DATA HARIAN PENELITIAN BELIK DESA BULAKAN DUSUN KALI KEJI

Jumat , 18 Januari 2013

            Hari ini saya dan rekan-rekan peneliti Belik mulai bersiap-siap untuk berangkat menuju Belik, Pemalang. Untuk pertama kalinya saya mengikuti penelitian, diselimuti rasa penasaran dan sedikit khawatir dengan pikiran negatif yang membayang-bayangi saya selama perjalanan menuju ke Pemalang . Malam nya sekitar pukul 21.00 semua peserta penelitian dikumpulkan di Gedung Plaza lantai 1 yang kemudian diberikan arahan dan penentuan partner penelitian yang akan tinggal bersama . Waktu itu partner saya adalah mbak Salwa angkatan 2011. Kami pun berbincang-bincang sebentar sebatas untuk saling memperkenalkan diri dan mencoba ntuk menjalin keakraban. Setelah dibagikan kalender,uang makan , dan penempatan dusun untuk masing-masing kita tempati kita siap untuk menuju bis yang menghantarkan kami ke Pemalang. Di dalam bis saya duduk di nomer tiga dari depan dan bersebelahan dengan teman saya Auviar. Memang waktu itu saya belum begitu mengenal dan masih sungkan untuk duduk bersama dengan partner saya mbak Salwa. Selama perjalanan, waktu banyak saya habiskan untuk tidur karena memang badan saya capek dan biasa tidur lebih awal.

Sabtu , 19 Januari 2013

Bis kami pun tiba-tiba berhenti di daerah Kebumen sekitar pukul 01.00 pagi berhenti untuk beristirahat dan memberikan kesempatan untuk ke toilet. Kemudian perjalanan dianjutkan kembali , hingga akhirnya rombongan kami telah sampai di Kecamatan Belik Pemalang sekitar pukul 03.30 pagi. Masih sangat gelap dan dingin sekali hawanya. Istirahat sebentar lalu kami tidur di salah satu ruang di kantor kecamatan tersebut. Sekitar pukul 08.30 saya sempat bertemu dengan Bapak Suhirman selaku Bapak Camat Belik. Obrolan kami pun hanya sebatas pengenalan diri dan banyak info yang saya terima dari Bapak Suhirman , terutama mengenai fokus penelitian saya di bidang Kesehatan. Bapak Suhirman menyarankan saya untuk membahas mengenai kesehatan reproduksi karena di dusun Bulakan yang saya tempati masih banyak yang nikah muda . Padahal yang saya ketahui nikah muda memiliki dampak yang berbahaya juga untuk kesehatan salah satunya adalah Kanker serviks yang bisa timbul pada ibu-ibu yang menikah muda karena waktu pematangan organisme yang belum matang sempurna yang bisa memicu kanker serviks ini muncul. Waktu itu sudah ada sedikit gambaran mengenai permasalahan yang ada di desa Bulakan sendiri. Setelah pembukaan dan penerimaan dari Bapak Camat kepada Ketua penelitian kami pun bersiap untuk ke dusun masing-masing. Sekitar pukul 10.00 saya sampai di desa Bulakan dusun Kali Keji bertemu dengan Ibu Mulyadi ( Bu Kadus ). Rumah dari Ibu Kadus inilah yang saya dan mbak salwa tempati.

Sebagai pengenalan diri dengan keluarga ini saya dan mbak Salwa mencoba membangun relasi dengan berkomunikasi dengan seluruh anggota Keluarga Bu Mulyati. Ibu Mulyati ini tinggal bersama suami dan tiga anak perempuannya yang kebetulan dua anak laki-lakinya berada di Kalimantan.Suami Ibu Mul ini bekerja sebagai petani. Ibu Mul mempunyai anak lima, yang paling sulung Mas teguh yang sudah menikah dengan Mbak Tiah yang kebetulan juga bertempat tinggal dekat dengan rumah bu Mul dan sudah di karuniai anak satu masih berumur 10 bulan namanya Yudha. Anaknya yang kedua namanya Mbak Nanda, Mbak Nanda ini juga sudah menikah padahal kelahiran 92 sudah punya anak berumur 18 bulan namanya Najuwa yang kebetulan mbak Nanda ini sedang berada di Pemalang, sebelumnya dengan suami tinggal di Kalimantan. Anak yang ketiga namanya Arifin umurnya sama seperti saya, dan sudah bekerja sebagai kuli bangunan di Kalimantan bersama mas teguh dan suami dari Mbak Nanda. Anak yang Ke empat namanya Desi kelas 4 SD di SD Negri Bulakan 3 dan anak yang paling kecil Namanya Anita masih kelas 2 SD dan sekolahnya sama dengan kakak nya .

Minggu, 20 Januari 2013

Hari ini saya dan Mbak Salwa diajak oleh bapak untuk ikut berkebun memetik jagung yang sudah panen di sawah belakang rumah. Saya lalu menggunakan sepatu booth yang memang untuk pertamakalinya saya ikut ke sawah dengan sepatu booth yang besar sambil memetik jagung bersama Bapak. Pengalaman yang indah dan tak terlupakan.

            Sekitar pukul 08.00 pagi kami kedatangan tamu Bapak Bambang yang kebetulan di kasih kabar oleh Ibu Mulyati kalau ada mahasiswa UGM yang magang di rumah beliau. Kedatangan Bapak Bambang ke rumah bu Mul untuk sosilisasi masalah kurangnya kesadaran untuk bersekolah khususnya untuk  masyarakat Kali Keji. Bapak Bambang ini adalah guru  SD Negri Bulakan 3 yang memang menjabat sebagai kepala sekola desi dan Anita. Pak Bambang sempat meminta pertolongan kepada saya dengan mbak salwa untuk ikut terjun melihat secara langsung proses pembelajaran Paket B yang memang waktu itu sedang ada pendataan untuk pendaftaran diri Ujian Nasional. Ternyata Bu Kadus di Kali keji ini juga masih ikut Paket B . Waktu itu juga semua murid yang mengikuti Paket B dikumpulkan di rumah Bu Mul untuk diberi arahan mengenai pengumpulan foto dan ijazah SD asli. Dengan kesempatan ini saya dan Mbak salwa memperkenalkan diri ke Mbak-mbak yang ikut paket B tadi. Ada mbak Lestari,Mbak Kanti, dan 12 orang lainnya. Rata-rata dari mereka semua adalah sudah menikah dan mempunyai anak. Saat yang tepat untuk saya memberikan penyuluhan singkat mengenai kesehatan reproduksi terutama dari dampak yang ditimbulkan karena nikah muda. Jika dilihat sekarang sadar kesehatan masyarakat Kali Keji mengenai pernikahan dini ini sudah cukup tinggi. Banyak sudah paham dan sadar. Saya pun berpikir dua kali untuk mengambil permasalahan kesehatan reproduksi.

