Petani Peasant

PETANI PEDESAAN ( PEASANT )

Di dalam suatu unsur budaya terdapat pula sub- sub unsur yang terkait di dalamnya. Dalam hal ini unsur budaya yang dipilih adalah unsur budaya yang terkelompok dalam sistem mata pencaharian. Di dalam suatu sistem mata pencaharian terdapat pula unsur-unsur lain yang berkaitan satu sama lain. Misalnya, adanya petani peasant dan cultivators. Selain itu juga kita bisa melihat jika petani itu sendiri bisa dibagi kembali dengan berbagai hal, misalnya petani itu bekerja di dataran tinggi istilah perkebunan muncul. Selain itu ketika petani itu bekerja di sawah ataupun di ladang masing-masing memiliki suatu ciri pembeda. Dalam kasus ini saya lebih memfokuskannya terhadap petani pedesaan (peasant).Petani yang berkerja di suatu desa serta lebih menyempitkannya kembali dengan proses penanaman padi petani peasant terutama di Jawa.

            Saya akan mencoba untuk mengintegrasikan sub-sub unsur dari aspek budayanya dan juga mengintegrasikan unsur-unsur yang terkandung di dalam petani peasant. Dalam hal ini saya akan banyak menggunakan istilah dan berbagai makna yang ada di dalam bukunya Eric.R.Wolf yang berjudul “PETANI Suatu Tinjauan Antropologis”. Buku ini sangat menginsipirasi saya dalam melihat suatu Petani dengan menggunakan kacamata para Antropolog. Saya akan mengulas lebih jauh untuk melihat suatu sub unsur budaya dalam aspek budaya. Seperti yang pernah Prof.Hedi Shri Ahimsa bicarakan dalam kuliahnya bahwa aspek budaya itu ada empat yaitu bahasa, gagasan , perilaku dan materi. Hal ini bisa saya simpulkan dalam bacaan yang saya jadikan sebagai suatu sumber pendukung saya dalam melihat sub unsur tersebut dari aspek-aspek budaya yang berkaitan satu sama lain.

            Dalam bukunya Eric R Wolf juga dapat disimpulkan ada beberapa point penting yang berkaitan dengan petani peasant . Yang pertama petani peasant bersifat subsisten artinya tidak begitu memikirkan profit melainkan memikirkan bagaimana bisa bertahan hidup saja. Selain itu juga adanya penguasaan surplus yang di pegang oleh negara.Petani Peasant sendiri termasuk dalam petani yang sudah menetap. Dalam masyarakat peasant sudah mengenal sistem sewa tanah. Hal ini menunjukan bahwa petani peasant bisa dikatakan lebih maju selangkah dari pada petani cultivator. Dalam pengolahan tanah para petani peasant biasanya sudah menggunakan teknik – teknik pengolahan yang tidak bergantung pada unsur hara tanah namun sudah mengenal sistem hidrolik atau irigasi sebagai alat yang memudahkan proses pengairan sawah dalam masyarakat peasant.

Di mulai dari gagasan . Kita pun perlu untuk mengetahui apa yang membedakan petani peasant dengan orang-oang primitif . Dalam hal ini menurut Eric.R.Wolf yang membedakan orang-orang primitif dengan petani peasant terletak pada sifat keterlibatannya. Di dalam bukunya , Eric.R. Wolf juga mengatakan bahwa masyarakat primitif menukarkan surplus secara langsung di antara golongan – golongan atau anggotanya. Sedangkan Petani pedesaan menyerahkan surplusnya kepada satu golongan penguasa demi menunjang kehidupan mereka. Melihat dari sudut pandang pertukaran surplusnya. Hal yang menarik dalam buku ini juga disebutkan bahwa “ Pemunculan negara yang menandai ambang peralihan antara pencocok tanam pada umumnya dan petani antara peasant dan cultivators . Dengan demikian, maka baru apabila pencocok tanam diintegrasikan ke dalam sebuah masyarakat yang mempunyai negara artinya apabila pencocok tanam itu menjadi sasaran tuntutan dan sanksi-sanksi pemegang kekuasaan di luar lapisan sosialnya, dapat kita benar-benar berbicara tentang adanya kaum tani pedesaan”. (Eric.R.Wolf : 1985 : hlm 16).

Dengan gagasan yang telah disebutkan di atas sangat menjelaskan bahwa keberadaan petani peasant ini terletak pada penguasaan suatu golongan yang berada di bawah penguasaan suatu negara . Maka dari itu petani pedesaan itu ada saat munculnya suatu negara. Dan mereka yang dijadikan sebagai sasaran dari pemegang kekuasaan yang ada di luar lapisan sosialnya. Dengan demikian menurut Eric.R.Wolf permulaan kaum tani pedesaan sekitar tahun 3500SM di Timur Dekat dan sekitar tahun 1000SM di Amerika tengah. Perlu kita cermati bahwa proses membangun negara ini bermacam-macam dan kompleks. Berbagai daerah diintegrasikan dengan menggunakan cara dan waktu yang berbeda-beda pula. Selain gagasan terdapat pula aspek budaya yang lain. Melihat dari wujud perilaku budaya seorang petani peasant. Dalam hal ini saya akan lebih menyempitkannya kembali dengan melihat wujud perilaku petani pedesaan dalam proses penanaman padi di Jawa. Berikut beberapa wujud perilaku para petani mulai dari awal hingga akhir yang pernah saya amati.

  1. Membakar sisa – sisa akar padi
  2. Mencangkul tanah dengan cangkul
  3. Membajak tanah
  4. Meratakan tanah
  5. Menyebar benih padi
  6. Menyiangi dan memberi pupuk
  7. Mengadakan upacara “wiwit”
  8. Memanen hasil padi

Dalam upacara “wiwit” sebagai wujud simbolik petani peasant dalam mensyukuri atas hasil panennya dengan mengadakan “bancakan”  atau “selamatan” . Simbol seuntai bulir padi sebagai simbol puji-pujian untuk Dewi Sri ( Dewi kesuburan / kemakmuran) . Hal ini ditunjukan oleh petani peasant khusunya di Jawa dan hanya berlaku untuk proses pemanenan padi saja.

Melihat dari segi bahasa, muncul berbagai istilah – istilah dalam bahasa jawa yang masih sering terdengar di kalangan petani peasant di Jawa. Berikut istilah-istilah yang masih saya dengar dalam masyarakat peasant:

  1. “Macul” dalam bahasa Indonesia adalah kegiatan mencangkul tanah dengan alat cangkul.
  2. “Ngluku” dalam bahasa Indonesia adalah pengolahan tanah dengan menggunakan alat luku.
  3. “Nggaru” dalam hal ini adalah meratakan kembali tanah yang telah disirami air setelah di “ngluku” tadi. Supaya tanah menjadi gembur.
  4. Nyebar winih” artinya menyebar benih – benih ke dalam tanah yang telah disiapkan
  5. “Tandur” dalam bahasa jawa ada ungkapan “Kerata Basa” yang berarti “nata” dan “mundur”. Lazimnya para petani ketika menanam padi dilakukan dengan cara ditata dan dilakukan secara mundur ke belakang.
  6. “Matun” dalam bahasa Indonesia artinya menyiangi.
  7. “Ngerabuk” artinya memberikan pupuk . Dengan harapan tanaman yang hendak di tanami dapat tumbuh subur .
  8. “Manen” artinya memetik hasil panen.

Kemudian juga akan membahas mengenai materi yang terkandung dalam sub unsur petani peasant tersebut. Materi yang saya coba temukan ada beberapa yaitu tajak,luku,cangkul,benih padi,air,pupuk,musim dan tenaga kerja. Musim termasuk dalam faktor penting dalam pertaniaan.  Hal ini dibuktikan saat muncul istilah jawa yaitu “Pranata Mangsa” yang masih sering dilakukan oleh petani peasant khusunya di Jawa. Artinya adalah penentuan dan perkiraan tentang waktu pemanenan hasil tanaman .  

BENTUK INOVASI TEKNOLOGI PERTANIAN

Dalam hal ini saya akan mengulas mengenai hasil penelitian yang telah diterapkan dan dilaksanakan oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Tengah. Materi penelitiannya adalah “Display Tanaman Varietas Padi Unggul Baru yang mempunyai bentuk mirip IR-64, potensi produksi tinggi, dan rasa nasi enak (Pulen) dengan pendekatan sesuai preferensi Jawa Tengah, yang barn dilepas (Tahun 2000-2006)”. Sasaran penelitian ini  adalah petani dan penyuluh. Pesertanya adalah Peneliti, Penyuluh, Teknisi, PPL. Lokasi penelitian di Soropadan Agro Ekpo II di Soropadan, Kabupaten Temanggung melalui Gelar Inovasi Teknologi Pertanian.Berikut adalah tujuan penelitian Balai Pengkajian Teknologi Pertaniaan Jawa Tengah:

(1) Memberikan pengalaman kepada petani, anggota kelompok tani, penyuluh, dan petugas di bidang pertanian untuk menerapkan teknologi pertanian yang direkomendasikan, sehingga petani dapat menginformasikan pengalamannya kepada petani lain agar mereka tahu, mau dan mampu menerapkan terknologi tersebut di usaha taninya. 
(2) Memperlihatkan kepada petani, penyuluh, dan petugas di bidang pertanian di bidang pertanian tentang keunggulan teknologi pertanian yang akan direkomendasikan dibandingkan dengan teknologi yang telah ada/yang biasa diterapkan petani. 
(3) Memberikan contoh kepada petani, penyuluh, dan petugas di bidang pertanian di bidang pertanian tentang cara penerapan teknologi yang direkomendasikan sehingga selanjutnya mereka dapat menerapkan dengan baik dan benar. (4) Memberikan kesempatan kepada petani, penyuluh, dan petugas di bidang pertanian di bidang pertanian untuk menilai kesesuaian teknologi yang direkomendasikan dengan kebutuhan mereka, kemampuan modal dan tenaga kerja. Menyediakan peragaan bagi pengambil kebijakan untuk penilaian terhadap kemungkinan pemanfaatan teknologi pertanian yang digelar dalam program pembangunan pertanian daerah

Keluarannya:

(1)Meningkatnya keyakinan petani, penyuluh, dan petugas di bidang pertanian di bidang pertanian akan keunggulan teknologi pertanian yang digelar/diperagakan dan kemampuannya untuk menerapkan teknologi yang digelar. (2) Meningkatnya keyakinan pengambil kebijakan mengenai manfaat teknologi yang digelar dan kemungkinan diterapkannya oleh petani, serta kesesuaiannya untuk dikembangkan melalui program pembangunan pertanian daerah. (3) Umpan balik bagi Balit/BPTP untuk penyempurnaan program penelitian pengkajian dan program peningkatan pemanfaatan inovasi hasil penelitian pengkajian dan penjaringan umpan balik.

 

 

Hal ini saya simpulkan bahwa inovasi teknologi pertanian ini sudah mempengaruhi kebiasaan dan budaya masyarakat khusunya di Soropadan, Kabupaten Temanggung. Masyarakat akan di fasilitasi penuh oleh pemerintah dalam pembangunan pertanian daerah.Hal ini akan membuat masyarakat akan lebih “melek teknologi” artinya masyarakat diajak untuk lebih berinovatif dalam proses pengolahan padi.  Seperti yang di harapkan Balit/BPTP dalam hal penyempurnaan penelitian terutama dalam varietas padi yang unggul. Yang menarik dalam penelitian ini adalah melakukan pendekatan dengan sesuai preferensi Jawa Tengah. Berarti disini menunjukan bahwa si peneliti sendiri memiliki fokusnya hanya di sekitar daerah Jawa Tengah saja, mungkin dengan berbedanya lokasi akan juga mempengaruhi dan merubahnya sistem pendekatan-pendekatan yang dilakukan. Karena masing-masing daerah memiliki cara dan pendekatannya masing-masing. Maka perlu kita ketahui betapa pentingnya pembangunan pertanian daerah yang dapat melaksanakan pembangunan daerah di tiap-tiap daerahnya.

DAFTAR PUSTAKA

Wolf, E.R. 1985. “Petani. Suatu Tinjauan Antropologis”. CV. Rajawali. Jakarta

Ir.Joko.Handoyo.2007.“InovasiTeknologiPertanianhttp://pfi3pdata.litbang.deptan.go.id/diseminasi/one/171/ . di akses pada tanggal 1 Mei pukul 19.30 WIB.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mengintegrasikan Suatu Sub Unsur Budaya Dengan Aspek Budaya dan Wujud Perubahan Budaya Akibat Adanya Suatu Inovasi atau Invention

 “PETANI PEASANT ( PEDESAAN ) DAN INOVASI TEKNOLOGI PERTANIAN DI JAWA TENGAH”

 

 

 

Disusun oleh :

Nama             : Anindha Lutfika Reni

NIM                 : 12/335149/SA/16625

Jurusan        : Antropologi Budaya

 

 

 

 

Advertisements

review buku antropologi kontemporer

PENDAHULUAN

            Buku ini berjudul “ Antropologi Budaya Suatu Prespektif Kontemporer“ yang ditulis oleh Roger.M. Keesing dan Samuel Gunawan telah tercetak edisi kedua dengan tebal halaman 288. Di dalamnya terdapat sebelas bab yang mengkaji lebih dalam mengenai Antropologi Kotemporer. Buku ini sebagai acuan dan panduan bagi para antropolog untuk memahami konsep budaya dengan prespektif kontemporer. Buku ini diterbitkan pada tahun 1981.

BAB 1

Pendekatan Antropologis

            Dulunya , Antropologi dikenal dengan kajian tentang orang-orang yang “primitif “ namun jika dilihat kembali di jaman sekarang itu ilmu antropologi mulai banyak mengalami perkembangan. Dimana Antropologi dianggap sebagai suatu bidang pengetahuan. Sebelum membahas lebih jauh, kita memang perlu tahu yang menjadi perbedaan mendasar mengenai pengetahuan dan ilmu pengetahuan itu apa saja. Perbedaan yang mendasar ketika ilmu pengetahuan itu bersifat empiris dan terbuka dengan memperhatikan prosedur dan metode yang ada.  Antropologi juga memiliki berbagai cabang dalam pengkajiannya.

Pertama mengenai Antropologi Fisik atau bisa dibilang kerjanya menganalisis dalam bidang biologi manusia mengenai perilaku, ras,serta spesialisasi dalam berbagai segi masyarakat dan menitikberatkan ke bidang budayanya. ( Roger.M.Keesing, Samuel Gunawan : 1992 : hlm. 2). Menurut saya hal ini bisa dikaitkan dengan munculnya ilmu forensik dalam dunia kedokteran , dalam kajian ilmu ini perlunya melibatkan ahli budaya dalam menentukan ras dan budayanya secara fisik manusia walaupun hanya dengan melakukan pengamatan langsung terhadap anggota tubuh.

            Kedua, Mengenai Antropologi Budaya. Di dalam Antropologi Budaya sendiri memiliki cabang-cabang lagi yang lebih spesifik di dalam pembagiaanya. Ada tiga cabang yaitu Antropologi Sosial, Arkeologi ( Pra Sejarah) , serta Linguistik Antropologi. Jika digambarkan secara lebih jelas bentuk pencabangannya seperti berikut ; ( Roger.M.Keesing, Samuel Gunawan : 1992 : hlm. 3).

 

 

 

ANTROPOLOGI BUDAYA

ANTROPOLOGI FISIK

 

ANTROPOLOGI

 

 

 

                                                                                              

LINGUISTIK ANTROPOLOGI

 

ANTROPOLOGI SOSIAL

 

ARKEOLOGI (PRASEJARAH)

 

 

 

 

 

 

  

 ( Roger.M.Keesing, Samuel Gunawan : 1992 : hlm. 3)

Dilihat dari bagan di atas bahwa antropologi sosial itu sendiri masih bercabang lagi menjadi beberapa komponen lagi misalnya ; Antropologi Hukum, Antropologi Politik, Antropologi Ekonomi, Antropologi Psikologi, Antropologi Ekologis dan lain-lain. Antropologi memiliki beberapa ciri yang dapat membedakan ilmu ini dengan ilmu yang lainnya. Perbedaan yang paling mendasar antara ilmu  Antropologi dengan ilmu yang lain terletak pada hasilnya berupa “ETNOGRAFI” seperti yang dikatakan oleh Heddy Shri Ahimsa dalam kuliahnya.

Etnografi adalah proses perekaman dan penafsiran tata cara kehidupan orang lain. Antropologi ini juga lebih bersifat kemanusiaan tidak mengedepankan ukuran melainkan makna.(Robert. M . Keesing dan Samuel Gunawan : 1992 : hlm. 4) .

Antropologi juga melakukan suatu penelitian untuk mendukung teori yang ada ,pembuktian dan pencarian data. Dalam masa sekarang ini, perhatian Antropologi terletak pada kemanusiaan yang melihat dari potensi atau kondisi yang dimiliki manusia dengan mengingat struktur masyarakat masa silam dan masa kini, karena ini semua akan menjadi petunjuk dalam mencari masa depan yang lebih baik. Karena masa depan kita, jika kita ingin mampu mengatasi krisis-krisis yang ada pada masa kini ataupun  di masa – masa mendatang , harus dibangun secara kreatif berdasarkan kekuatan masa lampau, dan pada waktu yang sama belajar dari dan menebus sejarah penindasan dan kebodohan.” ( Roger.M.Keesing, Samuel Gunawan : 1992 : hlm. 9).

Dalam bab selanjutnya kita akan membahas mengenai evolusi manusia. Ketika kita akan mengkaji lebih jauh tentang manusia yang dijadikan sebagai subjek dalam disiplin ilmu ini kita juga harus tahu mengenai kronologis dari evolusi manusia itu sendiri. Bagaimana manusia itu mulai muncul dan berkembang hingga sekarang ini.

BAGIAN I

PRESPEKTIF EVOLUSIONER

Sebagai suatu pengantar mengenai evolusi manusia yang disajikan dengan garis besar kronologi, urutan dan proses budayanya. Secara ringkas dan selektif akan membahas mengenai kerangka waktu dan urutan perkembangan tradisi budaya. Dalam buku ini juga akan membahas mengenai penggunaan suatu simbol dalam evolusi tersebut. Dalam kajian ilmu antropologi fisik yang dipelajari adalah evolusi budaya. Termasuk dalam hal ini baik masa pra sejarah hingga masa sekarang. ( Roger M. Keesing , Samuel Gunawan : 1992 : hlm. 11).

