PETANI PEDESAAN ( PEASANT )

Di dalam suatu unsur budaya terdapat pula sub- sub unsur yang terkait di dalamnya. Dalam hal ini unsur budaya yang dipilih adalah unsur budaya yang terkelompok dalam sistem mata pencaharian. Di dalam suatu sistem mata pencaharian terdapat pula unsur-unsur lain yang berkaitan satu sama lain. Misalnya, adanya petani peasant dan cultivators. Selain itu juga kita bisa melihat jika petani itu sendiri bisa dibagi kembali dengan berbagai hal, misalnya petani itu bekerja di dataran tinggi istilah perkebunan muncul. Selain itu ketika petani itu bekerja di sawah ataupun di ladang masing-masing memiliki suatu ciri pembeda. Dalam kasus ini saya lebih memfokuskannya terhadap petani pedesaan (peasant).Petani yang berkerja di suatu desa serta lebih menyempitkannya kembali dengan proses penanaman padi petani peasant terutama di Jawa.

            Saya akan mencoba untuk mengintegrasikan sub-sub unsur dari aspek budayanya dan juga mengintegrasikan unsur-unsur yang terkandung di dalam petani peasant. Dalam hal ini saya akan banyak menggunakan istilah dan berbagai makna yang ada di dalam bukunya Eric.R.Wolf yang berjudul “PETANI Suatu Tinjauan Antropologis”. Buku ini sangat menginsipirasi saya dalam melihat suatu Petani dengan menggunakan kacamata para Antropolog. Saya akan mengulas lebih jauh untuk melihat suatu sub unsur budaya dalam aspek budaya. Seperti yang pernah Prof.Hedi Shri Ahimsa bicarakan dalam kuliahnya bahwa aspek budaya itu ada empat yaitu bahasa, gagasan , perilaku dan materi. Hal ini bisa saya simpulkan dalam bacaan yang saya jadikan sebagai suatu sumber pendukung saya dalam melihat sub unsur tersebut dari aspek-aspek budaya yang berkaitan satu sama lain.

            Dalam bukunya Eric R Wolf juga dapat disimpulkan ada beberapa point penting yang berkaitan dengan petani peasant . Yang pertama petani peasant bersifat subsisten artinya tidak begitu memikirkan profit melainkan memikirkan bagaimana bisa bertahan hidup saja. Selain itu juga adanya penguasaan surplus yang di pegang oleh negara.Petani Peasant sendiri termasuk dalam petani yang sudah menetap. Dalam masyarakat peasant sudah mengenal sistem sewa tanah. Hal ini menunjukan bahwa petani peasant bisa dikatakan lebih maju selangkah dari pada petani cultivator. Dalam pengolahan tanah para petani peasant biasanya sudah menggunakan teknik – teknik pengolahan yang tidak bergantung pada unsur hara tanah namun sudah mengenal sistem hidrolik atau irigasi sebagai alat yang memudahkan proses pengairan sawah dalam masyarakat peasant.

Di mulai dari gagasan . Kita pun perlu untuk mengetahui apa yang membedakan petani peasant dengan orang-oang primitif . Dalam hal ini menurut Eric.R.Wolf yang membedakan orang-orang primitif dengan petani peasant terletak pada sifat keterlibatannya. Di dalam bukunya , Eric.R. Wolf juga mengatakan bahwa masyarakat primitif menukarkan surplus secara langsung di antara golongan – golongan atau anggotanya. Sedangkan Petani pedesaan menyerahkan surplusnya kepada satu golongan penguasa demi menunjang kehidupan mereka. Melihat dari sudut pandang pertukaran surplusnya. Hal yang menarik dalam buku ini juga disebutkan bahwa “ Pemunculan negara yang menandai ambang peralihan antara pencocok tanam pada umumnya dan petani antara peasant dan cultivators . Dengan demikian, maka baru apabila pencocok tanam diintegrasikan ke dalam sebuah masyarakat yang mempunyai negara artinya apabila pencocok tanam itu menjadi sasaran tuntutan dan sanksi-sanksi pemegang kekuasaan di luar lapisan sosialnya, dapat kita benar-benar berbicara tentang adanya kaum tani pedesaan”. (Eric.R.Wolf : 1985 : hlm 16).