            Sekitar pukul 10.00 teman-teman se desa Bulakan datang ke rumah untuk menjemput saya dan mbak salwa . Sebelum rombongan kami berkumpul di tempat koordinator lapangan, rombongan kamipun diajak Bu Mulyati untuk melihat TK yang baru saja dibangun di desa Kali Keji. Pengenalan dengan Masyarakat lebih dalam. Setelah sampai di rumah Mas Faris selaku korlap nya , kami semua berkumpul dan meminta obat untuk jaga-jaga seminggu ke depan. Sekitar pukul 12.30 pulang ke rumah masing-masing lalu saya membantu Mbak Nanda memasak untuk lauk makan siang. Mbak salwa asyik brmain dengan dek Najwa. Sekitar Pukul 16.00 saya dan mbak salwa di jemput Mas Faris untuk ikut pengajian ibu-ibu yang kebetulan diselenggarakan di tempat Mas Faris dan Ali. Di dalam pengajian ini pun kami diberi kesempatan untuk memperkenalkan diri satu persatu kepada masyarakat Bulakan .

            Pukul 19.00 berbincang –bincang dengan mbak Nanda mengenai permasalahan Mbak Nanda yang nikah muda proses dan syarat nya seperti apa. Ternyata Mbak Nanda sendiri mencuri umur untuk menikah lebih awal dari umurnya seperti SIM umur yang lbih dituakan 1 tahun dan praktik seperti ini masih ada di balai desa. Mbak Nanda pun mengakui bahwa harus ada uang jika urusannya mau kelar dan perijinan nikah mudah. Saya sedikit terkejut adanya praktik curi umur untuk menikah lebih awal dari umur yang telah di tetapkan di undang-Undang. Inilah faktor kenapa masyarakat khususya Kali Keji banyak yang bisa lolos nikah muda karena ada praktik curi umur seperti ini dan melibatkan orang dalam yang ada di balai desa. Setelah ngbrol dengan mbak nanda lalu saya melakukan pendekatan dengan Desi dan Anita dengan cara membantu mengerjakan PR yang diberikan oleh guru di sekolahnya. Saya dan mbak Salwa mengajari dan memberikan pengarahan sedikit mengenai pelajaran yang diajarkan. Saya dengan Anita dan Mbak Salwa dengan Desi. Kami berdua bagi tugas .

Senin, 21 Januari 2013

            Hari ini Mbak Salwa kurang enak badan dan disuruh sama Ibu Mul untuk beristirahat di rumah dulu. Waktu itu saya diajak sama Ibu Mul untuk ikut MUSRENBANGDES (Musyawarah Rencana Bangun Desa ) di Balai desa. Saya , Ibu Mul dan Bapak Rashman selaku Bpak RT di Kali Keji yang menemani kami berjalan kaki sampai di Balai desa. Padahal perjalanan rumah kami dengan Balai Desa bisa sampai setengah jam jika ditempuh dengan jalan kaki. Saya sangat salut dengan Bapak Rashman karena beliau sudah bermur 60th tapi masih kuat untuk berjalan sejauh itu luarbiasa.

            Di dalam Musyawarah inilah saya bisa bertemu dengan tokoh masyarakat yang ada di desa bulakan ini sendiri. Kesempatan ini pun saya manfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk mencari informan yang tepat. Kemudian saya bertemu dengan Bapak Hartono , beliau adalah orang sesepuh yang dianggap paling mengerti permaslahan desa bulakan dari jaman orde lama, orde baru , orde reformasi sampai sekarang ini. Saya salut dengan pola pikir bapak Hartono yang demokratis dan berpikir maju walaupun usia sudah tua. Selain itu saya juga di perkenalkan oleh Ibu Mul dengan bapak-bapak Kadus lainnya.

            Banyak info yang saya dapat saat Musrenbangdes ini karena saya jadi mengerti permasalahan umum di seluruh desa bulakan baik dari segala aspek. Apalagi yang saya tahu visi dan misi Bupati yang sekarang ini fokus ke Kesehatan dan Pendidikan. Yang menarik untuk saya adalah permasalahan pelayanan kesehatan tidak di bahas sama sekali yang dibahas hanyalah kesehatan lingkungan karena kurangnya kesadaran masyarakat untuk peduli dengan lingkungan terutama penggunaan air sungai yang menimbulkan limbah yang dapat berdampak buruk bagi masyarakat luas yang juga ikut menggunakan sumber air ini dari sungai.

            Di dalam Musrenbangdes ini saya jadi mengerti bagaimana watak dan perilaku masyarakat yang ada di desa Bulakan ini khususnya. Rata-rata masyarakatnya memang mudah terbawa emosi ,terlihat saat musyawarah ini berjalan ada banyak konflik yang terjadi seperti penentuan masalah yang di prioritaskan untuk diberi bantuan antar dusun pun menjadi saling gontok-gontokan atau saling ngotot untuk masalah di dusun masing-masing bisa menjadi prioritas pertama dan utama. Keadaan yang seperti ini yang menurut saya musyawarah yang kurang sehat. Model musyawarah ini memang tergolong tidak adil karena suara mana yang paling banyak itulah yang di prioritaskan sedangkan ada yang protes dari bapak Kadus Bulakan Timur yaitu Bapak Nur Rohim beliau mengatakan di bulakan timur sendiri massa nya sangat sedikit yang hadir di musyawarah pun hanya 3 orang yang mewakili dan hal yang seperti ini yang tidak diterima oleh masayarakat yang waktu itu tidak membawa massa banyak. Akhirnya Pak Rohman (Pak Kades) memberikan solusi bahwa voting ditiadakan dan dirubah dengan cara perwakilan tiap kadus untuk masuk ke dalam ruang khusus dimana di tempat tersebut setiap kudus berhak memilih 3 program termasuk dengan program yang di dusun yang lain. Waktu itu yang menjadi juru bicara adalah Bapak Slamet selaku Ketua Lembaga Kesehatan Masyarakat Belik .