BAB 2

EVOLUSI MANUSIA

Sebelum kita membahas lebih lanjut mengenai Evolusi Manusia, perlunya kita tahu tentang kaitannya manusia  dengan evolusinya .Evolusi Manusia bisa dibuktikan dengan adanya perubahan yang terlihat dalam tahap-tahap evolusi manusia. Selanjutnya akan dibahas mengenai tahapan-tahapan tersebut mulai dari manusia yang dikatakan sebagai makhluk “primat” hingga menjadi manusia yang modern seperti sekarang ini. Berikut ulasannya lebih dalam mengenai kronologis evolusi manusia. Manusia bisa di golongkan ke dalam garis keturunan Hominid.

            “Ramapithecus , makhluk dari pinggiran hutan tropis, tersebar luas di Afrika dan Asia selatan. Ramapithecus kemungkinan besar adalah binatang yang hidup di pohon-pohon , tetapi jelas bahwa ia bisa berkeliaran di atas permukaan tanah untuk mencari makan dan dapat berjalan di atas kedua kakinya. Bisa jadi Ramapithecus ini adalah nenek moyang langsung garis keturunan dari manusia dan kera” (Roger M. Keesing , Samuel Gunawan : 1992 : hlm. 13). Simpanse dianggap sebagai hewan yang memiliki kekerabatan paling dekat dengan manusia ketimbang orang utan.

            Pada dasarnya yang membuat manusia itu punya ciri yang khas ketika dalam penggunaan bahasa dan simbol-simbol. Hal ini terbukti dalam kehidupan para “primat” yang sudah bisa melakukan komunikasi dengan kelompok-kelompok dengan penggunaan bahasa serta pemanfaatan simbol yang ada , sehingga dalam hal ini bisa kita bisa menyimpulkan bahwa  bahasa dan simbol inilah faktor utama dalam evolusi manusia. Munculnya tradisi budaya serta organisasi sosial yang dilakukan oleh “primat” pada waktu itu. Kita akan membandingkan sistem jalinan antara hominid dengan manusia.  Makhluk Hominid dan kera besar ini  memiliki dua sistem jalinan psikis yaitu:

Jalinan psikis Homonid dan Kera besar à membentuk ikatan sosial dan ikatan sebaya , di dalam pembentukan ikatan sosial muncul lah ikatan primer yaitu ikatan antara induk dengan anaknya. Setelah adaya ikatan sebaya , kemudian ada ikatan yang namanya ikatan dewasa .

Jalinan psikis Homonid dan Kera besar à membentuk ikatan dewasaà ikatan pasangan hidup dan ikatan kebapakan dengan anak-anaknya.

Jalinan psikis manusia à munculah sistem kekerabatan

            Dengan demikian, kita membutuhkan cara untuk mengetahui seberapa jauh manusia mengkoreksi diri ketika evolusi terjadi dengan kondisi biologis kita sekarang. Oleh karena itu , munculah berbagai varian – varian budaya serta perkembangan mengenai budaya itu sendiri akan dibahas di bab selanjutnya.

BAB 3

PERKEMBANGAN BUDAYA

Dalam hal ini, disebutkan bahwa kita akan melihat bagaimana teknologi manusia serta kompleksitas sistem sosial yang lambat laun akan terus berkembang. Perkembangan ini bisa dilihat sejak manusia purba,Neanderthal dan Paleolitik baru .Pertama kita bahas mengenai teknologi manusianya adalah Manusia purba. Dalam jaman manusia purba , teknologi yang sudah berlangsung seperti ditemukannya kapak genggam yang digunakan sebagai alat pemotong . Hal ini bisa disimpulkan bahwa adanya kapak genggam memang membuktikan sudah adanya perkembangan teknologi di masa itu.

Dalam jaman manusia Neanderthal juga mempunyai beberapa bukti yang sekiranya bisa kita lihat perkembangan teknologinya di masa itu. Hal ini terlihat dalam segala piranti yang ada sudah lebih halus lebih khusus lagi fungsinya. Dengan perkembangan teknologi ini kita bisa menemukan adanya peningkatan intelegensi dan dalam berinteraksi atau berkomunikasi.

Dalam jaman Paleolitik baru sudah mengenal tradisi dan upacara adat. Hal ini bisa kita lihat dari hasil penemuan batu pipih yang maju. Alat ini digunakan untuk segala aktivitas manusia paleolitik baru ketika semakain banyak binatang –binatang jenis besar.

Selain dilihat dari perkembangan teknologi sekarang, kita akan melihat juga dari sisi produksi pangannya. Asal mulanya sebenarnya berawal dari bercocok tanam dan sebagai peramu. Produksi pangan dijadikan sebagai pmbawa perubahan masyarakat. Selain teknologi dan produksi pangan kita juga bisa melihatnya dari urbanisme yang mempengaruhi terbentuknya negara. Seperti yang ada dalam buku Kessing.1981.hlm.49.

                                                 BAGIAN II

                            Budaya,Masyarakat,dan Individu

Pemahaman mengenai pengertian budaya , masyarakat dan individu . Selain mengetahui konsep dasar mengenai budaya kita akan membahas mengenai struktur pikiran dan bahasa yang mempengaruhi evolusi budaya seperti yang sudah dijelaskan dalam bab sebelumnya. Di bab selanjutnya kita akan membahas mengenai bagaimana hubungannya manusia dengan budaya dengan adanya sistem pengetahuan yang juga dapat mempengaruhi perkembangan budaya itu sendiri.

BAB 4

Budaya dan Manusia : Beberapa Konsep Dasar

Dalam hal ini , budaya lebih diartikan sebagai suatu pengalaman yang dipelajari . karena hal ini mengacu pada pola-pola perilaku masyarakat yang terjadi ketika hubungan sosial berlangsung. Pentingnya memahami sandi budaya guna untuk belajar memahami budaya lain diluar persepsi kita dan hal itu memang sulit ketika kita paling tidak bisa memahami tentang presepsi diri kita sendiri. Etnosentrisme adalah cara melihat aspek kehidupan di dalam masyarakat lain dengan memperhatikan budaya sendiri. Dengan mempelajari suatu sandi budaya jika kita refleksikan kembali dengan baik kepada diri sendiri akan menjadi suatu pembelajaran diri terhadap lingkungan budaya yang ada.

“Budaya terdiri dari gagasan – gagasan dan makna yang dimiliki bersama. “ ( Robert.M.Keesing : tahun 1992:hlm 70). Yang bisa kita amati dalam hal memaknai budaya sebagai suatu sistem yang dimiliki bersama adalah pola yang terjadi serta bentuk-bentk tindakan yang mempengaruhi terbentuknya budaya itu sendiri. Hal tersebut bisa dimaknai secara kesepakatan bersama dalam suatu pembentukan budaya. Budaya pada dasarnya ada karena di konstruksikan sendiri oleh masyarakat . Selain sebagai milik bersama budaya juga milik publik dan perorangan

Perlunya kita untuk bisa memahami budaya sebagai suatu proses sosial yang terjadi di masyarakat. “Kita juga perlu memahami distriusi pengetahuan budaya di dalam masyarakat , agar kita bisa mengkonseptualisasikan proses-proses penyaluran dan perubahan budaya serta mengkaitkan semua tadi dengan berbagai kenyataan politik dan ekonomi “(Robert.M.Keesing:1992:hal 73 ). Hubungan yang ada antara budaya dengan masyarakat ketika peran identitas dan kelompok juga terlibat sebagai perantara keduanya.

“Kelompok sosial adalah sekumpulan individu yang mengadkan hubungan secara berulang-ulang dalam perangkat hubungan identitas yang bertalian. Sistem sosial adalah sistem yang terjadi diantara hubungan suatu identitas dengan kelompoknya. “(Robert.M.Keesing:1992:hal 74).

Dengan kita memahami proses sosial kita akan dengan sendirinya mengetahui apa itu identitas dan hubungannya dengan sistem sosial. Pentingnya perkembangan pengetahuan untuk dapat melihat kembali budaya yang dipetakan secara baik . Dalam bab berikutnya kita akan mempelajari yang namanya bahasa dan komunikasi. Hal ini juga sangat dianggap vital karena adanya hubungan interaksi ini yang dapat membentuk suatu budaya yang dibentuk dan dimiliki secara bersama-sama.

BAB 5

BAHASA DAN KOMUNIKASI

Seperti yang pernah Prof. Heddy Shri Ahimsa sampaikan dalam kuliahnya bahwa bahasa adalah salah satu wujud dari budaya. Dengan mempelajari bahasa sebagai indikator budaya yang paling mudah dicermati.Bunyi sebagai bentuk bahasa yang empiris. Linguistik dengan Antropologi juga menjadi kolerasi yang sangat penting dan mendasar ketika kita belajar bahasa kita akan dapat memperoleh suatu pengetahuan yang terus berkembag “ Semenjak tahun 1960 , revolusi pemikiran dalam linguistik memaksa ditinggalnya berbagai asumsi tentang bahasa dan pertaliannya dengan budaya lain.Revolousi pemikiran linguistik dapat berguna untuk memberikan penjelasan formal mengenai suatu pengetahuan bahasa dengan seperangkat kaidah-kaidah yang eksplisit” (Robert.MM.Keesing : 1992:hlm 78).

Bahasa memiliki beberapa prinsip pokok, antara lain mengenai arti bahasa itu sendiri. “Bahasa adalah suatu sandi yang konseptual , sistem pengetahuan (yang terutama tidak disadari )yang memberikan kesanggupan pada penutur dan pendengar guna menghasilkan dan memahami ujaran-ujaran tersebut.”(Robert.M.Keesing:1992:hlm 78). Dalam hal ini bisa kita pahami bahwa bahasa digunakan sebagi alat untuk mendapatkan suatu pengetahuan. Dengan kita mempelajari bahasa lain maka kita akan mengetahui budaya orang lain seperti apa.” Tujuan teori linguistik adalah menyusun suatu teori tentang bahasa , tentang bagaiman susunan bahasa itu. “ (Robert .M.Keesing:1992:78). Dalam hal ini bahasa dianggap sebagai suatu sistem yang konseptual yang ada dalam proses tersebut.

Beberapa bahasa mempunyai sistem kata kerja yang kompleks atau penggolongan kata ,sederhananya adalah “aglutinatif” yang berarti tentang penggabungan sederet imbuhan. (Robert .M.Keesing :1992:hlm 79). Hal tersebut juga bisa kita lihat dengan banyak majas yang dipelajari dalam bahasa. Berbagai majas bisa dibilang sebagai salah satu bentuk bahasa yang beranekaragam. Seperti halnya masing-masing majas memilki maknanya masing-masing , kadang juga kita dapat menemukan bahasa yang denotatif atau makna yang sesungguhnya sebaliknya konotatif yang memilki makna yang tak sesungguhnya atau hanya sekedar suatu ungkapan.

Dengan bahasa kita dapat menemukan suatu budaya, maksutnya adalah kita akan melihat perkembangan bahasa dengan berkembangnya suatu budaya. Dengan bahasa kita akan dapat menemukan suatu gagasan, pengetahuan yang terus berkembang dan baru. Terbukti dengan hal tersebut kita dapat mencermati suatu gejala budaya yang terjadi di dalam masyarakat. “ Dalam strukturalisme yang dipelopori oleh pakar antropologi perancis Claude Levi Strauss, tata bunyi telah digunakan sebagai model konseptual guna memahami budaya,presepsi, dan sifat pikiran manusia. Dalam bidang simbolik budaya khusunya mitos dan ritual pikiran manusia mengolah kontras dan menyelidiki berbagai kontradiksi.”(Robert M Keesing:1992:hlm 82). Suatu pemikiran dan pemahaman adalah suatu bentuk kekreatifan manusia dalam menentukan suatu teori yang dapat menunjukan adanya perkembangan budaya. Semantik dalam etnografi baru juga perlu kita pahami.

Dengan kita berupaya menggunakan berbagai bahasa untuk berjelajah dan mencari tahu struktur yang ada di dalam bangsa lain kita akan dapat merefeleksikan diri dengan bagsanya sendiri.  Bahasa juga mempermudah kita untuk belajar budaya lain seperti halnya dengan etnosentrisme. Bahasa juga sebagai suatu unsur pembeda budaya yang satu dengan budaya yang lain. Butuhnya keteraturan antar budaya yang dapat kita lihat dari adanya spesifikasi suatu budaya termasuk unsur-unsur yang ada di dalamnya.

Bahasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari hal ini dibuktikan dengan adanya bahasa dalam sistem sosial masyarakat. Teori bahasa transformasional berpendapat bahwa fungis utama bahasa adalah pengacu.: membuat berbagai proporsisi mengenai dunia. Teori bahasa pada dasarnya tida mempermasalahakan situasi yang ada namun melihat dari hubungan antar kalimatnya. “ (Robert.M. Keesing:1992)

Komunikasi ada dua yang bahasa dan non bahasa. Dan yang non bahasa bisa berupa suatu gerakan-gerakan yang  dapat kita pelajari dari simpanse yang dalam masa purbanya mengalami  evolusi budaya. Pengaruh komunikasi yang seperti inilah yang memudahkan budaya terbentuk. Dengan penggunaan ruang gerak berupa fisik dalam sistem dan struktur sosial. Kita hidup untuk bersosial perlunya komunikasi untuk saling berinteraksi satu sama lain. “ Sebagaimana kita lihat dalam bab yang sebelumnya ,kita harus mengingat bahwa dalam dunia nyata –yang berbeda dari dunia imajiner yang berupa abstraksi konseptual dan penyederhanaan ilmiah- pengetahuan budaya yang bersifat distributif. Guna menafsirkan masalah-masalah tertentu para pakar bahasa merasakan perlunya mengkaji berbagai sandi bahasa” (Robert .M keesing :1992:hlm 91-92).dan hal tersebut sangat perlu dipelajari oleh para antropolog.

Dalam bab selanjutnya, akan dibahas mengenai pentingnya kepribadian dalam proses budaya. Mulai dari budaya dan kepribadian dalam melintasi internalisasi budaya serta pengaruh-pengaruh kepribadiannya seperti apa saja dan pembentukan tradisi-tradisi budaya di dalam suatu masyarakat dibentuk yang semakin lama akan mengalami suatu perubahan.

BAB 6

BUDAYA DAN INDIVIDU

            Setiap manusia pasti berbudaya, dalam hal ini bisa dipengaruhi oleh suatu kepribadian masing-masing individu. Alangkah baiknya jika kita akan melihat budaya orang lain dengan dasar kepribadian yang kuat akan memudahkan kita untuk bisa melihat budaya orang lain tanpa harus mengikis kepribadian kita. Kita juga akan membahas mengenai proses terbentuknya budaya dalam masyarakat seperti adat isti adat yang lambat laun akan juga mengalami perubahan.

            Biasanya perubahan-perubahan ini disebabkan oleh adanya interaksi yang mungkin dapat mempengaruhi individu satu dengan yang lain. Di dalam konteks buku ini, menurut keesing kepribadiaan dipandang sebagai suatu internalisasi budaya dimana di dalamnya kita perlu belajar dan memahami tingkah laku kita untuk mengerti mengenai nilai-nilai atau motif dan pandangan mengenai lingkungan.Dalm hal ini memang belum bisa dikatakan bahwa pembeda antara budaya dan kepribadian masih belum jelas terplot – plot.

            “ Jika Kepribadian adalah hasil dari suatu proses internalisasi budaya dan budaya adalah proyeksi dari kepribadian ,maka orang bisa menyimpulkan orientasi kepribadian dari keyakinan dan praktek budaya” (Robert.M.Keesing:1992: hlm 94). Dalam hal tersebut sangat benar dan memang benar-benar terjadi di kehidupan . Misalnya cara berpakaian kita bisa dibilang sebagai suatu pembudayaan diri yang sangat dipengaruhi oleh suatu kepribadian.

Spiro mengatakan bahwa keuniversalan adalah sifat yang murni dari manusia sedangkan yang kita tahu bahwa hal ini sangat dipengaruhi oleh emosi dan tingkah laku masing-masing manusianya. Dari pernyataannya Spiro kita menjadi paham betapa emosi dan tingkah laku sangat mempengaruhi terbentuknya keuniversalan budaya. Dalam keuniversalan budaya ini kita juga perlu yang namanya pengendalian emosi dan tingkah laku yang di kontrol agar tidak menyimpang dan merugikan masyarakat lain.

 “Kepribadian dalam arti konvensional lebih merujuk kepada suatu integrasi berkelangsungan dari alam kejiwaan seseorang daripada terhadap suasana hati dan motif “( Robert.M.Keesing :1992:hlm 97). Dalam hal ini kita akan tahu bahwa kepribadian dapat dibedakan dari tradisi budaya masyarakatnya . Di dalam proses budaya kita akan menemukan suatu penyakit kejiwaan yang berarti bahwa salaing mempengaruhi antara pribadi,kelompok dan masyarakat yang dapat membawa dampak penyakit kejiwaan.

Penyakit kejiwaan disini lebih di titik beratkan pada psikologis. Maka ada istilah yang menyebutkan bahwa kepribadian sebagai sistem psikobiologis. Berawal dari kepribadian yang mempengaruhi kejiwaan yang membawa dampak psikologis dan biologis. Dimana budaya membawa kita untuk jiwa dan biologis kita terbentuk karena suatu pembiasaan yang terjadi dalam suatu kelompok ,individu ataupun masyarakat.

Biasanya konflik –konflik ini terjadi dalam proses belajar budaya salah satunya karena pengaruh kepribadian dan kejiwaan serta biologis. Banyak faktor biologis dan psikologis yang memberi dampak yang dapat menimbulkan konflik. Hal ini bisa kita minimalisir dengan mengendalikan tingkah laku serta emosi dalam bermasyarakat. Maka kejiwaan dan biologis kita akan lebih tertata dalam proses pembelajaran budaya.Di sini yang sangat diperlukan adalah dasar kepribadian yang kuat .

