan pangkal dari religi dan bentuk religi yang tertua.

  1. 4.    Teori kekuatan luas biasa (Marett)

Kepercayaan kepada suatu kekuatan sakti yang ada dalam gejala-gejala, hal-hal, peristiwa yang luar biasa, yang kemudian dianggap Marett sebagai suatu kepercayaan yang ada pada makhluk manusia sebelum ia percaya kepada makhluk – makhluk halus dan ruh -ruh.

 

Menurut Koentjaraningrat Unsur-unsur dasar religi; ada empat yaitu :

a.  Emosi keagamaan atau getaran jiwa yang menyebabkan manusia berlaku religi.

b.  Sistem kepercayaan atau bayangan manusia tentang bentuk dunia, alam, dan hidup

c.   Sistem upacara keagamaan yang bertujuan mencari hubungan dengan dunia ghaib berdasarkan atas sistem kepercayaan tersebut.

d.    Kelompok keagamaan atau kesatuan sosial yang mengkonsepsikan dan mengaktifkan religi beserta sistem upacara keagamaan.

Sedangkan macam – macam religi ada delapan , yaitu fetishism, animism, animatism,

prae – animism, totemism, polytheism, monotheism, dan mystic.(Koentjaraningrat: 1972)

 

            Suatu konsepsi mengenai azas religi yang berorientasi kepada sikap manusia dalam menghadapi dunia gaib atau hal Yang Gaib berasal dari teologi Rudolf Otto, yang diuraikannya dalam sebuah buku yang telah menarik perhatian kalangan luas, berjudul Das Heiliege (1917). Das Heilige yang berarti sesuatu yang suci telah memaparkan sebagian besar disiplin ilmu teologi hingga masyarakat luas sangat tertarik. Menurut Otto sendiri dalam sebuah kehidupan yang terpaut sistem religi, kepercayaan dan agama di dunia berpusat kepada suatu konsep tentang hal yang gaib (mysterium), yang dianggap dahsyat (tremendum), dan keramat (sacer) oleh manusia.(Koentjaraningrat : 1972).

Menurut Koentjaraningrat, dasar-dasar ilmu gaib ialah (a) kepercayaan kepada kekuatan sakti dan (b) hubungan sebab-akibat menurut hubungan asosiasi. Contoh perbuatan yang mempercayai kekuatan sakti (gaib) ialah membasmi penyakit dengan jimat. Terdapat dua macam magic mulai dari  teknik untuk melakukan proses tersebut dan tata cara upacaranya yaitu imitative magic dan contagious magic. Imitative magic meliputi semua perbuatan ilmu gaib yang meniru keadaan sebenarnya yang hendak dicapai. Contoh : upacara yag diadakan untuk meminta hujan dengan cara menyiram dukunnya dengan air. Contagious magic meliputi semua perbuatan ilmu gaib yang berdasarkan pendirian bahwa suatu hal itu bisa menyebabkan hal lain yang ada hubungannya yang lahir. Contoh : pemakaian katak untuk mendatangkan hujan, menusuk gambar orang agar orang tersebut sakit.(Koentjaraningrat : 1972).

 

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN BUKU

Kelebihan :

Bagi para antropolog terutama yang masih di semester awal , buku ini sangat perlu dimiliki. Hal ini dikarenakan buku yang praktis namun tercantumkan informasi yang sangat penting. Koentjaraningrat sering menggunakan contoh kasus yang memudahkan kita untuk mengeksplorasi pikiran kita dengan adanya fakta di lapangan yang tidak bisa dipungkiri.

Di dalam buku ini, Koentjaraningrat memaparkan dan menjabarkan pendapatnya secara gamblang dan jelas. Ketika pembaca sedang membaca buku ini, secara mudah otak menerima dan membenarkan apa yang dipaparkan oleh Beliau. Di dalam buku ini, banyak jterdapat sumber referensi yang ada pada footnote dan lembar atau halaman “Karangan Untuk Memperdalam Pengertian”. Koentjaraningrat menggunakan banyak sumber referensi dalam menulis buku Beberapa Pokok Antropologi Sosial, dengan ini para mahasiswa bisa merasa yakin bahwa buku yang mereka baca merupakan bacaan yang tepat. Di samping itu, Beliau memberikan penggambaran atau perumpamaan sebuah kasus dengan jelas, jadi lebih mudah dimengerti.

 

 

Kekurangan :

Buku Beberapa Pokok Antropologi Sosial ini juga memiliki kekurangan. Setiap akhir dari sebuah bab selalu ada karangan yang akan membantu pembaca untuk memperluas pemikiran dan membuka “jendela” baru. Namun, karangan yang dijadikan referensi oleh Koentjaraningrat susah untuk dicarinya. Penggunaan ejaan lama membuat pembaca sedikit kesusahan dalam mengerti arti dari kata – kata tersebut.

PENUTUP

Sebagian besar dalam buku Beberapa Pokok Antropologi Sosial ini sangat membantu para mahasiswa untuk mengenal antropologi secara mendalam namun ringan dalam segi bacaan. Buku ini merupakan buku yang sangat baik untuk pemula karena di buku ini banyak deskripsi – deskripsi, contoh – contoh kasus, dan diperkuat oleh visualisasi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“REVIEW BUKU  BEBERAPA POKOK ANTROPOLOGI SOSIAL KOENTJARANINGRAT”

 

Nama              : Anindha Lutfika Reni

Program Studi         : Antropologi Budaya

 

 

JURUSAN ANTROPOLOGI BUDAYA

 

 

 

About anindhareni

Belajar dan terus berusaha untuk menjadi manusia yang berguna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s