            Hasil dari Musrenbangdes ini adalah ada 3 permasalahan pokok yang diterima dan disetujui oleh sebagian besar masyarakat Bulakan. Yang pertama pelebaran jalan yang ada di Dukuh Karang serta yang kedua masalah pembuatan tempat sampah permanen dan yang terakhir masalah perbaikan gedung TPA di Sawangan. Dari hasil Musrenbangdes ini saya kecewa justru permaslahan yang saya simpulkan dari semua dusun adalah permasalahan kesehatan lingkungan terutama drainase yang sangat kurang diperhatikan oleh perangkat desa. Pelayanan Kesehatan lingkungan yang sangat terbatas ini lah yang menurut saya faktor penghambat kemajuan desa Bulakan. Jalan banyak yang rusak dan kurangnya air saat musim kemarau keberadaan drainase yang seharusnya dibutuhkan malah justru tidak mendapatkan respon baik oleh perangkat desa.

            Akhirnya saya menemukan titik permasalahan kesehatan yang dialami di desa Bulakan ini sendiri di tiap desa memiliki permasalahan kesehatan yang khas terutama dari segi kesehatan lingkungan. Tempat sampah yang sangat terbatas yang membuat nyamuk dapat berkembang biak dan dapat mengakibatkan tingginya Demam Berdarah . Kurangnya kesadaran masyarakat dalam berperilaku sehat inilah yang menjadi faktor penting yang sangat mempengaruhi kesehatan lingkungan di desa ini. Saya akan membahas lebih lanjut mengenai bagaimana siasat masyarakat menghadapi permasalahan kesehatan lingkungan yang kurang di respon baik oleh perangkat desa khususnya yang di Dusun Kali Keji Bulakan.

            Setelah dari Balai desa , sekitar pukul 16.00 sore saya punya janji dengan Bapak Bambang untuk ikut di dalam melihat proses paket B yang ada di  Desa Bulakan ini sendiri. Saya dan Ibu Mul kemudian berangkat bersama ke SD Negri Bulakan 3 yang kebetulan jarak antara balai desa dengan SD cuup jauh sekitar 20 menit perjalanan dengan menggunakan ojek montor.Banyak info yang saya dapat dari Bapak Bambang mengenai kurangnya kesadaran masyarakat untuk bersekolah dan justru lebih memilih untuk menikah muda inilah yang bisa menyebabkan banyak permasalahan yang terjadi.

            Sekitar pukul 17.30 saya bersama Bu Kadus pulang kerumah dengan menggunakan ojek montor. Sampai di rumah saya langsung istirahat ke kamar karena kelelahan dan padatnya acara hari ini. Jam 18.30 kedatangan tamu dari KKN Unsoed yang kebetulan meminta bantuan tenaga kepada kami dari pihak UGM untk ikut serta dalam acara Baksos yang diadakan oleh KKN Unsoed dalam memperingati Hari Jadi Kota Pemalang yang akan diselenggarakan pada tanggal 24 Januari 2013 di Tegalan.

Selasa , 22 Januari 2013

            Hari ini ikut pergi dengan Ibu Kadus ke masyarakatnya menyensus penduduk untuk Pemilihan Gubernur Jawa Tengah. Berangkat pukul 07.00 bersama dengan Mbak Salwa. Setelah sarapan kita langsung berjalan kaki berkilo-kilo untuk membantu ibu menyensus ini karena jarak antar rumah yang sangat jauh maka dari itu hari ini akan menjadi hari yag sangat melelahkan bagi saya. Selama saya mengunjungi rumah satu per satu warga di dusun kali keji ini perhatian yang saya fokuskan pada perilaku dalam menjaga kesehatan dan kebersiha rumah terutama.

            Sepanjang perjalanan kami disuguhi oleh pemandangan yang sangat indah penuh sawah dan kebun cengkeh yang rindang serta jalan-jalan yang amat sangat rusak bahkan genengan air dimana-mana yang menganggu alat transportasi untuk lewat. Saya menjumpai jalan yang banyak genangan airnya yang menurut Ibu Kadus ini akibat dari kurangnya drainase. Drainase disini yang tidak memadai membuat jalan –jalan di sepanjang jalan dukuh kali keji ini sangat tidak terawat batu-batu besar yang dipecahkan lalu di susun menjadi jalan yang penuh dengan batu batu yang kecil. Kondisi ini yang sangat memprihatinkan.

            Setelah sampai di salah satu rumah warga usun Kali Keji ini yang bernama bapak Marwadi yang kebetulan waktu kami kunjungi sedang sakit dan beliau hidup sendiri tanpa anak dan istri. Kemudian saya disuruh Ibu Mul untuk memeriksa sebentar bagaiman keadaan bapak. Kemudian saya bilang ke Bapak dan Ibu Mul kalau saya bukan dokter walaupun penelitian saya topiknya kesehatan, tapi saya juga tahu sedikit tenang kedokteran karena memang kakak saya yang pertama dokter.Beliau menyebutkan gejala-gejala yang dialami seperti panas badan dan nyeri-nyeri di persendiaan kemudian saya menelpon kakak saya menanyakan kondisi bapak Marwadi yang kemudian kakak saya dapat menyimpulkan bahwa bapak Marwadi mengalami sakit Cikumunya yaitu sakit di persendian dengan panas badan yang tinggi, hal ini disebabkan oleh nyamuk . Lalu saya menganjurkan kepada Bapak Mawardi untuk ikut Baksos yang diadakan Unsoed yang nanti akan di tangani langsung oleh mahasiswa kedokterannya langsung serta bisa mendapatkan obat gratis.