Berikutny apoint penting dalam buku ini adalah pentingnya kita untuk mengetahui perbedaan dari presespsi dengan memory. Seperti yang dikatakan oleh R.L Gregory mengenai presepsi itu sendiri ,” cara kita melihat dibentuk oleh apa yang diketahui. “( Roger.M.Keesing : 1992: hlm 99). Misalkan dengan teori air menagalir dari atas ke bawah awalnya kita bisa melihat dari mata air gunung yang turun dari hulu ke hilir hal ini adalah suatu presepsi yang timbul karena kita melihat langsung yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut keesing memory adalah suatu bentuk ingatan seseorang untuk mengkaji proses perolehan informasi dan penimbulannya kembali. Penciptaan representasi internal yang saling mempengaruhi dengan representasi eksternal hal ini bisa dikaitkan dengan antara otak dan sudut pandang.(Robert.M.Kesing : 1992: hlm 99). Selain itu juga kepribadian juga dapat dilihat dari prespektif evolusi budaya.kita mengambil contoh seperti manusia. Manusia dengan perkembangan otak yang semakin berkemampuan besar maka semakin sempurna pula kita mempelajari simbol dan pemecahan masalah . (Keesing:1992:hlm: 105).

Pada bab berikutnya akan dibahas mengenai masyarakat tribal dan yang berubah pandangan menjadi suatu pandangan yang sistemik. Kita akan diajak untuk melihat lebih jauh mengenai masyarakat yang primitif itu eperti yang sekarang ini bisa dikatakan sudah berangsur menghilang. Masyarakat yang sekrang ini juga akan kita bahs lebih mendalam bab 7.

BAGIAN III

Masyarakat Tribal; Ke arah Pandangan Sistemik

Dalm bab ini akan membahas mengenai perubahan sudat pandang mengenai masayarkat tribal yang tadinya tidak melihat secara sudut pandang  yang regional dan sistemik. Keesing akan mengajak kita untuk melihat masyarakat primitif dengan sudut pandang yang regional dan Sistemik agar kita bisa melihat masyarakat benar-benar terasing itu hanyalah mitos dan penyerderhanaan.

BAB 7

DUNIA TRIBAL SEBAGAI MOSAIK,SEBAGAI TAHAPAN DAN SEBAGAI SISTEM

Pada pandangan mosaik, masyarakat tribal berskala kecil seperti di daerah Afrika, Asia Tenggara dan Amerika Selatan merupakan semacam mosaik berbagai budaya. Setiap budaya dipandang seolah-seolah merupakan potongan yang berlainan warna, atau terpisah dalam suatu mosaik keanekaragaman manusia yang harus dinilai secara mandiri atau satu persatu. Sedangkan pada pandangan tahapan menunjukkan tingkatan perkembangan yang terjadi pada masyarakat tribal khususnya pada sistem organisasi. Disini dijelaskan mengenai para pemburu dan peramu sebagai sumber bukti mengenai tahap purba dalam evolusi masyarakat. Lalu dijelaskan juga mengenai gambaran dunia tribal yang mengalami berbagai tahapan perkembangan seperti kelompok “masyarakat” dan berkembang menjadi “kesukuan” seperti di beberapa bagian Afrika dan Asia Tenggara.

Namun dalam bab ini juga disebutkan bahwa kelemahan dari stereotip dan tahapa itu sendiri.Menurut Keesing kelemahan itu terletak pada ketergantungan masyarakat tribal kepada mosaik dan tahapan itu sendiri. “kita cenderung membubuhkan keterpisahan dan kemandirian palsu pada “budaya” ini serta mengabaikan bagaimana orang terikat oleh sistem regional yang berupa perdagangan ,pertukaran dan politik melalui mana berbagai gagasan maupun materi yang mengalir”(Keesing :1992:hlm 115). Selain itu juga kita menjadi paham dan mengerti apa yang sebenarnya yang menjadi kelemahan dari stereotip mosaik dan tahapannya. Dalam perkembangan evolusinya, menurut keesing adalah keliru karena pada zaman paleolitik masyarakat yang sudah mengenal piranti-piranti yang berupa besi, dan guci cina kuningan dan lain-lain, kesimpulanna adalah suatu tingkatan yang ada hanya dalam kaitannya dengan masyarakat yang lebih kompleks. (keesing:1992:hlm 116)

Kita akan juga melihat dan membahs mengenai mastarakat tribal yang dijadikan sebagai sistem. Masih adanya pencampuradukan teknologi dan tingkatan budaya. Hal ini jika kita berpikir menggunakan tahapan kita akan cenderung memandang masyarakat tribal di berbagai daerah tropis sebagai manusia zaman neolitik karena penggunaan piranti dianggap sebagai kekuatan dan pendorong besar dalam penyebaran penduduk dan perekonomian. (keesing:1992:hlm 119).

Perubahan –perubahan yang terjadi dalam tingkatan –tingkata masyarakat tribala seperti yang dikatakan keesing bahwa perubahan yang dilakukan oleh orang-orang yang beranjak dari satu tingkatan ke tingkatan yang lain termasuk perkembangan dari segi ekonomi dan mata pencaharian karena pengaruh langsung dari peradaban.

            Kemudian pada bagian akhir bab dijelaskan kembali mengenai masyarakat tribal dan hubungannya dengan negara. Menurut Morton Fried, istilah Tribal telah digunakan secara longgar di dalam antropologi (dan bidang studi lain) untuk menyebut kelompok etnis khas yang bisa dibedakan dari golongan etnis lain di sekitarnya karena pemakaian bahasa dan budaya yang berlainan, yang umumnya ounya nama sendiri dan warganya merasa mempunyai identitas yang sama (Keesing. 1999 : 121).

 Keesing menyimpulkan bahwa budaya tribal tidak terpisahkan dari pengaruh negara atau peradaban, dan pendapat orang Eropa pertama kali mengenai budaya tribal yaitu “sejak zaman dahulu kala” adalah sesuatu hal yang salah.Pada bab selanjutnya akan membahas mengenai pandangan sistematik mengenai kesukuan selain itu juga perlu melihat pertalian antara bentuk dari subsistensi dan bentuk struktur sosialnya anatara ekologis dan cara manusia untuk survive atau bertahan hidup.mak dari itu adanya hubungan yang mengikat antara perekenomian dengan organisasi.

BAB 8

BENTUK SUBSISTENSI , BENTUK ADAPTASI

Dalam bab ini akan membahas mengenai bentuk subsistensi pemburu dan peramu kontemporer serta ekonominya . selain itu juga akan membahas tentang organisasi sosial yang mempengaruhi pemburu dan peramu. Di dalam organisasi sosial terdapat sistem politk yang juga akan dibahas di dalam bab ini. Kita juga diajak untuk melihat contoh nyata dalam kehidupan kelompok2 tertentu. Penjabaran kasus yang membuktikan bahwa adanya bentuk subsistensi serta adaptasi yang dilakukan oleh kelompok tersebut. Selain itu juga akan membahas mengenai adaptasi peternakan serta penggembalaan dan struktur masyarakatnya.

Pemburu dan meramu yang kontemporer sangat berhubungan dengan perkembangan teknologi yang pesat. Keesing mengatakan adanya gangguan kedatangan orang barat yang membawa persoalan terus diperdebatkan. Pengaruh yang dibawa dari orang – orang barat ini adalah pemburu dan peramu menjadi terikat oleh sistem politik dan sosial. Persoalan untuk adaptasi menjadi persoalan tentang sistem regionalnya.

Ekonomi Subsistensi pemburu dan peramu kontmporer ini bisa dibilang sangat membelitseperti yang dikatakan keesing dalam bukunya sulitnya bertahan hidup mencari cara untuk bisa mencari pangan dengan pekerjaan yang tidak begitu menyita banyak tenaga namun tujuan hidup nya terbatas. Hal inilah menurut keesing bentuk subsistensi peramu dan pemburu. Asal bisa makan sudah cukup untuk hidup. ( Keesing : 1992: hlm 125)

Selain  itu juga keesing mengatakan kalau kegiatan pemburu dan meramu ini adalah salah satu kegiatan yang didasarkan pada sifat alamiah manusia. Maksutnya para pemburu dan peramu kontemporer ini dianggap sebagai sumber lansung bagi data mengenai masyarakat purba (Keesing : 1992 : hlm 127). Menghadapi masyarakat secara murni dan dengan keadaan yang terisolasi. Pemburu dan meramu itu memang apa adanya. Mereka bekrja karena menyesuaikan lingkungan dan dorongan untuk mencari pangan untuk penghidupan keluarganya di jaman tersebut .

Dalam kelompok masyarakat pemburu dan meramu ini juga sudah mengenal organisasi sosial. Hal ini dibuktikan dengan adanya sistem pembagian kerja di jaman purba tersebut. Di dalam buku ini Keesing memberikan contoh kasus mengenai model sosial patrilokal yang semua mengarah kepada garis ayah . Para pria menghabiskan waktunya untuk berburu sedangkan anak perempuan meninggalkan kelompok tersebut saat kawin (keesing:1992:hlm 128) hal ini juga akan mempengaruhi cara perpindahan mencari pangan. Dan hal ini menunjukan bahwa di jaman pemburu dan peramu ini sudah mempunyai kemampuan untuk beradaptasi karena kebutuhan penvarian pangan yang berpindah-pindah. Dalam buku ini juga membahas beberapa kasus mengenai organisasi sosial seperti organisasi sosial Shoshoni dan Kung Bushmen.

Kajian politik yang terdapat dalam pembru dan peramu ini bisa dikatakan masih sangat luas. Keesing juga mengatakan bawa adanya suatu taraf sentralisasi politik yang jauh melampui sentralisasi politik para pemburu dan peramu kontemporer . (keesing:1992)

Kasus Bushmen adlah contoh konkrit yang bisa kita pelajari sistem poitiknya, mulai adanya pemburuan yang kemudian mengadakan upacara adat lalu melakuakan usaha perdamaian masyarakat selain itu juga kemampuan berpidato serta pengambilan keputusaan yang egaliter (Keesing : 1992:hlm 131). Terkaang konflik dan perselisihan terjadi karena adanya kekacauan sistem politik yang bisa saja terjadi. Perlunya pengorganisasian politik yang baik dan tepat. Agar terhindar dari brbagai konflik dan perselisihan antar kelompok.

Adaptasi peternakan dalam ruang dan waktu , dalam hal ini seperti yang ad di daerah Iran dan Afghanistan yang tanahnya sangat kering sehingga tidak cocok untuk bertani lalu memilih untuk menjadi peternak. “ Menurut sejarahnya ,peternakan merupakan suatu pemisah dari kompleksitas campuran antara pertnian dan peternakan zaman purba , sebagai adaptasi terhadap padang rumput yang kering . Masyarakat yang ada di Afghanistan dan Iran ini buki bahwa adanya kemampuan beradaptasi terhadap lingkungan yang ada yang sangat mempengaruhi pekerjaan serta di dorong dengan tujan untuk mencari sesuap makan yang mendesak masyarakat untuk mengatasi persoalannya sendiri. Dengan beternak dianggapnya sebagai profesi yang cocok dilakukan di padang rumput yang kering karena tanah kering tidak cocok untuk bertani.

Dengan adanya adaptasi ekologis inilah yang merupakan faktor utama yang membentuk organisasi masyarakat manusia ditambah dengan perkembangan teknologi yang cukup pesat di waktu itu. Dalam akhir bab ini keesing menyebutkan beberapa hal pertanyaan yang berkesinambungan dengan bab ini . Intinya para Antropolog dituntut untuk bisa menyeleaikan masalah yang menyangjkut ekologi dengan dasar teori antropologi yang masih menimbulkan banyak perdebatan.

Dalam bab selanjutnya akan dibahas mengenai Bagaimana kebudayaan berkembang. Perlunya kita untuk paham proses budaya berkembang karena dengan kita memahami hal ini dapat menyelesaikan segala persoalan yang ada di masyarakat.

BAB 9

BAGAIMANA KEBUDAYAAN BERKEMBANG

Keesing akan memaparkan berbagai teori budaya sebagai sistem adaptasi pada bab ini. Berikut jabaran Megger (1968), manusia merupakan makhluk hidup yang beradaptasi terhadap lingkungnnya di mana prosesnya bergantung pada seleksi alam yang mengatur adaptasi biologis. Namun tidak berarti pada proses perubahan komponen tingkah laku manusia sama dengan proses seleksi alam yang membentuk informasi genetik dalam suatu populasi. Menurut Vayda dan Rappaport (1968), budaya tidak dapat disamakan dengan manusia, karena tidak dimakan oleh pemangsa, tidak diperlemah oleh penyakit, dan tidak tidak dibatasi oleh ketersediaan pangan. Keesing mendefinisikan budaya sebagai sebuah gagasan yang dimiliki bersama yang membentuk pola perilaku manusia terhadap lingkungannya. Dalam pola perilaku ini proses evolusi dan biologi berlangsung. (Roger M. Keesing, 1999:146)

Harris mengajukan penafsiran materialisme yang mengisyaratkan adanya rasionalitas tersembunyi, berupa adaptasi ekologis dan seperangkat praktek kehidupan budaya. Menurut Harris, ada dua masalah pokok yang dihadapi oleh masyarakat “primitif” yaitu kecenderungan jika pertumbuhan penduduk tidak dikendalikan oleh sarana kultural, akan mengancam hubungan ekosistem mereka. Dan yang kedua, keterbatasan pada ketersediaan protein, dimana keduanya saling berhubungan.Penafsiran pengikut aliran materialisme adaptasionisme budaya bersifat persuasif. Fenomena sosial dijelaskan tidak merujuk pada pemikiran, atau simbol, tetapi dengan merujuk pada perhitungan energi, asam amino, bilogi masa subur, dan lainnya. (Roger M. Keesing,1999:151-154)

Menurut pengamatan Keesing, yang dilakukan manusia dalam suatu populasi selama tiga atau bahkan sepuluh tahun guna menjaga keseimbngan dengan pembuktian diakronik (jangka panjang), bukan sinkronik (jangka pendek). Menurut Marton (1978), diakroni itu penting untuk membedakan adaptif dan yang tidak adaptif serta kekuatan selektif dengan proses netral. Sedangkan sinkronik merupakan uraian kelestarian, sekedar pernyataan keberadaan. (Roger M. Keesing, 1999:155-156)

Keesing berargumen bahwa manusia yang dapat bertahan hidup pastilah manusia tersebut memiliki kebiasaan adaptif, karena menurut Keesing hal tersebut menjadi tugas antropolog untuk menemukan rasionalitasnya yang tersembunyi. Pakar ekologi budaya mengasumsikan, “keseimbangan dan mencari keterjalinan “fungsional” dari susunan masyarakat, agama, dan ekonomi, secara tersirat bersandar pada pandangan “mosaik” mengenai dunia tribal – suatu pandangan yang mengasumsikan keterpisahan, kestabilan dan jangka waktu yang relatif panjang dari berbagai tradisi budaya.” (Roger M. Keesing, 1999:156)

Keesing menduga bahwa kebanyakan orang telah memiliki kesadaran hubungan manusia dengan lingkungan sehingga mereka lebih peka terhadap pertambahan jumlah penduduk terhadap lingkungan dan peka terhadap biologi reproduksi apabila merasa terancam oleh pertambahan penduduk. Dugaan Keesing diperkuat oleh adanya pengaturan penduduk dengan cara pembunuhan bayi perempuan, pengguguran, dan banyak lainnya. Selain itu, dalam bab ini dipaparkan bila penyakit dan fertilitas kaum wanita yang lambat membantu dalam menjaga keseimbangan penduduk. (Roger M. Keesing, 1999:161-162)

Pada dasarnya hidup manusia sangat berpengaruh oleh alam dan ligkungannya. Dengan kebiasaan yang ada akan menciptakan suatu perkembangan budaya yang terus menerus berkembang karena adanya kemampuan adapatsi masing-masing individu yang berbeda-beda serta lingkungan yang juga belum stabil. Pada dasarnya perubhan-perubaan pola masyarakat yang terjadi memunculkan suatu perkembangan budaya . Selagi manusia masih bisa beradaptasi dengan lingkungan disitulah manusia bisa membentuk suatu budaya baru yang akan terus berkembang sesuai lingungannya dengan tujuan untuk survive atau bertahan hidup demi kelangsungan hidup masyarakat.

BAGIAN IV

DUNIA TRIBAL WARISAN KEANEKARAGAMAN MANUSIA

“Para pakar ekonomi yang berusaha mengontrol inflansi bekerja dengan suatu sistem teoritis yang dibangun atas dasar asumsi mengenai hakikat manusia dan masyrakat Begitu juga para ilmuwan politik dan sosiolog. Tugas utama antropologi yang kini baru saja mulai berteori setelah beberapa dasarwasa hanya berusaha menguraikan kebiasaan yang eksostik adalah mengajukan pertanyaan fundamental ini secara jujur; dan dengan mempertanyakan hal tersebut terhadap dasar keseluruhan tata cara kehidupan manusia dalam waktu dan ditempat yang berbeda-beda diharapkan diperoleh dasar yang lebih kukuh bagi ilmu sosial perbandingan.” (Keesing:1992:176)

Bab selanjutnya membahas mengenai langkah-langkah strategis dalam memahami berbagai pranata sosial dalam prespektif yang lebih luas. Dalam hal ini kita akan diajak utuk melihat dan memahami bagaimana sistem perekonomian berkembang. Mulai dari sejarah pengalaman dari Molinowski mulai dari pengenalan sistem ekonomi yang terjadi masyrarakat luas. 