Dengan gagasan yang telah disebutkan di atas sangat menjelaskan bahwa keberadaan petani peasant ini terletak pada penguasaan suatu golongan yang berada di bawah penguasaan suatu negara . Maka dari itu petani pedesaan itu ada saat munculnya suatu negara. Dan mereka yang dijadikan sebagai sasaran dari pemegang kekuasaan yang ada di luar lapisan sosialnya. Dengan demikian menurut Eric.R.Wolf permulaan kaum tani pedesaan sekitar tahun 3500SM di Timur Dekat dan sekitar tahun 1000SM di Amerika tengah. Perlu kita cermati bahwa proses membangun negara ini bermacam-macam dan kompleks. Berbagai daerah diintegrasikan dengan menggunakan cara dan waktu yang berbeda-beda pula. Selain gagasan terdapat pula aspek budaya yang lain. Melihat dari wujud perilaku budaya seorang petani peasant. Dalam hal ini saya akan lebih menyempitkannya kembali dengan melihat wujud perilaku petani pedesaan dalam proses penanaman padi di Jawa. Berikut beberapa wujud perilaku para petani mulai dari awal hingga akhir yang pernah saya amati.

  1. Membakar sisa – sisa akar padi
  2. Mencangkul tanah dengan cangkul
  3. Membajak tanah
  4. Meratakan tanah
  5. Menyebar benih padi
  6. Menyiangi dan memberi pupuk
  7. Mengadakan upacara “wiwit”
  8. Memanen hasil padi

Dalam upacara “wiwit” sebagai wujud simbolik petani peasant dalam mensyukuri atas hasil panennya dengan mengadakan “bancakan”  atau “selamatan” . Simbol seuntai bulir padi sebagai simbol puji-pujian untuk Dewi Sri ( Dewi kesuburan / kemakmuran) . Hal ini ditunjukan oleh petani peasant khusunya di Jawa dan hanya berlaku untuk proses pemanenan padi saja.

Melihat dari segi bahasa, muncul berbagai istilah – istilah dalam bahasa jawa yang masih sering terdengar di kalangan petani peasant di Jawa. Berikut istilah-istilah yang masih saya dengar dalam masyarakat peasant:

  1. “Macul” dalam bahasa Indonesia adalah kegiatan mencangkul tanah dengan alat cangkul.
  2. “Ngluku” dalam bahasa Indonesia adalah pengolahan tanah dengan menggunakan alat luku.
  3. “Nggaru” dalam hal ini adalah meratakan kembali tanah yang telah disirami air setelah di “ngluku” tadi. Supaya tanah menjadi gembur.
  4. Nyebar winih” artinya menyebar benih – benih ke dalam tanah yang telah disiapkan
  5. “Tandur” dalam bahasa jawa ada ungkapan “Kerata Basa” yang berarti “nata” dan “mundur”. Lazimnya para petani ketika menanam padi dilakukan dengan cara ditata dan dilakukan secara mundur ke belakang.
  6. “Matun” dalam bahasa Indonesia artinya menyiangi.
  7. “Ngerabuk” artinya memberikan pupuk . Dengan harapan tanaman yang hendak di tanami dapat tumbuh subur .
  8. “Manen” artinya memetik hasil panen.

Kemudian juga akan membahas mengenai materi yang terkandung dalam sub unsur petani peasant tersebut. Materi yang saya coba temukan ada beberapa yaitu tajak,luku,cangkul,benih padi,air,pupuk,musim dan tenaga kerja. Musim termasuk dalam faktor penting dalam pertaniaan.  Hal ini dibuktikan saat muncul istilah jawa yaitu “Pranata Mangsa” yang masih sering dilakukan oleh petani peasant khusunya di Jawa. Artinya adalah penentuan dan perkiraan tentang waktu pemanenan hasil tanaman .  

BENTUK INOVASI TEKNOLOGI PERTANIAN

Dalam hal ini saya akan mengulas mengenai hasil penelitian yang telah diterapkan dan dilaksanakan oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Tengah. Materi penelitiannya adalah “Display Tanaman Varietas Padi Unggul Baru yang mempunyai bentuk mirip IR-64, potensi produksi tinggi, dan rasa nasi enak (Pulen) dengan pendekatan sesuai preferensi Jawa Tengah, yang barn dilepas (Tahun 2000-2006)”. Sasaran penelitian ini  adalah petani dan penyuluh. Pesertanya adalah Peneliti, Penyuluh, Teknisi, PPL. Lokasi penelitian di Soropadan Agro Ekpo II di Soropadan, Kabupaten Temanggung melalui Gelar Inovasi Teknologi Pertanian.Berikut adalah tujuan penelitian Balai Pengkajian Teknologi Pertaniaan Jawa Tengah:

(1) Memberikan pengalaman kepada petani, anggota kelompok tani, penyuluh, dan petugas di bidang pertanian untuk menerapkan teknologi pertanian yang direkomendasikan, sehingga petani dapat menginformasikan pengalamannya kepada petani lain agar mereka tahu, mau dan mampu menerapkan terknologi tersebut di usaha taninya. 
(2) Memperlihatkan kepada petani, penyuluh, dan petugas di bidang pertanian di bidang pertanian tentang keunggulan teknologi pertanian yang akan direkomendasikan dibandingkan dengan teknologi yang telah ada/yang biasa diterapkan petani. 
(3) Memberikan contoh kepada petani, penyuluh, dan petugas di bidang pertanian di bidang pertanian tentang cara penerapan teknologi yang direkomendasikan sehingga selanjutnya mereka dapat menerapkan dengan baik dan benar. (4) Memberikan kesempatan kepada petani, penyuluh, dan petugas di bidang pertanian di bidang pertanian untuk menilai kesesuaian teknologi yang direkomendasikan dengan kebutuhan mereka, kemampuan modal dan tenaga kerja. Menyediakan peragaan bagi pengambil kebijakan untuk penilaian terhadap kemungkinan pemanfaatan teknologi pertanian yang digelar dalam program pembangunan pertanian daerah

Keluarannya:

(1)Meningkatnya keyakinan petani, penyuluh, dan petugas di bidang pertanian di bidang pertanian akan keunggulan teknologi pertanian yang digelar/diperagakan dan kemampuannya untuk menerapkan teknologi yang digelar. (2) Meningkatnya keyakinan pengambil kebijakan mengenai manfaat teknologi yang digelar dan kemungkinan diterapkannya oleh petani, serta kesesuaiannya untuk dikembangkan melalui program pembangunan pertanian daerah. (3) Umpan balik bagi Balit/BPTP untuk penyempurnaan program penelitian pengkajian dan program peningkatan pemanfaatan inovasi hasil penelitian pengkajian dan penjaringan umpan balik.

 

 

Hal ini saya simpulkan bahwa inovasi teknologi pertanian ini sudah mempengaruhi kebiasaan dan budaya masyarakat khusunya di Soropadan, Kabupaten Temanggung. Masyarakat akan di fasilitasi penuh oleh pemerintah dalam pembangunan pertanian daerah.Hal ini akan membuat masyarakat akan lebih “melek teknologi” artinya masyarakat diajak untuk lebih berinovatif dalam proses pengolahan padi.  Seperti yang di harapkan Balit/BPTP dalam hal penyempurnaan penelitian terutama dalam varietas padi yang unggul. Yang menarik dalam penelitian ini adalah melakukan pendekatan dengan sesuai preferensi Jawa Tengah. Berarti disini menunjukan bahwa si peneliti sendiri memiliki fokusnya hanya di sekitar daerah Jawa Tengah saja, mungkin dengan berbedanya lokasi akan juga mempengaruhi dan merubahnya sistem pendekatan-pendekatan yang dilakukan. Karena masing-masing daerah memiliki cara dan pendekatannya masing-masing. Maka perlu kita ketahui betapa pentingnya pembangunan pertanian daerah yang dapat melaksanakan pembangunan daerah di tiap-tiap daerahnya.

DAFTAR PUSTAKA

Wolf, E.R. 1985. “Petani. Suatu Tinjauan Antropologis”. CV. Rajawali. Jakarta

Ir.Joko.Handoyo.2007.“InovasiTeknologiPertanianhttp://pfi3pdata.litbang.deptan.go.id/diseminasi/one/171/ . di akses pada tanggal 1 Mei pukul 19.30 WIB.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mengintegrasikan Suatu Sub Unsur Budaya Dengan Aspek Budaya dan Wujud Perubahan Budaya Akibat Adanya Suatu Inovasi atau Invention

 “PETANI PEASANT ( PEDESAAN ) DAN INOVASI TEKNOLOGI PERTANIAN DI JAWA TENGAH”

 

 

 

Disusun oleh :

Nama             : Anindha Lutfika Reni

NIM                 : 12/335149/SA/16625

Jurusan        : Antropologi Budaya

 

 

 

 

About anindhareni

Belajar dan terus berusaha untuk menjadi manusia yang berguna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s