             Sekitar pukul 11.00 , kami pun sempat beristirahat di salah satu rumah. Kami di beri suguhan jagung manis yang di kukus. Setelah beristirahat sebentar , kami pun kembali pulang dengan melewati jalan yang sama seperti berangkatnya. Sampai dirumah sekitar pukul 12.00 lalu kami makan dan beistirahat di kamar karena lelahnya sampai saya sempat tertidur . Bangun sekitar pukul 14.00 dan saya pun kembali diajak oleh ibu kadus untuk ikut ke Balai desa jam 14.30 untuk acara Sosialisasi Jamkesmas. Capek saya belum hilang langsung melanjutkan acara lagi ke balai desa karena diajak Ibu kalau menolak juga tidak enak padahal badan saya sudah tidak kuat waktu itu.

            Terpaksa saya ikut Ibu Kadus untuk menemani Ibu di acara Sosialisasi Jamkesmas yang diadakan oleh Ibu Yuni selaku Ketua PUSKESMAS Kec Belik. Kami datang terlalu awal namun Ibu Yuni juga sudah tiba, saya memanfaatkan waktu ini untuk berbincang singkat mengenai pengenalan diri dan membicarakan topik penelitian saya tentang kesehatan lingkungan. Kebetulan sekali Ibu Yuni ini bekerja di sektor kesehatan lingkungan walaupun beliau bekerja di Puskesmas. Hari itu juga saya mendapatkan nomer Hp ibu yuni ang akan saya jadikan sebagai informan utama saya. Di beri Alamat ibu Yuni, dan kebetulan rumah itu berada di Desa Si Kasur lumayan jauh. Rencana saya kesana dengan teman saya yang akan datang menjenguk saya, nama nya adalah Iwan dia tinggalnya di Kota Pemalang Bojong Bata. Sudah janjian dengan Bu Yuni tanggal 24 Januari akan melakukan wawncara di rumah beliau.

            Saya mendapatkan banyak informasi tambahan mengenai polemik yang terjadi di Masyarakat. Watak masyarakat di desa Bulakan sendiri kalau dalam bahasa jawa istilahnya “Maruk” atau rakus. Rakus dalam menerima bantuan. Saya melihat semakin banyak bantuan yang diberikan akan semakn banyak terjadi konflik yang terjadi. Bantuan itu justru merenggangkan kekrabatan timbulnya rasa iri antar tetangga serta ketidak adilan dan kurang tepatnya sasaran bantuan yang dapat menimbulkan konflik antar warga itu sendiri.

            Contoh masalah kurang tepatnya bantuan yang dipaparkan oleh bapak Azis selaku Dukuh desa Bulakan Barat. Beliau memaparkan masalah mengenai ada kasus keluarga yang mendapatkan Jamkesmas adalah anak nya sedangkan orang tua nya justru tidak mendapatkan dan anehnya Ibu Yuni tidak bisa menjawab permasalahan itu. Ibu Yuni hanya menjawab data yang di terima beliau langsung dari atasan . Dari atasan begitu yang dari pihak puskesmas hanya menerima jadi jika ada persoalan mengenai data penerima bantuan pihak puskesmas tidak tau menau. Dari sini saya mulai mengerti apa yang dirasakan oleh masyarakat di Desa Bulakan ini. Seolah – olah “ Orang miskin dilarang sakit”. Kasihan warga miskin sudah jatuh tertimpa tangga begitu yang saya rasakan.

Rabu, 23 Januari 2013

Cuaca Hari ini cerah. Pagi ini saya ikut mengantarkan Ibu Mul ke Balai Desa naik montor yang di pinjamkan dari tetangga depan rumah Ibu Mul.Waktu itu hendak menemani Ibu Mul untuk menyelesaikan data sensus penduduk yang harus dilaporkan hari ini. Di Balai desa lagi-lagi saya bertemu dengan bapak kadus yang lainnya yang memang sedang disibukan dengan pendataan sensus penduduk. Ngobrol sana sini dengan semua perangkat desa sambil menunggu Ibu Mul menyelesaikan tugasnya. Saya sempat berbincang-bincang dengan Bapak Nur Rohim (kadus bulakan timur), Bapak Azis ( Kadus Bulakan Barat ), Bapak kadus sawangan saya lupa namanya. Obrolan kami santai gojek sana sini. Orang-orang disini sangat ramah , ini yang membuat saya tidak kesulitan untuk mencari informan. Waktu itu kegiatan yang ada di balai desa ada yang sebagian perangkat desa main ping pong di pendopo balai desa dan ada juga yang hanya duduk sembari minum kopi. Memang pagi itu balai desa sepi tidak banyak orang, kata Ibu Mul balai desa itu ramai di kunjungi orang kalau ada acara penyuluhan saja.

Setelah ibu menyelesaikan pendataannya, saya diajak ibu mul untuk berkunjung ke tempat cucu Ibu Mul yang tidak jauh dari rumah . Cucu Ibu Kadus namanya adalah Yudha. Anaknya lucu tapi kata ibu sedang kurusan , katanya makannya lagi susah . Umur Yudha 10 bulan . Dengan keadaan yang kurang mampu inilah yang membuat saya untuk berfikir ingin sekali memberikan sesuatu yang lebih untuk keluarga Ibu Mul. Sepulangnya dari rumah cucu Ibu Mul , saya langsung bercerita banyak dengan mbak salwa. Mengenai rencana kami yang ingin memberika sesuatu kejutan untuk ibu Mul. Kebetulan teman saya yang asli pemalang besok mau menjenguk saya. Sekalian niat saya untuk menemani saya belanja keperluan rumah dan untuk keluarga Ibu Mul. Akhirnya kami berdua patungan untuk membeli sembako dan alat tulis serta baju bayi.

Sekitar pukul 13.30, saya dan Ibu Mul sempat mampir ke rumah Bapak Slamet(Ketua Lembaga Kesehatan Masyarakat ). Namun ternyata bapak Slamet sedang tidak ada di rumah, padahal rencana saya hendak mewancarai tentang Program Pamsimas Bulakan. Akhirnya kami pulang ke rumah dan sudah menentukan hari dan waktunya untuk bisa menemui bapak Slamet.