           

BAB 10

BERBAGAI SISTEM PEREKONOMIAN

Dalam produksi didalam masyarakat tribal lebih menggunakan pada sistem pembagian kerja berdasarkan spesialisasi  pembagian kerja  berdasarkan usia dan jenis kelamin. Serta dalam pendistribusian hasil kerja di dasarkan pada sistem kekrabatan dan perkawinan. Tak ada yang mengatur dalam pendistribusian ini sehingga yang mendasari ini semua berdasarkan melalui struktur dan ungkapan kekerabatan dan komunikasi. Dalam sarana dan cara produksi dalam hal ini dijelaskan bahwa hanya alat-alat yang dimilki oleh perorangan secara kolektif. Seperti beberapa pemakaian telah menekankan pada penyaluran yang surplus kerja dan hasilnya dalam struktur kekrabatan dan komunitas sebagai cara produksi ‘’komunis primitif’’ sebagaimana digambarkan oleh Hirst dan Hindenss(1975).  Sehingga dalam perekonomian ini tidak bisa di pisahkan oleh sistem kekrabatan. Dalam sub bab infra dan suprastruktur  dalam teori  Masxirs membedakan sistem ekonomi –berbagai pertalian sosial dan teknologi produksi-dari lembaga politik hukum dan ideologi yang menopangnya. Dalam hal ini tidak hanya menggunakan konsep konsep yang di kemukakan oleh Marxisme  dalam basis dalam suprastruktur serta pengelompokkannya tetapi juga perlu pemahaman dalam apa yang mereka lakukan hubungan antara yang lain. Tak hanya itu dalam reproduksi hubungan sosial juga dituliskan bahwa tidak semua sistem tidak secara otomatis dapat di pertahankan dan diteruskan oleh generasi berikutnya.  Karena di dalamnya selalu terdapat perubahan , setiap sisitem sosial mengandung benih-benih bagi perubahan diri.  Dalam reproduksi dan batas sistem  penggambaran masyarakat tribal oleh Sahlins (1972) dan meilannsoux(1975) mengenai masyarakat tribal  sebagai menggambarkan ‘cara produksi rumah tangga’. Dalam hal ini produksi rumah tangga menjadi bagian dari masyarakat tribal. Tak hanya itu dalam segi ekonomi dan distribusi juga di perlukan analisis yang lain makna-makna yang ada dalam budaya kerja.

Dalam antropologi ekonomi formalis dan subtantivis terdapat perbedaan. Dalam formalis yang terdiri dari H.K Schneider(1974),Belshaawa(1965),Cook (1973), dan Nash (1966)berendapat bahwa prinsipnya berbagai alur utama teori formal ilmu ekonomi neoklasikal  bisa di terapakan pada perekonomian seperti yang di jumpai dikalangan suku Trobriand. Sedang subtanvitas berpendapat bahwa ada tiga macam pertukaran dalam masyarakat yaitu perbalasan,penyebaran kembali dan pertukaran pasar. Dalam rasionalitas dan antropologi ekonomi  dijelaskan bahwa tindakan rasional selalu ada didasarkan pada setiap tindakan. Dapat diambil kesimpulan bahwa semua hendaknya ada perubahan dan kesimbangan dalam kekuasaan ataupun yang lainnya. Serta adanya penghapusan kapitalis yang hanya menyesarakan manusia  dalam sistem ekonomi.

Pada bab selanjutnya akan membahas lebih lanjut mengenai hubungan kekerabatan,keturunan dan struktur sosial yang berlangsung dalam kehidupan masyarakat. Mulai dari pengelompokan dan pengkategorian dalam kehidupan masyarakat dan juga memahami kekerabatan di masyarakat tribal dan kekerabatan yang dianggap sebagai ungkapan dasar dari hubungan sosial,ekonomi dan organisasi dalam masyarakat.

BAB 11

KEKERABATAN , KETURUNAN DAN STRUKTUR SOSIAL

Perlunya kita memahami pola masyarakat yang berkelompok . dalam hal ini kita perlu mengerti apa yang membedakan antara kategori dan kelompok dalam masyarakat. Adanya perbedaan antara budaya (gagasan, kategori, dan peraturan) dan social (orang tindakan, peristiwa dan kelompok) akan sangat penting. Kategori budaya adalah seperangkat satuan di dunia ini – orang, barang, peristiwa, kegaiban – yang dikelompokkan dalam suatu kategori untuk berbagai maksud tertentu, karena mempunyai kesamaan dalam satu atribut budaya atau lebih. Sedangkan suatu kelompok social, di pihak lain, terdiri dari manusia sesungguhnya yang terdiri dari darah daging. Yang membedakan kelompok social dari kerumunan atau gerombolan adalah adanya organisasi.

Selain memahami adanya perbedaan makna antara kategori dengan kelompok kita juga perlu paham apa arti dari kekerabatan itu sendiri. Menurut Keesing Kekerabatan bagi kita secara intuisi menunjuk pada “hubungan darah”. Kita menganggap hubungan kekerabatan, yang didasarkan pada “darah” sebagai suatu hal yang alamiah dan abadi; hubungan ini yang menyebabkan timbulnya kewajiban solidaritas. Sistem kekerabatan ini juga dianggap sebagai suatu tindakan sosial yang terjadi karena adanya interaksi antar individu yang memberikan kewajiban sosial terhadap individu masing-masing.

Kekerabatan juga dianggap sebagai ungkapan dasar dari hubungan social. Dalam menganalisis suatu masyarakat tribal atau tani, kita harus lebih dulu kekerabatan agar bisa memahami berbagai hal lainnya. Bahkan bila orang-orang di dalam masyarakat tribal bersaing guna memperoleh keuntungan ekonomi atau kekuasaan politik, mereka cenderung membicaraikan apa yang mereka perbuat berdasarkan kekerabatan. Lebih lanjut, pertalian kekerabatan berperan sebagai model atau ukuran hubungan dengan yang bukan sanak saudara dan juga sering dengan para dewa. (Robert.M.Keesing : 1992 : hlm 211)

Ternyata kerabat itu juga memiliki pengklasifikasian yang terdiri dari Teori-teori alternative tentang terminology kekerabatan. Pengertian mengenai Terminology kekerabatan adalah cara mengklasifikasikan “berbagai jenis orang” yang dilihat dari segi social relevan untuk kehidupan seseorang; dan itu tergantung kepada bagaimana cara suatu masyarakat diorganisasikan menjadi kelompok-kelompok, dan bagaimana kelompok-kelompok itu berkaitan satu dengan yang lain.

Kita juga mengenal mengenai sistem keturuanan. Kita akan membahas mengenai Keturunan, korporasi, dan kelangsungan . Menurut Keesing agar suatu system berlangsung, diperlukan suatu peraturan atau ketentuan yang menegaskan siapa saja yang dapat diterima menjadi anggota sebuah badan. Pengertian dari System keturunan menurut Keesing adalah sarana guna menegaskan keseimbangan masa silam, guna menjelaskan hubungan di antara orang-orang yang masih hidup berdasarkan hubungan mereka dengan para leluhur yang telah lama meninggal.

 

T

TANGGAPAN MENGENAI BUKU INI:

 

  1. 1.    KELEBIHAN

Buku ini benar – benar bermanfaat bagi para antropolog pemula. Hal ini bisa dianggap sebagai dasar dari pengetahuan awal mengenai perkembangan ilmu Antropologi dalam prespektif kontemporer. Perlunya wacana ini sangat memberikan pengetahuan yang baru dan mengajak kepada para pembaca untuk mengikuti alur dari buku tersebut secara bertahap. Hal ini dibuktikan dengan adanya korelasi dari bab satu ke bab selanjutnya. Dengan memberikan pemahaman yang sederhana membuat para pembaca menjadi mudah untuk menangkap inti sari dalam buku tersebut teutama dalam hal tiap bab. Selain itu juga dengan diberikannya contoh kasus akan membuat para pembaca menjadi lebih paham dengan contoh konkrit yang terjadi di suatu kelompok. Buku ini nampaknya berat tetapi ringan jika setelah kita pelajari dan memahaminya dengan seksama. Keesing ini benar-benar ingin memberikan gambaran secara rinci dan sangat jelas dalam pemaparan suatu teori .Saya pribadi suka dengan buku ini, karena saya benar-benar merasakan manfaatnya setelah selesai mebaca buku ini begitu banyak pemahaman –pemahaman baru yang dapat dijadikan suatu dasar perkembangan pengetahuan saya. Buku ini benar-benar memberikan inspirasi terhadap saya dalam hal lebih mengerti dan peka terhadap lingkungan karena Keesing disini juga memberikan contoh kasus yang benar-benar terjadi di sekitar kita sehingga mudah kita amati dan dipelajari. Selain itu Keesing juga mengajak kepada para pembaca untuk senantiasa melihat suatu sesuai dengan zamannya. Kita sebagai antropolog juga perlu memahami mengenai bagaimana proses perkembangan budaya yang ada di masyarakat dengan penyesuaian yang ada di masyarakat sekarang.

 

  1. 2.    KEKURANGAN

Banyak istilah –istilah yang baru dan asing bagi saya, sehingga saya perlu membuka bab mengenai daftar istilah. Hal ini juga yang menurut saya agak berat dan susah dipahami ketika saya bertemu dengan istilah asing yang saya tidak tahu artinya apa. Untung di dalam buku tersebut ada daftar istilahnya sehingga ketidaktahuan saya terjawab. Selain itu juga buku ini tidak mudah langsung kita pahami. Terus terang saja saya harus membaca bolak balik untuk mencari tahu inti dan memahami apa yang di maksut Keesing dalam penuturannya di dalam buku tersebut. Buku ini benar-benar mengajak saya untuk berpikir keras, dibuktikan dengan penggunaan bahasa yang rumit dan istilah asing yang banyak yang menyita pikiran kita untuk lebih aktif mencari tahu sendiri. Kadang juga saya mengalami kebingungan dan menyimpan banyak pertanyaan ketika buku ini selesai saya baca.

 

 

           

 

 

 

 

Review Buku Pokok-pokok Antropologi Sosial

PENDAHULUAN

            Dalam hal ini buku yang akan di review adalah buku karangan Koentjaraningrat cetakan kedua yang berjudu” Beberapa Pokok Antropologi Sosial “. Buku ini memiliki tebal 307 halaman. Terdapat pula lima Bab yang dibahas dalam buku tersebut. Berikut yang akan dibahas mengenai kedudukan dan pokok-pokok antropologi sosial selain itu juga membahas mengenai sistem mata pencaharian, sistem kekerabatan, Kesatuan hidup dalam masyarakat dan yang terakhir membahas mengenai Sistem Religi dan Ilmu Gaib. Buku ini cetakan yang kedua dan diterbitkan pada tahun 1972. Buku ini diterbitkan oleh Dian Pustaka.Menurut saya buku ini adalah buku wajib yang harus dijadikan sebagai pegangan penting untuk para antropolog pemula untuk dasar ilmu tentang masyarakat dan kebudayaan.

BAB I

1.Kedudukan Antropologi Sosial dalam rangka Antropologi

Dalam buku ini  Antropologi Sosial itu termasuk dalam Antropologi Budaya. Antropologi Budaya ini bercabang lagi ke dalam prehistory,etniolinguistik dan etnologi.Dalam Etnologi ada dua sub ilmu Etnologi yaitu Descriptive Intergration (ethnology) dan  generalizing approach ( social anthropology). Terlihat jelas bahwa Antropologi Sosial kedudukannya terhadap Antropologi adalah terletak dalam sub ilmu etnologi mengenai Generalizing Approach yaitu Social Antrhopology.

Descriptive Integration itu selalu mengenai suatu daerah tertentu. Bahan yang dijadikan sebagai pokok dalam ilmu etnologi adalah bahan-bahan mengenai keterangan etnografi. Keterangan etnografi ini bisa meliputi bahasa ( bahan dari etno linguistik ), ciri ras ( bahan dari somatologi ), fosil-fosil ( bahan dari paleoantropologi ) dan artefak ( bahan dari prehistory). Descriptive Integration ini memiliki tujuan yang penting seperti yang Koentjaraningrat katakan dalam buku ini bahwa tujuannya adalah mencapai pengertian tentang sejarah perkembangan suatu daerah serta mencoba untuk memandang suatu daerah tersebut pada bidang yang diachronisnya juga . ( Koentjaraningrat : 1972 )

Generalizing approach ( Antropologi Sosial ) di dalam sub ilmu etnologi ini memiliki prisnsip tentang persamaan di balik banyaknya keanekaragaman dan varian dalam  kelompok yang terjadi di dalam masyarakat dan kebudayaan. Dalam hal ini Koentjaraningrat mengatakan bahwa ada dua metode yang dimasukan ke dalam dua golongan yang dipakai dalam Antropologi sosial ini yang pertama metode yang menuju ke arah penelitian dan yang kedua mengarah kepada perbandingan merata dari sejumlah unsur – unsur terbatas dalam suatu jumlah kebudayaan dan masyarakat dengan jumlah yang sebanyak mungkin. (Koentjaraningrat : 1972 ).

Melihat hal tersebut menurut saya Antropologi sosial erat kaitannya dengan kelompok suatu masyarakat dan kebudayaan. Hal ini yang membedakan antara Antropologi Sosial dengan Sosiologi pada umumnya adalah terletak dalam objeknya. Jika kita berbicara tentang Sosiologi berbicara pula mengenai masyarakat sedangkan Antropologi Sosial akan lebih spesifik lagi dengan membahas suatu kelompok – kelompok yang ada di dalam masyarakat. Pendekatan dan sudut pandang yang dilakukan juga akan berbeda. Antropologi Sosial adalah ilmu yang sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat. Karena ilmu ini mencari solusi dan memahami persoalan – persoalan yang ada di dalam suatu kelompok masyarakat.

2. Pokok-pokok dan pokok –pokok khusus  dalam Antropologi Sosial

Dalam hal ini kita akan belajar mengenai istilah pokok-pokok Etnologi. Koentjaraningrat mengatakan bahwa “pokok-pokok etnografi merupakan isi dari sesuatu suku bangsa tertentu sedangkan pokok-pokok etnologi merupakan abstraksi dari hal itu, ialah : isi kebudayaan manusia.” ( Koentjaraningrat : 1972 : 6 ). Antropologi sosial tentunya akan membahas pula tentang pokok-pokok yang dibicarakan dalam etnologi. Dalam buku ini disebutkan bahwa C. Kluckhohn  dalam sebuah karangan bukunya Universal Categories of Culture (1953). Tujuh unsur kebudayaan itu ada sistem peralatan dan perlengkapan hidup, sistem mata pencaharian, sistem kemasyarakatan, bahasa, kesenian, sistem pengetahuan, sistem religi.Pada Bab selanjutnya juga akan membahas mengenai sistem mata pencaharian yang cukup berpengaruh dalam perekonomian masyarakat sejak dulu hingga sekarang adanya perubahan budaya juga akan mempengaruhi sistem mata pencaharian.

BAB II

Sistem Mata Pencaharian

1.Berburu dan Meramu

Berburu dan meramu ini termasuk dalam dua sistem mata pencaharian hidup yang erat kaitannya dengan pergerakan “ekonomi pengumpulan pangan”. Terbukti bahwa berburu dan meramu adalah sistem mata pencaharian yang paling tua dan paling awal yang dilakukan oleh manusia. “Ekonomi pengumpulan pangan “ ini sering disebut juga dengan istilah “food gathering” artinya dalam kehidupan manusia berburu dan meramu ini sudah mengenal mengenai bagaimana cara mencari dan mengumpulkan berbagai tanaman dan binatang yang dijadikan sebagai pangan pokok agar bisa bertahan hidup. Berburu dan meramu juga erat kaitannya dengan alam. Karena semua objek yang dijadikan untuk bahan pangan sehari-hari adalah dari alam. Mereka hidup dari alam.

Dalam buku ini koentajaranngrat juga menjelaskan mengenai sistem berburu ini dengan menggunakan pendapat seorang ahli yang bernama J. Steward. J Steward ini mengatakan “ aneka warna masyarakat suku bangsa berburu itu dapat dikembalikan kepada dua bentuk dasar : Satu bentuk dasar itu disebabkan karena binatang yang diburu itu hidup terpencar , tidak dalam kawanan dan tidak mengembara menurut musim . Sedangkan bentuk dasar yang kedua disebakan karena binatang-binatang yang diburu itu hidup dalam kawanan yang besar , yang mengembara pada jarak-jarak yang jauh menurut musim.” (Koentjaraningrat : 1972 : 14)

Menurut analisa J. Steward mengenai masyarakat berburu ini ada dua bentuk dan susunan yang beragam. Yaitu Patrilineal Hunting Band artinya adalah keanggotaan dalam kelompok ditetapkan menurut garis keturunan dari pihak ayah. Serta memiliki adat perkawinan yang mewajibkan untuk menikah di luar kelompoknya. Yang kedua adalah Composite Hunting Band artinya adalah keanggotaan dalam kelompok tidak lagi patrilineal sedangkan adat perkawinannya tidak bersifat exogam lagi. ( Koentjaraningrat : 1972 )

Menurut Koentjaraningrat ,perbedaan mayarakat berburu dan meramu ini dengan masyarakat yang mengenal bercocok tanam akan terlihat jelas ketika masyarakat berburu tingkat angka kelahirannya rendah. Gejala ini disebabkan karena adanya tekanan batin yang dirasakan masyarakat pada waktu itu sehingga keterbatasan pangan yang menjadi persoalan mendasar sehingga angka kelahirannya pun akan ikut rendah. Namun hal ini masih dianggap belum bisa dijadikan sebagai teori karena belum dirumuskan secara konkret dan perlu diteliti dengan metode yang bersifat ilmiah. Suatu permasalahan yang mendasar pada masyarakat berburu dan meamu ini adalah sarana dan prasarana dalam membawa hasil buruan dengan tempat lokasi yang jauh dan juga kondisi-kondisi yang menyulitkan para peburu untuk membawa hasil tangkapannya.

Peramu sagu yang ada di Pantai utara Irian Jaya mulai ada perbedaan bahasa antar daerah karena adanya pulau-pulau yang berahadapan dengan Pantai Utara Irian Jaya ini. Seperti Pulau Wakde, Takar, Yamna dan lain-lain.Pada masa meramu ini pengkristenisasi sudah terjadi ketika awal tahun 1913. Dengan kedatangannya bagsa belanda pada tahun 1920 menempatkan pemerintahan jajahan mulai terjadi yang namanya asimilasi budaya dimana tradisi masyarakat meramu ini lambat laun akan mengalami perubahan budaya pada masyarakat meramu ini. Hal ini disebabkan adanya kontak budaya dari luar yang dibawa oleh pengaruh belanda. ( Koentjaraningrat : 1972 ).

2.Perikanan di Asia Tenggara

Selain mengenal berburu dan meramu ada juga sistem mata pencaharian perikanan. Hal ini penting karena perikanan juga dapat dikatakan sebagai sistem mata pencaharian yang lama dan tua terutama yang tinggal di pinggir pantai , laut dan di daerah peraiaran. Pada dasarnya nelayan tahu persis bagaimana  menjalankan dan menggunakan perahu namun nelayan juga dituntut untuk tahu mengenai sifat-sifat laut,angin dan arusnya . Sangat penting bagi para nelayan untuk memahami berbagai macam yang berhubugan dengan pemanfaatan sumber daya alam.

            Banyak yang dapat kita pelajari dari seorang nelayan antara lain nelayan ini memiliki peran sangat penting bagi ekonomi masayarakat pada waktu dulu hingga sekarang ini. Hal ini dibuktikan sejak dulu hingga sekarang sistem mata pencaharian ini tidak pernah menghilang dan masih akan terus ada selama biota laut yang ada masih tersisa hidup di air. Berbeda dengan sistem mata pencaharian berburu dan meramu yang menghilang lalu digantikan oleh sistem bercocok tanam. Jelas bahwa sistem mata pencaharian perikanan ini akan terus dan tetap eksis karena semakin banyak orang yang mengeksploitasi sumber pangan di darat yang lambat laun akan habis tentunya akan banyak yang beralih ke dalam pencarian sumber pangan di laut . Sehingga keberadaan mata pencaharian ini sangat diperlukan dan penting bagi roda perekonomian di Indonesia.

3. Asal Mula Bercocok Tanam

            Dalam buku ini membahas mengenai bagaimana dan dimana asal mula bercocok tanam itu mulai ada menggantikan mata pencaharian berburu dan meramu. Menjawab persoalan tersebut Koentajaraningrat banyak menggunakan pedapat dari beberapa ahli sejarah kebudayaan, ahli pertanian dan juga antropolog. Yang pertama mengenai ahli sejarah kebudayaan yaitu Verre Gordon Childe . Menurut beliau “kepandaian bercocok tanam itu merupakan suatu peristiwa hebat dalam proses perkembangan kebudayaan manusia sehingga peristiwa disebutnya suatu revolusi kebudayaan” ( Koentjaraningrat : 1972 : 37). Selain itu juga melibatkan ahli pertanian yaiu N.I Vavilov ( Ketua Lembaga Lenin untuk Ilmu Pertanian di Leningrad). Ahli-ahli pertanian tersebut menyimpulkan bahwa “ kepandaian bercocok tanam tidak diketemukan oleh manusia di satu tempat , melainkan di beberapa tempat di muka bumi ,masing-masing cukup terlepas satu dari yang lain dengan menggunakan metode ilmiah ethnobotany (Koentajaraningrat : 1972 : 38 ). Vavilov dan kawan-kawannya menemukan setidaknya tujuh daerah asal dari bercocok tanam (lihat halaman: 38 ) , namun hal ini sedikit ditambahkan oleh pakar antropolog G.P Murdock yang terdapat dalam bukunya “ Africa . Its Peoples and Their Cultural History (1959). Pada buku ini intinya G.P Murdock ingin menunjukan bahwa Afrika Barat ini juga termasuk daerah asal mulanya bercocok tanam.  

4 Bercocok Tanam di Ladang

            Pengertian dari bercocok tanam di Ladang seperti yang telah disebutkan dalam buku Anropologi Sosial ini adalah “ Suatu cara bercocok tanam terutama yang ada di daerah hutan rimba tropik dan juga di daerah sabana tropik dan sub tropik “(Koentjaraningrat : 1972 : 41). Bercocok tanam di ladang ini sudah dikenal sejak zaman neolithik. Di dalam buku ini juga dijelaskan mengenai kegiatan-kegiatan yang dilakukan ole para pencocok tanam ladang yang sangat perlu kita ketahui agar kita tahu perbedaan antara pencocok tanam di ladang ataupun pencocok tanam yang menetap. Berikut kegiatan-kegiatannya secara singkat ( Koentjaraningrat : 1972 : 41):

  1. Daerah di hutan atau di sabana di bersihkan ( ditebang dan dibakar)
  2. Bidang tanah ladang yang demikian dibuka,ditanami satu samapai paling banyak tiga kali (1-2 tahun)
  3. Kemudian ladang tadi dibiarkan untuk waktu yang lama ( 10-15 tahun) sehingga menjadi hutan kembali
  4. Sesudah itu hutan bekas ladang tadi dibuka lagi dengan cara seperti tersebut seperti yang dilakukan dalam sub a, dan demikian seterusnya.

Mereka juga membedakan golongan berdasarkan jenis tanah hutan yang digolongkan secara teliti dan cermat. Adapun banyak faktor yang perlu diperhatikan oleh para pencocok tanam adalah tanah, curah hujan, topografi bumi dan juga faktor masyarakat juga sangat penting bagi para pencocok tanam ladang ini. Pada kenyataannya banyak permaslahan yang terjadi ketika penguasaan hak milih tanah yang tadinya bersifat umum namun adanya individu yang memanfaatkan hutan secara berlibahan atau ekslpoitatif, maka dari itu banyak hutan yang habis karena ulah manusia itu sendiri. Dalam buku ini juga dijelaskan mengenai teknik orang bercocok tanam di Ladang.Berbeda ketika kita melihat negara Indonesia , hasil ladang di Indonesia itu bukan untuk dijadikan sebagai pemenuhan keperluan hidup masyarakat lokal namun hasil ladang ini justru di ekspor ke luar negeri. Sehingga daerah lokal justru tidak dapat terpenuhi kebutuhannya secara optimal oleh masyarakat.

5. Bercocok Tanam Menetap

            Menurut Koentjaraningrat  pemahaman mengenai bercocok tanam menetap ini adalah  yang dilakukan oleh masyarakat di pedesaan bukan seperti bercocok tanam yang ada di perusahaan atau di perkebunan besar. Selain itu pula Koentjaraningrat juga menjelaskan bagian – bagian daerah yang cocok untuk bercocok tanam menetap. Berikut daerah – daerahnya; 1. Daerah tropik 2. Daerah Subtropik 3. Daerah setengah – dingin ( Koentjaraningrat : 1972 ).

            Dengan adanya permasalahan dan persebaran bercocok tanam ini sebagai salah satu unsur kebudayaan. Dalam hal ini antropolog juga perlu memahami peralatan bercocok tanam  apa yang digunakan sehingga muncul lah penggolongan pencocok tanam berdasarkan peralatan yang digunakan . Menurut Koentjaraningrat ada dua penggolangan tersebut yaitu a. Bercocok tanam tanpa bajak ( hand agriculture,hoe agriculture,horticulture ) b. Bercocok tanam dengan bajak ( Koentjaraningrat :1972).

            Dalam buku ini bercocok tanam yang sifatnya masih tidak menggunakan alat bajak ( hoe agriculture atau horticulture) termasuk dalam bercocok tanam di ladang sedangkan bercocok tanam yang menggunakan alat bajak adalah bercocok tanam yang sudah menetap. Dapat disimpulkan bahwa para pencocok tanam yang sudah menetap ini memiliki alat yang sudah lebih maju. Masyarakat pedesaan ini sudah mengenal teknik dengan semakin modern. Pola berpikir masyarakatnya juga lebih maju dan modern . Hal ini dibuktikan dengan adanya teknik- teknik baru serta alat-alat bercocok tanam yang setingkat lebih maju daripada bercocok tanam yang di ladang. Dalam hal ini juga dijelaskan mengenai teknik bercocok tanam menetap dan juga adanya sistem milik tanah para pencocok tanam menetap.  Pada Bab selanjutnya juga tidak kalah pentingnya dengan sistem mata pencaharian yaitu sistem kekerabatan . Sistem kekerabatan ini sangat penting dalam perubahan budaya yang sekarang terjadi ini . Pada dasarnya manusia hidup di dalam suatu kekerabatan . kita berkeluarga itu salah satu bentuk sosial yang dilakukan dalam perkawinan. Bab selanjutnya akan dibahas lebih lanjut mengenai macam-macam keluarga yang mungkin ada di dalam masyarakat dan juga pendapat para ahli yang membahas mengenai sistem kekerabatan ini.

BAB III

Sistem- sistem Kekerabatan

Di dalam bab ini juga menjelaskan tentang tingkatan-tingkatan di dalam proses perkembangan masyarakat dan kebudayaan manusia. Tingkatan pertama mengenai adanya sekelompok laki-laki dan perempuan bersetubuh melahirkan anak tanpa adanya ikatan. Tingkatan kedua dalam perkembangan masyarakat dan kebudayaan manusia adalah adanya kelompok keluarga yang meluas karena garis keturunan ibu (matriarchaat). Kemudian adanya kelompok keluarga yang meluas karena garis ayah (patriarchaat).

Perhatian Antropologi banyak kepada kehidupan binatang yang berklompok dalam hal ini disebut dengan “konsep promiscuity”.Kehidupan keluarga manusia diatur oleh kompleks yang besar dari bermacam adat istiadat dan hukum-hukum yang tidak ditentukan oleh nalurinya secara biologis,tetapai oleh kebudayaan . Adapun aneka warna bentuk sistem kekeluargaan dan kekerabatan manusia . (Koentjaraningrat : 1972 : 88).

Adat Istiadat Lingkaran Hidup

Dalam pembahasan materi ini kita akan bayak menemui berbagai istilah yang ada dalam sistem kekerabatan diantaranya stages along ( tingkat-tingkat sepanjang hidup individu). Ada juga istilah the life cycle yaitu masa peralihan bisa seperti masa bayi,masa kanak-kanak,remaja dan seterusnya. Dalam the life cycle juga akan dekat degan upacara-upacara yang akan berkaitan dengan kepercayaan. Sifat Universal yang ada dalam the life cycle  disebabkan karena kesadaran umum diantara semua manusia . ( Koentjaraningrat : 1972).

Upacara atau ritus-ritus yang dilakukan itu memiliki tujuan untuk menjauhkan diri dari hal yang dianggap berbahaya. Erat kaitannya dengan barang-barang sakti yang mempunyai kekuatan gaib dan hal ini juga akan berhubungan dengan kepercayaan. Sebab adat istiadat ini dianggap sebagai hal yang sakral. Tidak boleh sembarangan dengan aturan adat istiaadat karena hal ini bersifat diwariskan dan hanya sebatas tidak menjalankan tidak tahu bagaimana awalnya adat istiadat ini terjadi namun orang-orang yang melanjutkan tradisi ini memiliki kepercayaan bahwa hanya melakukannya agar tidak terkena hukum alam yang telah disimpulkan oleh nenek moyang terdahulu. Mereka sangat percaya dengan hukum alam yang sudah digariskan .

Perkawinan

Jika kita memandangnya dari sisi kebudayaan maka perkawinan merupakan pengatur kelakuan manusia yang bersangkut paut dengan kehidupan sexnya. Hal ini agar seorang laki-laki tidak sembarangan dalam bersetubuh dengan wanita.( Koentjaraningrat : 1972: 90 ). Pada dasarnya manusia memiliki keinginan untuk bisa berkeluarga . Dalam berkeluarga juga memberikan hak dan kewajiban serta perlindungan teradap anak. Hal ini keluarga sangat erat kaitannya dengan kekerabatan. Perkawinan itu memperluas jaringan kekerabatan kita .

Dalam pembahasan tentang perkawinan ini kita nantinya akan banyak menemui hal tentang pembatasan jodoh dalam perkawinan , syarat untuk kawin dan adat menetap sesudah menikah. Masalah tentang pembatasan jodoh yang ada dalam perkawinan dekat dengan istilah perkawinan yang eksogami. Artinya menikah diluar batasan suatu kelompok tertentu. Seperti yang ada dalam buku ini , Koentjaraningrat memberikan contoh pada masyarakat Batak yang tidak boleh menikahi orang yang memiliki marga yang sama. Jika dilarang akan mendapat hukuman dari nenek moyang dan ini sudah menjadi suatu kepercyaan yang telah diwariskan dari nenek moyang . Memang betul ketika kita berbicara perkawinan di luar batas lingkungan keluarga sendiri terutama untuk menghindari perkawinan incest atau perkawinan sedarah karena hal ini dianggap tidak produktif. Incest ini juga memiiki istilah yang namanya sumbang seperti yang disebutkan dalam bukunya Koentjaraningrat ini.

Untuk syarat –sayarat kawin juga akan membahas mengenai mas kawin atau bride price .Maksutnya mas kawin ini sebagai alat pengganti kerugian . Koentjaraningrat memberikan contoh mengenai masyarakat Tanimbar yang mengenal sistem pemberi dan penerima wanita dan kedua kelompok  ini akan saling memeberika persembahan sebagai hubungan timbal balik agar tetap melanggengkan hubungan kekerabatan sosial.

Dalam adat menetap menikah akan menemui banyak istilah yang perlu kita ketahui misalnya : ( Koentjaraningrat : 1972 : 103)

  1. Adat Utralokal : menetap di sekitar pusat kediaman kaum kerabat suami atau di sekitar pusat kediaman kaum kerabat istri.
  2. Adat Virilokal : menetap sekitar pusat kediaman kaum kerabat suami.
  3. Adat Uxorilokal : menetap di sekitar pusat kediaman kaum kerabat istri.
  4. Adat Bilokal : menetap dengan bergantian baik di pusat kediaman kerabat suami dan kerabat istri.
  5. Adat Neolokal : menetap di tempat baru tidak berada di sekitar kediaman kerabat suami dan istri.
  6. Adat Avunkulokal : menetap sekitar tempat kediaman saudara laki-laki ibu (avunculus) dari suami.
  7. Adat Natolokal : tinggal terpisah , suami dekat dengan kerabat suaminya dan istri juga dekat dengan kerabat istri.

Dalam kekerabatan ini sangat dipengaruhi oleh pergaulan. Semakin luas pergaulan otomatis akan semakin luas jaringan kekerabatannya. Hal ini akan mendukung perkembangan suatu kelompok kekerabatan denga bentuk yang konkret.

 

 

Rumah Tangga dan Keluarga Inti

            Rumah tangga adalah bentuk suatu kesatuan sosial dan kesatuan ini biasanya mengurus ekonomi rumah tangga. Dan uniknya Koentjaraningrat memberikan contoh masyarakat Bali yang mengenal kata “kuren” yaitu rumah tangga namun juga bisa berarti dapur. Karena dalam hal ini Koentjaraningrat menjelaskan tentang cara menghitung jumlah rumah tangga bukan dengan cara menghitung jumlah rumah atau jumlah keluarga intinya namun dilihat dari jumlah dapur yang ada . Karena jumlah dapur itu akan sesuai dengan jumlah rumah tangga yang masing-masing hidup dalam berpetak-petak. (Koentjaraningrat : 1972).

Dapat disimpulkan bahwa adanya variasi-variasi kelompok kekerabatan yang mungkin ada di dalam masyarakat. Berikut rangkumannya: ( Koentjaraningrat : 1972 : 135)

  1. Keluarga Inti ( nuclear family) , wujudnya itu kecil, warga biasanya tinggal di suatu tempat tinggal dan merupakan satu rumahtangga . Dan kemungkinan variasi itu terjadi karena adanya orientasi yang conjugal .Keluarga inti itu berupa seorang ayah,ibu,anak yang belum kawin.
  2. Keluarga Luas ( extended family), wujudnya itu kecil , warga biasanya tinggal bersama di satu tempat tinggal dan merupakan satu rumah tangga. Dan kemungkinan variasi itu terjadi karena adanya orientasi yang collateral dan memiliki adat menetap menikah berupa utrolokal,uxoriokal dan virilokal.
  3. Kindred , wujudnya itu antar warga masih bisa saling mengenal namun tinggal terpencar berkumpul kadang kala. Kemungkinan variasi itu terjadi karena adanya orientasi yang collateral  dan memiliki prinsip keturunan yang bilateral.
  4. Keluarga Ambilineal Kecil ( Minimal ramage ), wujudnya itu hampir sama dengan Kindred yang membedakan ketika brbicara mengenai Orientasi yang digunakan adalah nenek moyang ( lineal ) dan memiliki prinsip keturunan yang ambilineal.
  5. Klen kecil ( Minimal lineage,clan), wujudnya itu hampir sama juga dengan Ambilineal kecil namun yang membedakan terletak dalam prinsip keturunannya itu adalah patrilineal ,matrilineal dan bilineal.
  6. Keluarga Ambilineal Besar ( Maximal ramage ) , wujudnya itu melibatkan banyak warga yang membuat perkumpulan yang sangat besar dan tidak saling mengenal karena tmapt tinggal mereka terpencar jauh. Kemungkinan variasinya adalah adanya orientasi yang lineal namun memiliki prinsip keturunan yang ambilineal.
  7. Klen besar ( Maximal lineage, clan), wujudnya itu hampir sama dengan keluarga ambilineal besar namun yang membedakan adalah prinsip keturunannya yaitu patrilineal, matrilineal dan juga bilineal.
  8. Fratri (Phratry), wujudnya itu antar warganya tidak saling kenal karena jumlah warganya amat banyak . Selain itu tempat tinggalnya terpencar jauh dan sebagian berkumpul secara kadang kala pada upacara fratri yang besar. Kemungkinan variasianya adalah orientasinya yang lineal dan prinsip keturunannya patrilineal, matrilineal dan bilineal.
  9. Paroh masyarakat ( Moiety ). Wujudnya itu antar warganya tidak saling mengeanal karena jumlahnya yang terlalu besar dan bertempat tinggal terpencar jauh sebagian juga ada yang berkumpul secara kadang kala pada upacara moiety yang besar. Kemungkinan variasinya adalah orientasinya pada nenek moyang atau lineal dan memiliki prinsip keturunan yang patrilineal, matrilineal dan bilineal.

Menurut konsepsi G.P Murdock ada tiga penggolongan dalam kekerabatan yaitu fungsi yang bersifat koorporasi ( corporate) , yang bersifat kadang kala ( occasional) dan yang bersifat melambangkan kesatuan adat ( circumscriptive). Dalam zaman modern ini banyak fungsi sosial yang diambil alih oleh pranata sosial dan lembaga-lembaga dalam masyarakat. Misalnya mengerahkan tenaga untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dalam masyarakat kota bahkan di desa sudah jarang sekali yang masih menggunakan hubungan kekerabatan karena semakin spesifik keahlian manusia maka dapat dikerahkan dengan sistem upah .  (Kontjaraningrat : 1972 ).

      Pada bab selanjutnya akan membahas mengenai suatu kesatuan hidup setempat . Maksutnya adalah terjadi suatu kelompok yang bukan berdasarkan pada ikatan kekerabatan namun berdasarkan pada letak dimana ia tinggal. Hal ini juga sangat perlu kita ketahui untuk hal- hal yang berkaitan dengan sosial masyarakat.