Kamis, 24 Januari 2013

            Hari ini saya berencana untuk mewancarai Ibu Yuni ( Ketua Puskesmas Belik). Seharusnya saya bisa ikut baksos hari ini namun karena sudah ada janji dengan Ibu Yuni dan Ibu Yuni menyanggupi untuk di wawancarai hari ini terpaksa saya tidak ikut rombongan teman-teman yang akan mengikuti baksos di Tegalan. Hasil wawancara dengan ibu Yuni adalah persoalan kesehatn lingkungan terutama di desa Bulakan sendiri yang saya duga sebelumnya ternyata memang benar. Menurut Bu Yuni permaslahan utama tentang di desa Bulakan itu sendiri adlaah faktor kurangnya kesadaran masyarkat mengenai hidup bersih berperilaku sehat. Ibu Yuni pun juga mengakui kalau kader yang di siapkan di desa-desa itu sangat kurang. Permasalahannya sekarang, masyarakat Bulakan sendiri kalu tidak ada uang tidak mau jalan kadernya, sedangkan kader di desa-desa membutuhkan banyak orang untuk terlibat. Menurut Ibu Yuni orang jaman dulu itu tingkat peduli dan suka rela nya sangat tinggi,tidak untuk jaman sekarang.

Kemudian membahas permasalahan sampah yang masayarakat Bulakan masih banyak yang membuang sampah di Sungai padahal masyarakat itu sendiri menggunakan sumber mata air juga dari sungai tersebut. Pencemaran limbah yang masih tinggi, sepert yang pernah saya jumpai ibu-ibu sedang mencuci baju di sunga lalu saya ajak ngobrol sebentar mengenai bahaya pencemaran limbah yang ditimbulkan dari sabun deterjen. Lalu saya memberikan argumen saya yang mebandingkan Bulakan dengan di kampung saya . Kebetulan sekali di kampung saya ada yang namanya “ Bank Sampah” , bank sampah ini berguna untuk menampung sampah –sampah yang ada untuk di olah kembali limbahnya untuk bisa menjadi pupuk atau menjadi suatu kerajinan yang unik dari barang-barang bekas yang dikumpulkan. Argumen saya ini sangat di tanggapi serius oleh Ibu Yuni sampai-sampai saya dimintai bantuannya untuk mengadakan penyuluhan di setiap desa di kecematan belik. Namun sangat disayangkan saya tidak lama untuk tinggal di sini, kemudian saya bilang kepada Ibu yuni alangkah baiknya ibu mengajak anak-anak Unsoed yang sedang KKN untuk dimintai pertolongannya. Ibu Yuni memang terlihat sedikit kecewa ketikaternyata saya tidak lama di pemalang. Ibu Yuni sempat mengatakan kepada saya, “Kenapa saya baru bisa ketemu kamunya sekarang? Tau gini dulu-dulu kita ketemu, pasti kita sama-sama bisa cari solusinya bersama”,kata Ibu Yuni. Saya hanya bisa tersenyum ketika menjawab pertanyaan Ibu Yuni tersebut. Ada rasa ingn ikut terlibat di dalam penyuluhan kepada masyarakat namun waktu yan membatasi saya untuk tidak bisa berlama-lama tiggal di Pemalang. Saya sangat mengharapkan lagi bisa kembali ke desa Bulakan ini dengan segala perubahan yang berkembang mejadi desa yang jauh lebih baik.

Selain itu kami juga membahas mengenai persoalan drainase yang masih sangat terbatas di desa Bulakan. Ibu Yuni menyampaikan kepada saya bahwa drainase itu sendiri ada 2 macam yaitu drainase Rumah tangga dan drainase untuk jalan Raya. Kemudian saya bercerita mengenai keprihatinan saya terhadap Musrenbangdes( Musyawarah Rencana Bangun Desa) yang tidak sama sekali menyelesaikan masalah kesehatan lingkungan padahal msing-masing dusun mengalami persoalan yang sama yaitu msalah drainase yang minim. Yang diutamakan hanyalah fasilitas sosial dan pertanian. Sebenarnya akses untuk menuju Puskesmas yang jauh itulah yang membuat enggan masyarakat bulakan untuk memeriksakan diri ke puskesmas. Saya jadi tidak heran jika ternyata di Desa Bulakan sendiri pemeriksaan Lansia dan Posyandu tidak mendapatkan respon yang baik oleh masyarakat. Iibu Yuni hanya mengatakan lagi-lagi permasalahn dana yang sangat terbatas , jika dari pihak Puskesmas bisa mengajukan dana ke sponsor mungkin uang akan bisa di dapat . Saya bisa menyimpulkan jika semua persoalan mengenai kesehatan lingkungan di dasari oleh keterbatasannya dana yang disediakan untuk perbaikan desa. Dari pukul 10.00-13.00 saya melakukan wawancara ini bersama Ibu Yuni . Rumah Ibu Yuni di daerah Desa Si kasur yang lumayan jauh dari Bulakan.

 Kebetulan saya ke rumah Ibu Yuni di antar oleh teman saya yang tinggal di pemalang namanya Iwan. Dia kebetulan guru Bk di SMA Negri 1 Pemalang. Mas Iwan ini tinggal di daerah Bojong bata dulu sempat kuliah di jogja lulus balik ke pemalang. Saya juga mendapatkan banyak info dari Mas iwan ini mengenai kuliner dan objek wisata yang ada di pemalang ini. Kesempatan ini tidak saya sia-siakan untuk berkeliling ke kotanya Pemalang dan ternyata perjalanan dari Bulakan ke kota Pemalangnya sangat jauh . Waktu perjalanan saya tempuh sekitar 1 jam.

            Saya di ajak oleh mas Iwan untuk mencoba menu makan yang namanya Grombyang. Nasi Grombyang ini bentuknya seperti soto rawon di tuangkan ke mangkung kecil lalu di tambahkan dengan babat sapi. Rasanya enak dan tergolong murah. Kata Mas Iwan yang terkenal itu di daerah utara Alun-Alun nama warungnya Pak Warso. Selain nasi grombyang juga ada lontong dekem seperti lontong sayur ada juga oleh-oleh khas pemalang Kue Kamir konon katanya kue ini di buat oleh orang-orang Arab yang bermukim di kampung Arab Pemalang. Kue ini bentuknya seperti dorayaki. Rasa nya ada bermacam-macam ada yang nanas, pisang dan lain-lain. Informasi lain mengenai objek wisata di pemalang , saya juga sempat diantar ke pantai Widuri dekat dengan jalur Pantura. Selain pantai Widuri juga ada museum batik,curung bengkawah,curug silanting,cempaka wulung(mata air), wisata kebun teh,goa baruklinting , jambe kembar dan masih banyak tempat yang belum dikelola oleh pemerintah (kata Mas iwan).