BAB IV

KESATUAN HIDUP SETEMPAT

Kesatuan hidup (community) terjadi bukan karena adanya ikatan kekerabatan, tetapi karena ikatan lingkungan tempat tinggal. Bentuk komunitas ada banyak; komunitas besar (kota, negara bagian, negara, persekutuan negara-negara, dll). Komunitas kecil seperti band (kelompok berburu yang berpindah-pindah), desa, rukun tetangga, dan sebagainya.(Koentjaraningrat : 1972).

Dalam buku ini dijelaskan juga mengenai kelompok kecil artinya adalah kelompok yang warganya masih bisa saling mengenal, tidak ada aneka warna yang besar, dan dapat menghidupi sebagian besar dari lapangan – lapangan kehidupannya secara penuh.Solidaritas dalam masyarakat kecil kemungkinan besar dapat terjadi karena adanya prinsip timbal balik sebagai penggerak masyarakat yang disebabkan karena adanya rasa saling tolong menolong yang besar dan di samping itu lingkupnya yang kecil. Tolong –  menolong banyak macamnya, seperti tolong – menolong dalam aktivitas pertanian, sekitar rumah tangga, persiapan pesta dan upacara, peristiwa kecelakaan, bencana, kematian, dsb.

Kebiasaan gotong royong yang masih menjadi kebiasaan masyarakat Indonesia merupakan salah satu bentuk kerjasama dalam kehidupan sosial. Gotong royong tidak membutuhkan keahlian atau latar pendidikan yang tinggi. Semangat gotong royong merupakan sikap yang mengandung pengertian terhadap kebutuhan sesama warga masyarakat yang bersumber dari hati nurani. Memang pada dasarnya, manusia adalah makhluk sosisal yang selalu membutuhkan bantuan dari orang lain, secara sadar mereka akan saling membantu satu dengan yang lain. Salah satu kegiatan yang didapat dari jiwa gotong royong ialah musyawarah, yaitu suatu unsur sosial yang ada dalam banyak masyarakat pedesaan di dunia dan juga di Indonesia.

Pelapisan sosial muncul karena adanya pembedaan status dan peran terhadap individu satu dengan yang lain. Dan pembedaan tersebut tidaklah sama, ada yang berupa kekuasaan, kekayaan, kepandaian, dan sebagainya. Adanya perbedaan yang amat mendasar dalam suatu tingkat pelapisan sosial dinamakan social classes atau sosial takresmi. Penilaian tentang tinggi ataupun rendah pada suatu lapisan sosial takresmi oleh tiap warga tidaklah sama. (Koentjaraningrat : 1972)

Dalam beberapa masyarakat tertentu orang dengan latar belakang pendidikan tinggi bisa – bisa saja menjadi lebih tinggi tingkatannya dengan orang kaya. Di samping itu berbagai individu memiliki paradigma masing – masing yang bisa melihatnya dari berbagai perspektif, dengan kata lain sesuai dengan konteks dan konsep. Ada juga masyarakat yang lapisan dan kelas sosial itu sudah menjadi hal nyata, karena warga dari suatu lapisan atau kelas itu mendapat sejumlah hak – hak dan kewajiban – kewajiban ke dalam adat yang dilindungi oleh hukum adat atau hukum yang berlaku.

Alasan-alasan untuk susunan berlapis dapat dilihat melalui: kualitas dan kepandaian, tingkat umur yang senior, sifat keaslian, keanggotaan kaum kerabat kepala masyarakat, sifat pengaruh dan kekuasaan, pangkat, dan kekayaan harta benda.(koentjaraningrat : 1972).

Sistem pengendalian sosial; berupa adat, yang dalam prakteknya berupa cita-cita, norma, pendirian, kepercayaan, sikap, aturan – aturan, hukum, undang-undang, dan sebagainya. Berikut ini beberapa butir cara pengendalian sosial :

  1. Mengajakan kepada masyarakat tentang norma dan nilai.
  2. Mempertebal keyakinan masyarakat akan kebaikan adat istiadat.
    1. Mengembangkan rasa malu dalam masyarakat yang melakukan pelanggaran dari aturan adat istiadat.
    2. Memberi ganjaran kepada masyarakat yang biasanya taat kepada adat istiadat.
      1. Mengembangkan rasa takut dalam jiwa masyarakat yang handak menyeleweng dari adat istiadat dengan ancaman dan kekerasan. (Koentajaraningrat : 1972 : 206-209).

Selanjutnya akan membahas mengenai asal usul dari munculnya sistem religi dan ilmu gaib di dalam masyarakat. Hal ini sangat menarik karena di jaman sekarang walaupun dengan segala kemajuan teknologi dan ketrampilan manusia yang semakin berkembang ternyata masih ada masyarakat yang percaya dengan kekuatan yang ada di luar dari dirinya yang secara langsung dapat mempengaruhi kehidupannya dan membuat kita untuk berfikir bahwa ada kekauatan lain yang ada di luar diri kita kaitannya dengan nilai religi dan mistis.

BAB V

SISTEM RELIGI DAN ILMU GAIB

Dalam Bukunya, Koentjaraningrat memaparkan dasar teori yang digunakan dalam sistem religi dan ilmu gaib. Banyak pembahasan yang diterangkan oleh Koentjaraningrat dengan menggunakan metode deskripsi dan penjelasan yang dihubungkan dengan teori-teori-teori yang mendukung dan dari ahli-ahli yang memperdalam materi tersebut. Berikut teori-teori yang penting dan perlu kita ketahui bersama.Teori tentang asal mula dan inti religi yaitu : (Koentjaraningrat : 1972)

  1. Teori bahwa manusia mulai sadar akan adanya faham jiwa.
  2. Teori bahwa manusia mengakui adanya banyak gejala yang tidak dapat diterangkan dengan akalnya.
  3. Teori bahwa manusia bermaksud untuk menghadapi krisis – krisis yang ada dalam jangka waktu hidup manusia.
  4. Teori bahwa manusia kagum akan adanya gejala dan kejadian luar biasa dalam hidupnya dan alam sekelilingnya.
  5. Teori bahwa emosi yang ditimbulkan oleh getaran dalam jiwa manusia sebagai akibat dari pengaruh rasa kesatuan sebagai warga masyarakatnya.
  6. Teori bahwa manusia mendapat sesuatu yang berupa firman dari Tuhan.

 

 

Berikut ini merupakan pemaparan teori – teori sesuai dengan efek dari nama teori tersebut : ( Koentjaraningrat : 1972)

  1. 1.    Teori jiwa

Faham jiwa disebabkan karena dua hal; (1) Perbedaan yang tampak pada manusia antara hal-hal yang hidup dan hal-hal yang mati. (2) Peristiwa mimpi.

  1. 2.    Teori batas akal

Makin maju kebudayaan manusia, makin luas batas akal. Menurut Frazer ada perbedaan antara magic dan religion. Magic adalah perbuatan manusia untuk mencapai suatu maksud dengan kekuatan gaib didalam alam. Sedangkan religion adalah perbuatan manusia untuk suatu maksud dengan menyandarkan diri pada kemauan dan kekuasaan makhluk halus seperti ruh, dewa, dan sebagainya.

  1. 3.    Teori masa kritis dalam hidup individu

Ketika mengalami masa kritis dalam hidup, manusia butuh perbuatan untuk memperteguh iman dan menguatkan dirinya. Dan hal itu merupakan pangkal dari religi dan bentuk religi yang tertua.

  1. 4.    Teori kekuatan luas biasa (Marett)

Kepercayaan kepada suatu kekuatan sakti yang ada dalam gejala-gejala, hal-hal, peristiwa yang luar biasa, yang kemudian dianggap Marett sebagai suatu kepercayaan yang ada pada makhluk manusia sebelum ia percaya kepada makhluk – makhluk halus dan ruh -ruh.

 

Menurut Koentjaraningrat Unsur-unsur dasar religi; ada empat yaitu :

a.  Emosi keagamaan atau getaran jiwa yang menyebabkan manusia berlaku religi.

b.  Sistem kepercayaan atau bayangan manusia tentang bentuk dunia, alam, dan hidup

c.   Sistem upacara keagamaan yang bertujuan mencari hubungan dengan dunia ghaib berdasarkan atas sistem kepercayaan tersebut.

d.    Kelompok keagamaan atau kesatuan sosial yang mengkonsepsikan dan mengaktifkan religi beserta sistem upacara keagamaan.

Sedangkan macam – macam religi ada delapan , yaitu fetishism, animism, animatism,

prae – animism, totemism, polytheism, monotheism, dan mystic.(Koentjaraningrat: 1972)

 

            Suatu konsepsi mengenai azas religi yang berorientasi kepada sikap manusia dalam menghadapi dunia gaib atau hal Yang Gaib berasal dari teologi Rudolf Otto, yang diuraikannya dalam sebuah buku yang telah menarik perhatian kalangan luas, berjudul Das Heiliege (1917). Das Heilige yang berarti sesuatu yang suci telah memaparkan sebagian besar disiplin ilmu teologi hingga masyarakat luas sangat tertarik. Menurut Otto sendiri dalam sebuah kehidupan yang terpaut sistem religi, kepercayaan dan agama di dunia berpusat kepada suatu konsep tentang hal yang gaib (mysterium), yang dianggap dahsyat (tremendum), dan keramat (sacer) oleh manusia.(Koentjaraningrat : 1972).

Menurut Koentjaraningrat, dasar-dasar ilmu gaib ialah (a) kepercayaan kepada kekuatan sakti dan (b) hubungan sebab-akibat menurut hubungan asosiasi. Contoh perbuatan yang mempercayai kekuatan sakti (gaib) ialah membasmi penyakit dengan jimat. Terdapat dua macam magic mulai dari  teknik untuk melakukan proses tersebut dan tata cara upacaranya yaitu imitative magic dan contagious magic. Imitative magic meliputi semua perbuatan ilmu gaib yang meniru keadaan sebenarnya yang hendak dicapai. Contoh : upacara yag diadakan untuk meminta hujan dengan cara menyiram dukunnya dengan air. Contagious magic meliputi semua perbuatan ilmu gaib yang berdasarkan pendirian bahwa suatu hal itu bisa menyebabkan hal lain yang ada hubungannya yang lahir. Contoh : pemakaian katak untuk mendatangkan hujan, menusuk gambar orang agar orang tersebut sakit.(Koentjaraningrat : 1972).

 

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN BUKU

Kelebihan :

Bagi para antropolog terutama yang masih di semester awal , buku ini sangat perlu dimiliki. Hal ini dikarenakan buku yang praktis namun tercantumkan informasi yang sangat penting. Koentjaraningrat sering menggunakan contoh kasus yang memudahkan kita untuk mengeksplorasi pikiran kita dengan adanya fakta di lapangan yang tidak bisa dipungkiri.

Di dalam buku ini, Koentjaraningrat memaparkan dan menjabarkan pendapatnya secara gamblang dan jelas. Ketika pembaca sedang membaca buku ini, secara mudah otak menerima dan membenarkan apa yang dipaparkan oleh Beliau. Di dalam buku ini, banyak jterdapat sumber referensi yang ada pada footnote dan lembar atau halaman “Karangan Untuk Memperdalam Pengertian”. Koentjaraningrat menggunakan banyak sumber referensi dalam menulis buku Beberapa Pokok Antropologi Sosial, dengan ini para mahasiswa bisa merasa yakin bahwa buku yang mereka baca merupakan bacaan yang tepat. Di samping itu, Beliau memberikan penggambaran atau perumpamaan sebuah kasus dengan jelas, jadi lebih mudah dimengerti.

 

 

Kekurangan :

Buku Beberapa Pokok Antropologi Sosial ini juga memiliki kekurangan. Setiap akhir dari sebuah bab selalu ada karangan yang akan membantu pembaca untuk memperluas pemikiran dan membuka “jendela” baru. Namun, karangan yang dijadikan referensi oleh Koentjaraningrat susah untuk dicarinya. Penggunaan ejaan lama membuat pembaca sedikit kesusahan dalam mengerti arti dari kata – kata tersebut.

PENUTUP

Sebagian besar dalam buku Beberapa Pokok Antropologi Sosial ini sangat membantu para mahasiswa untuk mengenal antropologi secara mendalam namun ringan dalam segi bacaan. Buku ini merupakan buku yang sangat baik untuk pemula karena di buku ini banyak deskripsi – deskripsi, contoh – contoh kasus, dan diperkuat oleh visualisasi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“REVIEW BUKU  BEBERAPA POKOK ANTROPOLOGI SOSIAL KOENTJARANINGRAT”

 

Nama              : Anindha Lutfika Reni

Program Studi         : Antropologi Budaya

 

 

JURUSAN ANTROPOLOGI BUDAYA

 

 

 

Etnografi Minangkabau

Nama : Anindha Lutfika Reni

NIM  : 12/335149/SA/16625

ETNOGRAFI MINANGKABAU

“ KAMPUANG NAN JAUH DIMATO ”

Kesenian dan Kebudayaan Minangkabau yang beragam berhasil menyita perhatian para budayawan dan turis mancanegara. Ketika mendengar kata minangkabau saya langsung teringat temen kecil saya . Keluarganya asli orang minang dan pernah tinggal disamping rumah saya.Waktu itu saya masih duduk di sekolah dasar. Begitu banyak yang bisa saya cerna dari kehidupan sehari-hari orang minang. Dulu mungkin saya tidak begitu peka dan mengerti budaya orang minang itu bagaimana . Namun karena saya hampir setiap hari main kerumahnya saya jadi mengerti kehidupan orang minang . Yang saya ingat adalah dulu selalu dibuatkan masakan pedas. Pernah suatu ketika saya mogok makan karena keinginan saya untuk dapat makan pedas di rumah teman saya. Begitu juga sebaliknya waktu kami isi dengan bermain bersama . Saya masih inget betul nada orang minang berbicara seperti apa. Mata kuliah ini mengingatkan saya kepada teman kecil saya yang dulu pernah tinggal disamping rumah.Pekerjaan orangtuanya adalah pedagang di kios emperan  Malioboro. Saya menjadi paham bahwa orangtua temen saya ini adalah seorang perantauan. Ini membuktikan bahwa orang minang erat kaitannya dengan sosok yang pekerja keras karena terkenal dengan gaya perantauannya. Ini hanya sekilas pengalaman saya  mengenal orang minang dalam kehidupan kesehariannya.

Saya terinspirasi dari lagu daerah Minangkabau yang berjudul “ Kampuang Nan Jauh Di Mato”. Dari sinilah saya mengerti karakter orang Minang dan juga kondisi alam serta gambaran penduduknya . Tak perlu mengkaji banyak literatur. Dengan menganalisis lagu ini saya dapat mengambil beberapa point  yang penting untuk dibahas. Lagu daerah ini memang sangat familiar di telinga banyak orang. Mencari lirik lagu dan mengartikannya menjadi bahasa Indonesia dengan bantuan mesin pencari di internet. Berikut lirik lagu daerah tersebut yang saya dapatkan dari internet . Lagu ini ciptaan dari A.Minos.

Kampuang nan jauh di mato. Gunung sansai baku liliang. Takana jo kawan , kawan den lamo. Sangkek den basuliang Suliang. Panduduaknyo nan elok . Nan suko bagotong royong. Jiko sakik samo samo diraso. Den takana jo kampuang. Takana jo kampuang. Induak ayah adik sadonyo. Raso manghimbau himbau denai pulang. Den takana jo kampuang.

Membahas satu persatu lirik dan menemukan makna dari lagu daerah Minangkabau ini . Salah satu cara saya untuk dapat mengapresiasi seni musik etnik yang ada di Indonesia. Lagu yang berjudul kampuang nan jauh dimato ini adalah salah satu lagu yang menurut saya menggambaran kondisi alam, gambaran suasana kampung halaman dan penduduknya serta mengandung nilai-nilai seni Minangkabau ini. Ketika saya mencoba menerjemahkan lirik lagunya satu persatu ke dalam bahasa indonesia. Akhirnya saya bisa nemukan point penting dan ini menurut saya sudah dapat mewakili gambaran saya mengenai Minangkabau. Kita mulai mengkaji dari judul lagunya. Kampuang nan jauh dimato artinya adalah kampung yang jauh dimata. Hal ini bisa saya deskripsikan bahwa si pengarang lagu ini adalah sosok perantau yang rindu akan kampung halaman . Yang menjadi ciri khas bahwa ini lagu daerah Minangkabau adalah ketika saya melihat video karaoke lagu daerah ini lewat situs youtube. Divideo itu ditampilkan dengan orang yang menari dengan baju adat yang khas orang minang. Selain itu juga yang menjadi ciri khas orang minang ketika menyanyikan suatu nada dengan aliran musik pop melayu. Saya merasakan ada perbedaan yang khas antara musik minang dengan musiknya orang Batak dan orang Aceh. Lagu ini berasal dari Sumatra Barat (daerah Minang) bercerita tentang kampung halaman Minang yang indah dan penduduknya yang ramah serta suka bergotong royong sehingga menimbulkan kerinduan untuk selalu ingin pulang bertemu dengan keluarga.

Lirik yang kedua adalah gunung sansai batuliliang artinya adalah daerah yang dikelilingi oleh banyak gunung. Maka dari itu saya juga menjadi tahu bagaimana kondisi alam yang ada di daerah Minang ini dengan banyak gunung akan menggambarkan panorama alam yang indah yang membuat para orang perantaua menjadi rindu akan kampung halamanya. Selanjutnya Takana jo kawan , kawan den lamo artinya adalah rasa ingin bertemu kawan lama yang dirasakan oleh si pengarang lagu. Lantas apa yang menjadikan pengarang ingin untuk bertemu dengan kawan lamanya. Di lirik lagu selanjutnya Sangkek den basuliang Suliang artinya bermain suling bersama-sama hal ini lah yang menyebabkan si perantau alias si pengarang lagu ini menjadi rindu ingin bermain suling bersama dengan kawan lamanya. Suling menjadi alat musik tradisional yang biasa digunakan orang Minang dalam acara- acara tertentu. Suara suling yang menjadi ciri khas alunan musik Minangkabau yang ternyata digemari oleh masyarakat Minang. Suasana kampung yang tentram dan bahagia ini terlihat dari suasana kampung yang dihiasi dengan lantunan merdu dari suara suling. Hal ini jelas menambah keindahan suasana di kampung halaman minangkabau . Lirik berikutnya adalah Panduduaknyo nan elok . Nan suko bagotong royong artinya penduduknya ramah dan suka bergotong royong. Jiko sakik samo samo diraso. Den takana jo kampuang kurang lebih artinya adalah jika susah dan senang sama-sama merasakan. Ini menunjukan bahwa tingkat solidaritas masyarakat Minang sangatlah tinggi. Solidaritas yang tinggi ini mungkin bisa disebabkan karena berlatar belakang sebagai sesama perantau yang membuat mereka merasa senasib dan sepenanggungan. Induak ayah adik sadonyo. Raso manghimbau himbau denai pulang. Den takana jo kampuang artinya adalah ingin pulang ke kampung halaman untuk dapat bertemu dengan ibu, ayah , adik dan semuannya. Rasa untuk ingin puang ke kampung halaman .