            Setelah berbincang sana-sini mengenai pemalang itu sendiri, kami pun melanjutkan perjalanan ke Toko Basa untuk membeli segala perlengkapan baju bayi untuk Najwa dan Yudha ( Cucu Ibu Mulyati ) ,lalu beli perlengkaan alat tulis untuk Anita dan Desi, kemudian beli sembako beras , gula pasir,minyak goreng, deterjen dan lain-lain. Semua kami beli untuk kejutan Ibu di rumah. Setelah lelah mengelilingi kota pemalang saya memutuskan pulang ke Bulakan. Tiba-tiba cuaca berubah menjadi hujan yang lebat. Waktu saya dan mas iwan sampai di daerah kecamatan Bantar bolang tiba-tiba angin bertiup kencang sekali dan pohon2 ada yang tumbang. Akhirnya kami sempat berteduh sebentar sembari menunggu angin kencang reda. Kemudian kami melanjutkan perjalanan kembali dan sekitar pukul 17.00 kami sampai di rumah dengan selamat.

            Sampai di rumah kejutan nya pun saya berikan , Ibu Mul sangat bahagia dan berterimaksih sekali kepada saya, Mbak Salwa dan Mas Iwan. Baju yang saya beli untuk Najwa dan Yudha syukurlah dipakai cukup.Kebetulan ada Mas Danu yang kemudian saya berbagi informasi dengan topik penelitian yang saya fokuskan dan alhamdulillahnya di setujui dan diberi banyak saran oleh Mas Danu. Malamnya kami makan malam bersama dengan mas iwan dan keluarga. Sekitar pukul 18.30 setelah shalat magrib berjamaah Mas Iwan pulang ke rumahnya di Bojong Bata.

Jumat,25 Januari 2013

            Hari ini seperti biasanya saya dengan Ibu Mul ke Balai desa. Saya diajak sama Ibu Mul untuk ikut dalam penyuluhan bantuan rumah tidak layak huni. Selama 2 minggu di Pemalang saya sudah mengunjungi penyuluhan mengenai bantuan dari pemerintah sudah 3 kali. Penyuluhan mengenai bantuan yang dibahas dalam Musrenbangdes , lalu penyuluhan bantuan Jamkesmas dan yang terakhir adalah penyuluha bantuan rumah tidak layak huni dalam waktu yang berurutan. Ini lah yang sebenarnya saya kurang setujui dengan banyaknya bantuan justru akan membiasakan masyarakat di Belik khusunya di desa Bulakan menjadikanya berpaku dan bergantung sekali dengan bantuan ini mendidik masyarakat untuk tidak mandiri terlalu mengandalkan bantuan hingga tidak ada usaha dari masyarakat itu sendiri untuk memajukan desannya secara mandiri . Dengan banyaknya bantuan yang daang juga akan berdampak tidak baik bagi kehidupan sosial di masyarakat. Timbul rasa iri dan curiga dengan antar tetangga dan dengan dukuh yang ada. Seperti yang dia alami oleh Ibu Kadus di desa saya , Ibu Mul pernah di demo masyarakatnya karena dianggap mengambil dana bantuan yang seharusnya untuk warga padahal kenyataannya ibu kadus tidak seperti itu data nama keluarga yang mendapatkan bantuan dan pembagian yang ada sudah di atur sedemikian rupa oleh pemerintah. Ibu Kadus hanyalah sebatas menerima dan tidak tahu menau mngenai proses penentuannya. Hal yang seperti inilah suatu bantuan justru merenggangkan kekerabatan. Jadi masyarakat Bulakan ini menjadi serba salah posisinya. Jika tidak ada bantuan susah kalau bantuan datang berlimpah justru timbul banyak konflik. Sangat dilematis kehidupan di Desa Bulakan ini.

Kebetulan sekali saya sudah membuat janji dengan bapak Slamet selaku Ketua Lembaga Kesehatan Masyarakat Belik yang hadir dalam penyuluhan bantuan rumah ini. Setelah penyuluhan saya pun bisa langsung mewancarai bapak Slamet. Sembari menunggu bapak Slamet selesai memberikan penyuluhan bantuan rumah tidak layak huni saya di pertemukan oleh Ibu Salamah yang memang Ibu Salamah ini bisa dibilang kaki tangan dari Bapak Slamet. Jadi saya bisa langsung mendapatkan informasi yang lengkap dari dua informan yang tepat. Hasil wawncara saya dengan Bapk Slamet dan Ibu Salamah intinya adalah Lembaga Kesehatan Masyarakat Belik ini memeliki program “PAMSIMAS” meliputi:

  1. Cuci tangan dengan sabun
  2. Jangan Buang Air Besar (BAB) Sembarangan
  3. Buanglah sampah pada tempatnya

Menurut saya pribadi seharusnya program ini perlu ditambahi dengan aturan mengenai pencemaran limbah di Sungai, Rumah tangga dan juga kebiasaan 3M yang sangat kurang dipahami dan dilaksanakan oleh masyarakat Bulakan ini.

Sabtu,26 Januari 2013

Hari ini saya berencana untuk mengunjungi kembali ke rumah ibu Yuni karena memang waktu itu saya lupa tidak memberikan kenang-kenangan sehingga saya dengan Mas Faris berkunjung sebentar ke rumah Ibu Yuni sekalian pamitan lalu kami melakukan pencarian data terakhir terhadap Bapak Hartono. Saya mengenal Bapak Hartono ketika Musrenbangdes beliau adalah tokoh masyarakat yag di segani di Desa Bulakan ini. Banyak pengalaman beliau mengenai masalah-masalah yang ada sejak orde lama, orde baru dan era reformasi ini sampai globalisasi seperti sekarang ini Bapak Hartono tau persis bagaimana baik dan buruknya perangkat desa dan perilaku masyarakatnya dari generasi tua hingga sekarang ini.