Kesimpulannya bahwa dengan cara yang sederhana menganalisis satu persatu lirik lagu ini saya bisa membayangkan daerah Minangkabau itu seerti apa tanpa harus datang kesana saya bisa merasakan itu dalam lirik lagu tersebut. maka dari itu tujuan saya mengambil mata kuliah Etnografi Minangkabau ini ketika saya tidak dapat pergi kesana karena keterbatasan biaya dan tidak ada saudara yang dapat disinggahi yang menunda langkah saya untuk pergi ke sana. Namun harapan saya ketika setelah saya mengambil mata kuliah ini saya menjadi paham dan mengerti betul budaya orang minang seperti apa tanpa harus datang kesana saya bisa belajar dimana-mana.

 

 

 

 

 

 

Contoh desain penelitian survai

Tugas Paper Mata Kuliah “ Metode Penelitian Survei”

“Pemanfaatan Fasilitas Perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya UGM” 

Nama               : Anindha Lutfika Reni

NIM                : 12/16625/SA/335149

                                              Jurusan           : Antropologi Budaya

                                                          “DESAIN PENELITIAN”

                                                 ANTROPOLOGI BUDAYA 2013

FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS GADJAH MADA

BAB I

LATAR BELAKANG

           

            Membaca merupakan kegiatan yang positif untuk dilakukan karena dengan membaca wawasan kita menjadi luas dan itu sebabnya membaca adalah “jendela dunia”. Membaca juga memiliki banyak manfaat dalam menambah wawasan dan juga mempertajam pola pikir seseorang. Dengan istilh tersebut , kita menjadi mengerti bahwa membaca sangat berperan dalam perkembangan pengetahuan seseorang.

            Saya akan membahas lebih lanjut tentang apa saja yang menjadi faktor pendukung dan penghambat dari seseorang dalam membaca . Tentu saja membaca tidak hanya berupa buku, bisa juga berupa koran, majalah, jurnal bahkan di era yang sudah modern ini banyak yang bisa diakses secara online. Contohnya saja situs koran elektronik yang menampilkan berita yang bisa diterbitkan dalam tiap hari bahkan tiap menit pun kita bisa akses berita terbaru dengan internet.

Perpustakaan adalah suatu fasilitas yang disediakan untuk mempermudah para mahasiswa dalam mengakses buku yang bisa menambah referensi baik untuk melengkapi tugas maupun skripsi daan lain-lain. Perpustakaan sendiri sangatlah berpengaruh dalam kegiatan membaca para mahasiswa.

 Hal – hal yang seperti ini yang mungkin mempengaruhi suatu minat seseorang untuk membaca di dalam  perpustakaan. Masih banyak faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi minat baca seseorang. Mulai dari fasilitas, suasana hingga prosedur dan jam kerja perpustakaan terutama perpustakaan FIB UGM.

            Harapannya, dengan tugas ini bisa dijadikan sebagai bahan evaluasi dalam  memperbaiki suatu fasilitas tertentu yang memang penting keberadaannya untuk pemenuhan kebutuhan  mahasiswa dalam mencari referensi tambahan agar menambah wawasan dan teori-teori yang perlu diketahui para mahasiswa. Selain itu, saya juga ingin mengerti seberapa jauh mahasiswa memanfaatkan fasilitas  perpustakaan khususnya perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya UGM.

                                                                       BAB II

RUMUSAN MASALAH

  1. A.    VARIABEL PENELITIAN

 

  1. 1.      VARIABEL DEPENDENT

 

–          Perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya

 

  1. 2.      VARIABEL INDEPENDENT

 

–          Fasilitas

–          Jam Kunjungan

–          Prosedur Peminjaman

–          Suasana

–          Kebutuhan

 

Variabel adalah suatu objek peneliti yang dinamai sendiri oleh si peneliti.Kedua variabel ini bergerak selalu bersinergi. Variabel independet mempengaruhi variabel yang dependent . Hal ini yang memudahkan saya untuk melihat suatu fakta lapangan dengan perhitungan secara survei. Subjek penelitian lebih fokus kepada mahasiswa – mahasiswi Fakultas Ilmu Budaya UGM dan yang dijadikan sebagai objek penelitian ini adalah Perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya.

Dari hal tersebut, kita menjadi tahu komponen-komponen apa saja yang bisa dijadikan pendukung fakta lapangan yang mungkin bisa memunculkan sesuatu nilai perbaikan untuk meningkatkan minat baca mahasiswa dalam membaca . Faktor-faktor yang mempengaruhi minat baca mahasiswa di dalam perpustakaan. Mulai dari fasilitas perpustakaan itu sendiri, sampai dengan pemenuhan kebutuhan seseorang dalam memanfaatkan Perpustakaan yang telah di sediakan oleh pihak Universitas untuk mendukung segala hal dalam suatu proses pembelajaran para Mahasiswa dan mahasiswi Fakultas Ilmu Budaya .

  1. B.     ASUMSI DASAR

 

  1. Minat baca masing- masing mahasiswa berbeda-beda
  2. Mahasiswa masing-masing punya penilaiannya sendiri dalam menanggapi fasilitas perpustakaan fakultas ilmu budaya
  3. Mahasiswa mempunyai tujuannya masing-masing di dalam penggunaan sarana perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya
  4. Mayoritas mahasiswa Fakultas Imu Budaya memanfaatkan perpustakaan di saat memerlukan referensi tambahan dalam pemenuhan suatu tugas maupun penyelesaian skripsi dan lain-lain.

 

  1. C.     HIPOTESA

 

Adanya hubungan antara variabel dependent dengan variabel yang independent yang bisa memunculkan suatu dugaan atau hipotesa yang menyebutkan bahwa banyak faktor yang mempengaruhi minat baca seseorang di dalam perpustakaan . Mayoritas mahasiswa hanya meminjam buku di perpus lalu membacanya di tempat lain tidak di perpustakaan itu sendiri . Hal yang seperti ini yang bisa dijadikan sebagai dasar persoalan pemanfaatan fasilitas perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya.

Melihat dari variabel independent yang ada memang masing-masing mahasiswa pasti mempunyai alasan dan tujuannya masing – masing dalam menggunakan fasilitas perpustakaan tersebut.  Satu per satu akan di bahas lebih dalam sehingga dapat menimbulkan berbagai hipotesa.

 

–          Fasilitas

 

Dalam hal ini fasilitas tertentu dapat dijadikan alasan pendukung fakta lapangan karena minat baca seseorang di dalam perpustakaan sangat tergantung kepada fasilitas di dalam perpustakaan itu sendiri. Contohnya saja dalam hal peyedian kursi untuk sarana membaca di dalam perpustakaan yang minim yang membuat para mahasiswa lebih memilih membaca di luar perpustakaan . Selain itu kelengkapan penyedian buku juga dijadikan alasan pemanfaatan perpustakaan ini. Banyak yang mengeluhkan buku yang ingin di pinjam ternyata masih dipinjam orang lain dan tidak tahu kapan akan dikembalikan sedangkan pada waktu itu juga kita butuh. Seperti yang pernah saya alami. Ada lagi mungkin dengan penambahan fasilitas berupa wifi mahasiswa akan tertarik untuk sering berkunjung ke perpustakaan hal ini bisa dijadikan cara untuk bisa meningkatkan minat baca mahasiswa di dalam perpustakaan.

–          Jam Kunjungan

Perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya dibuka mulai jam 08.00 pagi sampai jam 15.00 sore . Hal ini yang juga bisa mempengaruhi minat baca mahasiswa. Jam kunjungan tersebut sudah disesuaikan dengan jam – jamnya mahasiswa kuliah sehingga untuk maslah jam kunjungan menurut saya tidak begitu mempengaruhi karena jam nya sudah di sesuaikan dengan jam – jam kulih mahasiswa.

–          Prosedur Peminjaman

Menurut saya , proses pembuatan kartu perpustakaan ini bisa dibilang cukup lama karena biasanya jadi dalam 3 hari. Dengan membayar delapan ribu rupiah ternyata juga mempengaruhi seseorang dalam membuat atau tidaknya kartu perpustakaan. Hal ini terjadi pada teman saya , setelah tahu  harus membayar delapan ribu rupiah mahasiswa lebih banyak berpikir untuk mengiyakan atau tidak. Hal ini lah yang bisa dijadikan suatu alasan dengan pembayaran pembuatan kartu yang dianggap agak memberatkan bagi mahasiswa yang berpengaruh dalam proses peminjaman buku di perpustakaan.

–          Suasana

Suasana di dalam perpustakaan juga mempengaruhi minat baca mahasiswa di dalam perpustakaan. Menurut saya , perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya ini susana nya bisa dibilang sudah mendukung mungkin dalam membaca membutuhkan ketenangan. Hampir di setiap perpustakaannya biasanya di tuliskan peringatan untuk tidak boleh berisik dan diharapkan tetap menjaga ketenangan supaya tidak mengganggu mahasiswa lain.

–          Kebutuhan

Mayoritas mahasiwa memanfaatkan perpustakaan untuk menambah referensi tambahan dalam pemenuhan tugas , pemenuhan skripsi dan yang lain-lain. Maka dari itu , pengunjung perpustakaan itu sendiri di dominasi oleh mahasiswa-mahasiswa yang sudah berada di tingkat akhir . Hal ini yang saya amati di dalam ruang perpustakaan dalam bagian kumpulan skripsi , thesis dan  disertasi ini justru lebih ramai dikunjungi oleh mahasiswa yang mungkin sudah berada di tingkat akhir sedangkan di ruang penyimpanan buku justru lebih sedikit pengunjungnya. Mahasiswa memang memiliki tujuannya masing-masing dalam pemenuhan suatu kebutuhan dalam penyelesaain tugas maupun tidak.

  1. D.     TUJUAN PENELITIAN

 

  1. Untuk mengetahui seberapa jauh minat baca mahasiswa di dalam perpustakaan.
  2. Sebagai bahan evaluasi untuk perbaikan suatu fasilitas
  3. Untuk mengetahui apa saja yang mempengaruhi minat baca mahasiswa dalam pemanfaatan perpustakaan
  4. Untuk mengetahui seberapa optimalkah mahasiswa dalam pemanfaatan fasilitas yang sudah ada di dalam perpustakaan fakultas ilmu budaya.

E DAFTAR PERTANYAAN ( QUETIONER )

  1. Apakah anda mempunyai kartu perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya?

Ya/Tidak

  1. Bagaimana menurut anda fasilitas yang ada di dalam perpustakaan fakultas ilmu budaya?

Baik/Cukup/Kurang

  1. Fasilitas yang bagaimana yang di inginkan para mahasiswa?
    1. Wifi
    2. AC
    3. Alat pencari buku On line
    4. Hot spot
    5. Lain-lain
    6. Bagaimana menurut anda tentang proses pembuatan kartu perpus?

Lama/cepat/berbelit/mudah

  1. Apa saja yang mempengaruhi minat baca mahasiswa di dalam perpustakaan, menurut anda?

Fasilitas/Suasana/Jam Kunjungan/Prosedur peminjaman/lain-lain………..

 F. PUSTAKA

Masri Singarimbun .  “Metode Penelitian Survey”.Jakarta: LP3ES

Ethnic Group dalam Arti Kelompok dan Golongan

Nama                         : Anindha Lutfika Reni

NIM                             : 12/335149/SA/16625

Jurusan                     : Antropologi Budaya

Tugas Mata kuliah   : Kesukubangsaan dan Nasionalisme

“ ETHNIC GROUP DALAM ARTI KELOMPOK DAN GOLONGAN”

Dalam kamus bahasa Inggris- Indonesia (Peter Salim, The Contemporary English – Indonesian DICTIONARY, 2006 ,hlm. 959 ) disebutkan makna “group” ada dua arti yang pertama berarti kelompok dan arti yang kedua berarti sejumlah orang / benda yang mempunyai kesamaan. Dalam kamus bahasa indonesia (W.J.S Poerwadarminta, 1976, Kamus Umum Bahasa Indonesia , hlm 469 dan 326) disebutkan makna dari kelompok adalah beberapa orang yang berkumpul / dikumpulkan menjadi satu. Sedangkan makna dari golongan adalah puak;tumpuk;kelompok;~bangsa , sekelompok bangsa (seperti ~Bangsa Tionghoa, Bangsa Arab);~(ter)besar, golongan bangsa (rakyat suatu negara) yang banyak jumlahnya;~(ter)kecil , golongan bangsa (rakyat suatu negara) yang sedikit jumlahnya.

“Definisi kelompok etnik dalam buku-buku antropologi (misalnya Narroll,1964), umumnya kelompok etnik dikenal sebagai suatu populasi yang:

  1. Secara biologis mampu berkembang biak dan bertahan
  2. Mempunyai nilai-nilai budaya yang sama dan sadar akan rasa kebersamaan dalam suatu bentuk budaya
  3. Membentuk jaringan komunikasi dan interaksi sendiri
  4. Menentukan ciri kelompoknya sendiri yang diterima oleh kelompok lain dan dapat dibedakan dari kelompok populasi lain.”(Fredrik Barth:1969:10-11)

“Definisi golongan etnik adalah suatu golongan manusia yang mempunyai kesadaran bahwa mereka mempunyai seperangkat tradisi yang berbeda dari golongan-golongan lain di dalam masyarakat dimana mereka hidup Tradisi-tradisi tersebut adalah;

  1. Kepercayaan dan praktek keagamaan (akidah dan amal keagamaan)
  2. Bahasa
  3. Rasa kesinambungan sejarah , dan
  4. Nenek moyang atau tempat asal bersama.” ( De Vos : 1982: 9)

Contoh yang termasuk dalam golongan etnik misal ; golongan peranakan arab, golongan peranakan cina dan lain-lain.

Kelompok etnik dibentuk oleh kelompok itu sendiri mulai dari ciri dan unsur  yang ada di dalam kelompok tersebut. Kelompok etnik juga akan mengakibatkan suatu penggolongan yang diakibatkan oleh tidak seimbangnya suatu kelompok atas penguasaanya . Dengan demikian pengertian Ethnic Group dalam arti kelompok dan golongan dapat dimaknai dari berbagai aspek kehidupan manusia.

 

 

�iRE}L

REVIEW BUKU PENGANTAR ILMU ANTROPOLOGI ( KOENTJARANINGRAT)

 

Tugas Mata Kuliah Penganar Antropologi II

“REVIEW BUKU  PENGANTAR ILMU ANTROPOLOGI KARANGAN KOENTJARANINGRAT”

 

Nama               : Anindha Lutfika Reni

Program Studi         : Antropologi Budaya

NIM                          : 12/335149/SA/16625

Angkatan         : 2012

 

JURUSAN ANTROPOLOGI BUDAYA

 FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS GADJAH MADA

 

PENDAHULUAN

Buku panduan untuk mahasiswa antropologi yang berjudul “Pengantar Ilmu Antropologi” merupakan sebuah jembatan yang dapat digunakan untuk mempermudah dalam mempelajari disiplin ilmu ini. Di dalam buku ini terdapat penjabaran mendetail disertai dengan teori-teori yang mendukung agar pembaca dapat memproyeksikan apa yang sedang dibahas dalam buku ini. Buku yang telah berulang kali dicetak terdiri dari 391  halaman dan terdapat delapan bab yang dan dilengkapi dengan karangan – karangan yang dapat digunakan untuk memperjelas. Setiap babnya dijelaskan secara bertahap sehingga lebih mudah dipahami oleh pembaca.

BAB I

Azas-azas dan ruang lingkup ilmu antropologi

Fase yang pertama

Fase pertama terjadi sekitar sebelum abad 1800. Peran penting di fase ini adalah kedatangan orang eropa barat di Afrika, Asia dan Amerika. Adanya pengaruh besar dari orang – orang eropa barat terhadap perkembangan pengetahuan.  Sedikit demi sedikit dapat mengumpulkan suatu pengetahuan baru yang berisi tentang deskripsi adat-istiadat , bahasa yang digunakan , ciri masing-masing suku dan lain –lain. Di dalam fase pertama ini muncul bahan pengetahuan etnografi. Dimana hal itu merupakan dasar dari ilmu Antropologi. Pengetahuan etnografi hendaknya perlu dikuasai oleh para antropolog. Pengertian pengetahuan etnografi itu sendiri adalah tentang deskripsi mengenai suatu suku bangsa.

Fase yang kedua

Fase kedua ini terjadi sekitar pertengahan Abad ke 19 . “ Cara berpikir tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut : Masyarakat dan kebudayaan manusia telah berevolusi dengan sanga lambat dalam satu jangka waktu bribu-ribu tahun lamanya, dari tingkat-tingkat yang endah , melalui beberapa tingkat antara, sampai ke tingkat – tingkat tertinggi .” ( Koentjaraningrat : 1981 : Hal . 3 ).Dari hal tersebut kita bisa menggambarkan bahwa pola pikir masyarakat di dalam fase kedua ini sudah mulai berevolusi. Penyusunan etnografinya pun sudah menggunakan pola pikir yang demikian.