            Saya memilih informan Bapak Hartono karena menurut saya beliau ini sudah sangat mewakili dari masyarakat luas khususnya di Bulakan ini. Pengalamannya beliau mengenai  permasalahan masyarakat dari dulu hingga sekarang. Tujuan saya memilih bapak hartono selain beliau tokoh masyarakat tetapi beliau juga adalah orang yang benar-benar mengerti seperti apa dan apa solusi yang tepat untuk semua permasalahan yang ada di masyarakat. Saya senang berbincang-bincang dengan Bapak Hartono, walaupun beliau sudah dianggap sesepuh tapi pola pikir dan alur pemikirannya yang sangat diplomatis,demokratis , logis dan sangat bisa diterima.Walaupun sudah berumur tapi pemikirannya maju. Saya salut dengan beliau.

            Inti dari wawancara saya kepada Bapak Hartono adalah bagaimana masyarakat menghadapi berbagai persoalan terutama pada aspek kesehatan yang sangat mempengaruhi perilaku sehat masyarakat untuk bisa tetap survive . Salah satu contoh yang di paparkan oleh Bapak Hartono adalah mengenai kasus kurangnya kesadaran masyarakat tentang perilaku sehat yang telah di anjurkan oleh Lembaga Kesehatan Masyarakat serta penyuluhan yang di paparkan oleh kader desa di masing-masing dusun. Misalkan masalah kurangnya kesadaran masyarakat mengenai kebiasaan 3M , terutama di Kali Keji karena di masyarakat ini sering mengalami permasalahan mengenai kurangnya air bersih di saat kemarau sehingga menimbulkan kebiasaan yang tidak baik karena menguras air di saat musim hujan dianggap perilaku yang membuang-buangkan air yang menurut warga kali keji sangat di butuhkan. Sehingga hal ini mebuat air di bak-bak sangat kotor dan menjadi tempat berkembangbiakanya nyamuk. Ada solusi yang sebenarnya bisa diterapkan oleh masyarakat di desa kali keji dengan cara memberikan ikan di dalam bak berisi air karena ikan berfungsi untuk memakan bibit-bibit nyamuk yang bisa meminimalisir permaslahan masyarakat mengenai kurangnya air bersih di saat musim kemarau. Namun ada beberapa alasan yang dipaparkan oleh bapak Mul yang sengaja tidak menaruh ikan di dalam bak karena di anggap tidak suci airnya untuk wudlu karena air yang di dalam bak telah tercemar oleh kotoran ikan. Hal ini yang membuat bapak kadus kali keji enggan memberikaan ikan karena air dianggap tidak suci untuk wudlu. Sehingga solusi yang lain dengan menambahkan kaporit di dalam bak air nya, namun hal ini juga kurang di anggap efisien karena tidak bisa untuk di minum karena tercampur oleh kaporit.

            Menurut saya, dari hal di atas solusi yang mudah dan efisien adalah menutup bak air dengan triplek atau dengan seng yang bisa menutupi seluruh luas bak sehingga bibit nyamuk akan terminimalisir. Begitu yang dipaparkan oleh Bapak Hartono selaku tokoh masyarakat yang dianggap sesepuh dan memiliki banyak pengalaman di dalam bermasyarakat.Setelah melakukan wawancara terhadap Bapak Hartono, saya dan mas faris melanjutkan acara ke pengukuran tanah desa yang ada di dukuh karang. Memang waktu itu kami sudah kesiangan dan acaranya sudah selesai lalu saya memilih utuk mampir di rumah mbak Asti dan Auviar teman saya. Sembari ngobrol sana sini sambil menunggu mbak salwa partner saya selesai mengukur tanah dengan rombongan teman – teman yang lain, maka dari itu saya dan mbak salwa memilih untu menginap sehari di rumah Bapak Usman selaku kadus di Dukuh karang,karena cuaca dan hari sudah gelap dan kebetulan juga tidak ada yang menghantar saya dan mbak salwa pulang kami pun menginap di rumah bapak usman dengan meminta ijin terlebih dulu ke Ibu Mul dan saya pun mendapatkan ijin untuk menginap sehari.

            Karena saya tidak membawa celana dan baju ganti, akhirnya saya meminjam celana traning mbak Asti. Kami tidur bersama di tikar dan tidur di ruang tamu. Memang jika dibandingkan dengan tempat tinggal saya keluarga bapak usman ini bisa dibilang sudah sangat mampu tv nya pun sudah mnggunkan parabola jernih dan banyak chanel tv luar negrinya. Semua fasilitas di rumah bapak usman ini sudah sangat mampu dari kamar mandinya, kompornya,kamarnya dan fasilitas montor dan mobil yang di miliki oleh keluarga ini. Bersyukurlah teman saya yang bertempat tinggal di rumah bapak Usman ini.

 

 

 

Minggu, 27 Januari 2013

            Hari ini adalah hari untuk saya beristirahat setelah menempuh perjalanan jauh dari dukuh karang rumah bapak usman hingga ke dusun kali keji . Hampir setiap hari saya selalu ada kegiatan baik itu bertemu dengan informan, melakukan pendekatan, serta mengikuti aktivitas langsung di masyarakat seperti pengajian dan penyuluhan di balai desa. Saya manfaatkan waktu ini untuk bermain-main dengan dek Najwa sambil bernyanyi-nyanyi dan membantu Mbak Nanda untuk memasak sarapan dan makan siang. Hari ini rencananya akan diajak Ibu Mul untuk naik ke mendelem melihat pemandangan yang ada di sana sekalian menjenguk budhenya mbak Nanda , namun rencana ini di batalkan karena mbak salwa di ajak oleh tetangga depan untuk mengikuti acara 7 bulanannya ibu Kasinah yang waktu itu ngunduh pengajian. Berhubung Mbak Salwa tidak bisa , akhirnya saya pun mengurungkan niat untuk pergi ke mendelem. Lebih baik waktunya untuk saya istirahat total di rumah.

Senin,28 Januari 2013

            Waktu saya saya habiskan untuk packing persiapan pulang ke jogja mulai dari menata baju, menyuci baju yang kotor, menyetrika baju yang kusut dan dilipat rapi untuk di bawa ke jogja .    Segala aktivitas sudah saya anggap selesai dan hari ini memang khusus untuk saya beristirahat di rumah saja. Hari ini saya justru mengalami kondisi tubuh yang lemah, badan saya meriang dan flu mulai menyerang. Bahkan saya pun tak kuat untuk bangun dari tempat tidur. Mungkin ini saya terlalu lelah beraktivitas selama dua minggu yang ketika saya butuh istirahat yang banyak justru kondisi badan menjadi drop. Secepatnya juga saya meminum berbagi obat untuk menghilangkan pilek dan panas badan. Untungnya saya sudah membawa obat-obatan sendiri . Karena kondisi badan saya yang lemah saya memilih untuk tidak pergi kemana-mana. Cuaca yang berubah-ubah kadang membuat saya mudah terserang penyakit.

Selasa , 29 Jnuari 2013

Hampir setiap hari saya selalu ada kegiatan baik itu bertemu dengan informan, melakukan pendekatan, serta mengikuti aktivitas langsung di masyarakat seperti pengajian dan penyuluhan di balai desa. Hari ini saya manfaatkan untuk bermain-main dengan dek Najwa sambil bernyanyi-nyanyi dan membantu Mbak Nanda untuk memasak sarapan dan makan siang. Seharian penuh berada di rumah serta memulihkan rasa capek yang masih terasa.

 

Rabu, 30 Januari 2013

            Hari ini adalah  hari untuk kami berpamitan dengan semua perangkat desa Bulakan. Saya dan rombongan Bulakan berkumpul di Balai desa pada pukul 09.00 pagi. Kami sempat bertemu dan berbincang-bincang sekaligus untuk berpamitan karena memang hari ini adalah hari terakhir rombongan UGM ini untuk melakukan penelitian. Mas Faris selaku koordinator lapangan desa Bulakan mewakili kami semua untuk mengucapkan terimakasih dan meminta maaf jika selama ini banyak kekurangan atau hal yang kurang berkenan di masyarakat Bulakan ini.

            Setelah rombongan kami pamitan , kegiatan selanjutnya adalah mengabadikan momen pamitan ini dengan foto bersama Bapak Kades Bulakan. Kemudian kami menyalami satu persatu seluruh perangkat desa sambil bergantian mengucapkan terimaksih dan meminta maaf jika ada salah . Sedikit berat untuk meninggalkan desa ini karena terlalu banyak ilmu dan pelajaran yang saya dapat sehingga rasa kangen itu akan selalu ada hingga sudah sampai di rumah jogja.

            Rombonga kami pun mencari oleh-oleh untuk orang tua kami di rumah. Kemuian muncul ide kalau kita akan perg ke desa Beluk yang terkenal akan produksi buah nanas madunya, tak lama kemudian kami bersiap berangkat menuju desa Beluk dengan mengguakan Coak . Harga Coak sampai ke Beluk itu hanya 5rb  per orang namun kami diantar samapai rumah penjual nanas tersebut. Saya pun membeli manisan nanas dan rasanya sangat enak. Setelah rombongan kami sampai di tempat oleh-oleh , kamipun diberikan ijin untuk melihat langsung proses pembuatan manisan, kripik,dodol dan sirup nanas ini.

            Setelah beli oleh-oleh di desa Beluk , kamipun berencana untuk membeli kenang-kengan untuk orang yang di rumah pak kadus masing-masing. Seperti joe dan Mas Auli yang ingin membelikan kenang-kenangan jaket bayi yang akan diberikan untuk bapak dan ibu kadus yang kebetulan sedang hamil 7 bulan. Kami langsung menuju ke pasar dongkal untuk mebeli jaket bayi tersebut dan sesampainya pasar dongkal kami sempat mengelilingi pasar 2 kali dan akhirnya kami mendapat jaket bayi lucu berwarna biru dan berbahan halus. Awalnya harga selimut ini adalah 55rb kami pun mencoba untuk menawar jaket ini menjadi 30rb dan kami diberikan harga 35rb oleh ibu yang jual di pasar. Kami sempat mengobrol sebentar ,serta memperkenalkan diri bahwa kami adalah rombangan dari yogaya sedang melakukan penelitian. Salam hangat dari ibu yang ada di pasar tersebut. setelah mendapatkan apa yang diinginkan kami pun memilih untuk pulang ke tempat kordinator lapangan kami tinggal.

            Kami sempat makan mie ayam bersama dan bersendau gurau hingga lupa waktu. Waktu itu jam sudah menunjukan pukul 17.30 dan sebentar lagi akan adzan magrib . lalu kami memtuskan untuk segera pulang mengingat besok kita akan dijemput coak jam 7 pagi. Sekalian pamitan dengan warga sekitar saya dan Mbak Salwa pun pulang ke rumah dengan jalan kaki dari rumah yang mas faris tinggali. Akhirnya sampai rumah pukul 18.00. badan capek , pulang langsung mandi lalu shalat kemudian dilanjutkan untuk makan malam dan saya langsung tidur pulas sehabis makan dan sholat . Hari yang sangat melelahkan.

Kamis, 31 Januari 2013

            Hari ini adalah hari terakahir saya berada di Pemalang. Hari yang ditunggu-tunggupu tiba . Saya dan mbak Salwa dijemput coak pukul 08.30 . Waktu kami berpamitan dengan Ibu Mul yang memeluk saya sambil menangis seakan berat untuk melepaskan saya. Yang saya ingat betul saat ibu mengatakan kepada saya “ Kowe ki wes tak anggep koyo anak ku dewe”  ( kamu itu sudah saya anggap seperti anaknya sendiri ), itu yang dikatakan Ibu Mul kepada saya dengan mata menahan nangis. Banyak pelajaran yang saya dapat dari penelitian ini. Terlalu banyak kenangan yang terlalu manis untuk dilupakan. Harapan saya, semoga ketika saya datang kembali ke desa Bulakan ini harapannya desa ini sudah mengalami kemajuan yang pesat. Amin.Semoga Desa Bulakan ke depannya makin jaya dan makmur warganya.

                                                                                    Nama: Anindha Lutfika Reni

                                                                                    Topik : Pelayanan kesehatan masyarakat

                                                                                    NIM: 12/335149/SA/16625

                                                                                    Angkatan : 2012

a

About anindhareni

Belajar dan terus berusaha untuk menjadi manusia yang berguna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s