“ Dengan demikian pada fase perkembangannya yang ke – II ini ilmu Antropologi berupa suatu ilmu yang akademikal dengan tujuan yang dapat dirumuskan sebagai berikut : mempelajari masyarakat dan kebudayaan primitif dengan maksud untuk mendapat suatu pengertian tentang tingkat-tingkat kuno dalam sejarah evolusi dan sejarah penyebaran kebudayaan manusia. “ ( Koentjaraningrat : 1981 : Hal. 4)

Fase ketiga

Fase ketiga ini terjadi di awal abad ke 20. “ Mempelajari bangsa di luar Eropa itu penting , karena bangsa-bangsa itu pada umumnya masih mempunyai masyarakat yang belum kompleks seperti masyarakat bangsa-bangsa Eropa. Suatu pengertian masyarakat yang tak komplek akan menambah juga pengertian masyarakat yang kompleks “( koentjaraningrat : 1981 : Hal 4 ). Dari hal tersebut kita bisa mengerti bahwa masyarakat yang kompleks itu seperti apa dan masyarakat yang belum kompleks itu seperti apa . Ini yang perlu diketahui oleh para antropolog untuk bisa memahami masyarakat dari segala aspek. Dari pengertian tersebut kita dapat menyimpulkan bangsa selain bangsa eropa barat masih ada yang dianggap belum kompleks masyarakatnya. Mempelajari bangsa lain memang penting untuk para antropolog sebagai pembanding dan pelengkap ilmu yang sudah ada.

 Fase keempat

Fase ini terjadi setelah tahun 1930 .di dalam fase ini  perkembangan ilmu pengetahuan mulai semakin sempurna dan universal . Dengan hal tersebut para antropolog memang diwajibkan untuk mengembangkan penelitian lapangan dengan pokok dan tujuan yang baru yaitu untuk perkembangan pengetahuan yang selalu dan terus baru.  “ Mengenai tujuannya , ilmu Antropologi yang baru dalam fase perkembangannya yang keempat ini dapat dibagi dua , yaitu tujuan akademika dan tujuan praktisnya. Tujuan Akademikalnya adalah : mencapai pengertian tentang makhluk manusia pada umumnya dengan mempelajari anekawarna bentuk fisiknya , masyarakat, serta kebudayannya.  Karena di dalam praktek ilmu antropologi biasanya mempelajari masyarakat suku-bangsa , maka tujuan praktisnya adalah : mempelajari manusia dalam aneka warna masyarakat suku bangsa guna membangun masyrakat suku bangsa itu . ” ( koentjaraningrat : 1981 : Hal 6 )

 

Hubungan antara ilmu Antropologi dengan ilmu-ilmu yang lainnya dalam buku Pengantar Ilmu Antropologi oleh Koentjaraningrat  :

  1. Hubungan antara ilmu geologi dan Antropologi
  2. Hubungan antara imu paleontologi dan antropologi
  3. Hubungan antara ilmu anatomi dan antropologi
  4. Hubungan antara imu kesehatan masyarakat dan antropologi
  5. Hubungan antara ilmu psikiatri dan antropologi
  6. Hubungan antara ilmu linguistik dengan antropologi
  7. Hubungan antara ilmu arkeologi dengan antropologi
  8. Hubungan antara ilmu sejarah dengan antropologi
  9. Hubungan antara ilmu geografi dengan antropologi

10. Hubungan antara ilmu ekonomi dengan antropologi

11. Hubungan antara ilmu hukum dengan antropologi

12. Hubungan antara ilmu administrasi dengan antropologi

13. Hubungan antara ilmu politik dan antropologi

Metode ilmiah dari Antropologi

“ Metode ilmiah dari suatu ilmu pengetahuan adalah segala jalan atau cara dalam rangka ilmu tersebut , untuk sampai kepada kesatuan pengetahuan ” (koentjaraningrat : 1981 : Hal 41 )

Tahap-tahap yang dilakukan saat menggunakan metode yang ilmiah dalam ilmu antropologi :

  1. Pengumpulan fakta
  2. Field Notes
  3. Penentuan ciri – ciri umum dan sistem
  4. Verifikasi

 

 

 

BAB II

MAKHLUK MANUSIA

Evolusi ciri-ciri biologi

–       Perubahan dalam proses keturunan

–       Proses percabangan makhluk primat

Plestosen dibagi menjadi 3 yaitu : Plestosen muda, lestosen madya, plestosen tua .

Mutasi adalah suatu proses yang berasal dari dalam organisma . Suatu gen yang telah lama diturunkan dari angkatan ke angkatan bribu-ribu tahun lamanya , pada saat ge itu terbentuk karena adanya zyogte yang baru dapat berubah sedikit sifatnya. ( Koentjaraningrat:1981: hal 68)

–       Makhluk manusia Homo Sapiens yang pertama kali menunjukan ciri dari ras Mongoloid adalah Pithecantropus Pakinensis.

–       Makhluk manusia Homo Sapiens yang pertama kali menunjukan ciri dari ras Kaukasoid adalah Homo Sapiens Cromagnon.

–       Makhluk manusia Homo Sapiens yang pertama kali menunjukan ciri dari ras Negroid adalah Homo Sapiens Asselar.

Aneka warna manusia

Metode yang harus diperhatikan saat mengklasifikasi suatu ras adalah dapat dilihat dari cirri lahir hingga cirri-ciri morfologi pada tubuh manusia seperti warna kulit, rambut, serta ukuran tinggi badan,berat badan dan lain-lain. Pada saat sekarang , semakin berkembangnya suatu pengetahuan mucul pula konsep-konsep baru mengenai pengklasifikasian ras ini. Munculah teori klasifikasi filogenetik. Klasifikasi filogenetik  ini sebagai pelengkap dari suatu pengindentifikasian suatu ras yang melihat dari cirri-ciri genotipnya yang melihat asal-usul antar ras serta percabangannya.

 

 

 

BAB III

KEPRIBADIAN

Definisi kepribadian

            Menurut Prof. Laksono dalam kuliah pengantar antropologi I  definisi kepribadian adalah membicarakan unsur-unsur kesadaran akal dan jiwa yang membuat kita menjadi pribadi yang unik dalam bertingkah laku. Definisi tersebut juga terdapat di dalam Buku Pengantar Ilmu Antropologi karangan Koentjaraningrat yang serupa dengan pengertian tentang kepribadian itu sendiri.

Unsur-unsur Kepribadian

  1. Disposisi mental

“Seluruh penggambaran , apersepsi, pengamatan, konsep dan fantasi merupakan unsur-unsur pengetahuan seorang individu yang sadar” ( koentjaraningrat : 1981 : Hal 105 ). Dari hal tersebut kita bisa melihat bahwa di dalam hal kepribadian kita juga mengalami disposisi mental ketika individu itu sadar.

  1. Apresepsi

Hasil pertemuan antara gambaran-gambaran yang lama dengan gambaran – gambaran yang baru. Apresepsi itu sendiri equivalen dengan persepsi. Dengan kata lain apresepsi itu adalah tindak lanjut setelah menentukan atau setelah terjadi disposisi mental

  1. Persepsi

Persepsi ini muncul ketika gambarn-gambaran yang lama dan baru kita fokuskan lebih jauh atau dengan kata lain gambaran yang dfokuskan secara intensif . Persepsi sendiri dilakukan setelah terjadi Apersepsi. Sedangkan persepsi biasanya terfokus pada “FAKTA”.

  1. Konsepsi

Gambaran –gambaran abstrak yang kita miliki. Tentunya masih berkaitan dengan hubungan antar fakta.

  1. Naluri

Perasaan yang terkandung dalam sistem organismenya atau tingkah laku yang sudah mendarah daging. Contoh : mahasiswa tidak lepas dari tas.

  1. Perasaan

Kehendak à Keinginan à Emosi

Ketka manusia memeiliki kehendak karena memiliki rasa untuk memiliki disaat itulah terjadi yang namanya emosi. Emosi ini sendiri muncul bisa positif bisa juga negatif.

  1. Pengetahuan

Pengetahuan dapat memperkuat suatu pendapat karena yang dihasilkan adalah pengetahuan dan pengetahun itu bersifa selalu baru.

  1. Fantasi

Gambaran atau khayalan seseorang yang dapat menimbulkan “kreatif”. Kreatif ini hubungan antara konsep dengan fantasi.

BAB IV

MASYARAKAT

Pengertian masyarakat

Seperti halnya yang pernah di katakan oleh Prof Laksono mengenai pengertian dari masyarakat itu sendiri adalah suatu kesatuan hidup yang dibuat manusia denga mengandalakan suatu struktur ( tatanan sosil ).

Sama halnya dengan definisi masyarakat dalam buku Pengantar Ilmu Antropologi oleh Koentjaraningrat. “ Masyarakat dalam bahasa inggris dipakai istilah society yang berasal dari kata Latin socious , yang berarti kawan . Istilah masyarakat itu sendiri berasal dari akar kata Arab Syaraka yang berarti ikut serta, berpartisipasi . ” ( koentjaraningrat : 1981 : Hal 144).

“Definisi masyarakat secara khusus dapat kita rumuskan sebagai berikut : Masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat-istiadat tertentu yang bersifat kontinyu , dan yang terikat oleh suatu rasa identitas bersama . ” ( koentjaraningrat : 1981 : Hal 146-147).

Kita memang tidak boleh terlalu termakan oleh Altrulisme karena Altrulisme ini bisa bersifat positif dan negatif. Kolektiva itu penting jika itu baik. Contohnya saat Altrulisme bersifat negatif kasus terorisme , sedangkan yang baik contohnya kolektiva yang terbangun di dalam gen atau kekerabatan.

Masyarakat bisa dikatakan sebagai suatu bentuk komunitas karena orang yang sama berkumpul di luar sistem ( Victor Turner). “Adanya prasarana untuk berinteraksi memang menyebabkan bahwa warga dari suatu kolektif manusia itu akan saling berinteraksi.” ( koentjaraningrat : 1981 : Hal 144).

Perbedaan antara Golongan dan Kategori

Kategori :àBahasa Asingàberhubungan dengan hirarki(E.Durkhem,Marx)

          àYang membuat orang lain

                Golongan : dibuat oleh yang bersangkutan, berhadapan dengan struktur

    sosial, hirarkinya tidak terlihat jelas

 Unsur-unsur masyarakat

Berikut adalah unsur-unsur masyarakat yang ada , antara lain : (Koentjaraningrat : 1981: Hal 143).

  1. Kategori sosial

“Kesatuan manusia yang terwujudkan karena adanya suatu ciri atau suatu kompleks ciri-ciri obyektif yang dapat dikenakan kepada manusia-manusia itu “( koentjaraningrat : 1981 : Hal 149). Penilaian secara objektif ini lah yang membuat orang lain . Maka dari itu berarti kategori sosial terbentuk karena adanya penilaian dari orang lain mengenai ciri yang dikenakan manusia.

  1. Golongan Sosial

Yang membedaka anatara kategori dengan golongan adalah jika golongan sosial ini memang memiliki kesadaran identitas yang tumbuh dan menjadi bentuk respon atau reaksi terhadap sesuatu. Dibuat oleh orang yang bersangkutan serta dihadapkan oleh struktur sosial namun hirarkinya tidak sejelas kategori.

  1. Komunitas
  2. Kelompok dan Perkumpulan

Menurut C.H Cooley yang membedakan dua aspek hubungan antara kelompok yaitu primary group dan secondary group.

Menurut Tonnies yang membedakan dua masyarakat yaitu Gemeinschaft dan Gesellschaf.

Tabel perbedaan antara kelompok dengan perkumpulan (Koentjaraningrat : 1981: Hal 158):

Kelompok

Perkumpulan

Primary Group

Association

Gemeinschaft

Gesellschaft

Solidarite mechanique

Solidariteorganique

Hubungan Familistic

Hubungan contractual

Dasar organisasi adat

Dasar organisasi buatan

Pimpinan berdasarkan kewibawaan dan karisma

Pimpinan berdasarkan wewenang dan hukum

Hubungan berazas perorangan

Hubungan anonim&berazasguna

 

“Syarat dari konsep masyarakat yaitu kerumunan , kategori sosial dan golongan sosial” ( koentjaraningrat : 1981 : Hal 160-161).

 

INTEGRASI MASYARAKAT

“Struktur sosial . Dalam hal menganalisa masyarakat , seorang peneliti memerinci kehidupan masyarakat itu ke dalam unsur-unsurnya yaitu pranata, kedudukan sosial dan peranan sosial. “( koentjaraningrat : 1981 : Hal 171). Fungsi dari struktur sosial adalah sebagai pengendali di dalam masyarakat yang memiliki batasan-batasan tertentu di dalam bermasyarakat.

 

 

 

 

 

BAB V

KEBUDAYAAN

“ Menurut imu antropologi , kebudayaan dalah : keseluruhan sistem gagasan , tindakan , hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar”.(Koentjaraningrat : 1981 : Hal 180). Kata kebudayaan itu sendiri diambil dari bahasa sansekerta yang berasal dari kata Budhayah yang berarti budi atau akal.

Kesimpulannya adalah bagian dari bud dan bagian dari akal. Pengertiannya adalah segala tindakan yang berhubungan dengan budaya maka akal dan budi ikut berperan dalam beberapa hal yang berupa cipta, rasa dan karsa.Maka dari itu kebudayaan adalah hasil dari cipta, karsa dan rasa.

Perbedaan kebudayaan dengan peradaban terletak pada penyebutan unsur dan bagian –bagian dari kebudayaan. “ peradaban “ juga sering dipakai untuk istilah istilah teknologi, pengetahuan,seni dan lain-lain.

Tiga Wujud Kebudayaan ( Koentjaraningrat : 1981 : Hal 186 )

  1. Sebagai suatu kompleks dari ide-ide , gagasan , nilai, norma , peraturan , dan sebagainya
  2. Sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat
  3. Kebudayaan sbagai benda hasil karya manusia.

Wujud yang pertama bisa dikatan sebagai wujud dari sistem kebudayaan atau Cultural system. Sedangkan wujud yang kedua adalah sebagai wujud dari Sistem sosial atau Social System . Wujud yang ketiga adalah bisa dikatakan sebagai  kebudayaan fisik.

7 Unsur kebudayaan Universal menurut Koentjaraningrat:

  1. Bahasa
  2. Sistem pengetahuan
  3. Organisasi sosial
  4. Sistem pralatan hidup dan teknologi
  5. Sistem mata pencaharian
  6. Sistem religi
  7. Kesenian

BAB VI

DINAMIKA MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN

Konsep mengenai masyarakat dan kebudayaan

Melalui berbagai proses seperti:

  1. Internalisasi
  2. Sosialisasi
  3. Enkulturasi

Proses Evolusi budaya melalui :

  1. Difusi : Penyebaran budaya
  2. Akulturasi : Pencampuran budaya
  3. Asimilasi : Proses yang timbul bila ada latar belakang masyarakat yang berbeda-beda , berinteraksi dalam jangka waktu yang lama dan intensif, unsur-unsur kebudayaan campuran.
  4. Inofasi : Suatu proses pembaruan dari penggunaan sumber-sumber alam , energi, teknologi dan lain lain hal ini yang menyebabkan adanya pembaruan kebudayaan.
  5. Discovery : Penemuan dari suatu unsur kebudayaan yang baru., baik berupa suatu alat baru , suatu ide baru yang diciptakan oleh seorang individu , atau suatu rangkaian dari beberapa individu dalam masyarakat yang bersangkutan.

BAB VII

ANEKA WARNA MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN

“Konsep “daerah kebudayaan” atau culture area merupakan suatu penggabungan atau penggolongan ( yang dilakukan oleh ahli antropologi) dari suku-suku bangsa yang dalam masing-masing kebudayaan yang beranekawarna mempunyai beberapa unsure dan cirri yang menyolok serta serupa. Demikian system penggolongan daerah kebudayaan sebenarnya merupakan suatu system klasifikasi yang mengklaskan beranekawarna suku bangsa yang tersebar di suau daerah atau benua besar ke dalam golongan –golongan berdasarkan atas beberapa persamaan unsure dalam kebudayaannya. “( Koentjaraningrat : 1981: hal 272)

  1. Derah kebudayaan di Amerika Utara

–       Eskimo

–       Yukon Mackenzie

–       Pantai barat laut

–       Dataran tinggi

–       Plains

–       Hutan timur

–       Kalifornia

–       Barat daya

–       Tenggara

–       Meksiko

  1. Daerah kebuayaan Amerika Latin

–       Cacique

–       Andes

–       Andes selatan

–       Rimba Tropik

–       Berburu dan meramu

  1. Daerah kebudayaan Afrika

–       Afrika utara

–       Hilir Nil

–       Sahara

–       Sudan Barat

–       Sudan timur

–       Hulu tengah Nil

–       Afrika tengah

–       Hulu selatan Nil

–       Tanduk Afrika

–       Pantai Guinea

–       Bantu Khatulistiwa

–       Bantu Danau-danau

–       Bantu timur

–       Bantu Tengah

–       Bantu barat daya

–       Bantu tenggara

–       Choisan

–       Madagaskar

  1. Derah kebudayaan Asia

–       Asia tenggara

–       Asia selatan

–       Asia barat daya

–       Cina

–       Steppa Asia tengah

–       Siberia

–       Asia Timur laut

BAB VIII

ETNOGRAFI

Batas –batas dari masyarakat , bagian suku bangsa yang menjadi pokok nyata dari deskripsi etnografi. Menurut koentjaraningrat dalam buku “ Introduction to Cultural Anthropology”. :

  1. Kesatuan masyarakat yang dibatasi oleh satu desa maupun lebih
  2. Kesatuan masyarakat yang terdiri dari penduduk yang mengucapkan satu bahasa atau satu logat bahasa
  3. Kesatuan masyarakat yang dibatasi oleh garis batas suatu daerah politikal dan administratif
  4. Kesatuan masyuarakat yang batasnya dientukan oleh rasa identitas penduduknya sendiri
  5. Ksatuan masyarakat yang ditentukan oleh suatu wilayah geografis yang merupakan kesatuan daerah
  6. Kesatuan masyarakat yang ditentukan oleh kestua ekologi
  7. Kesatuan masyarakat dengan penduduk yang mengalami satu pengalaman sejarah yang sama
  8. Kesatua masyarakat dengan penduduk yang frekuensi interaksinya merata tinggi
  9. Kesatuan masyarakat dengan susunan sosial yang seragam .

 

TANGGAPAN MENGENAI BEBERAPA POKOK PENGANTAR ILMU ANTROPOLOGI

KELEBIHAN BUKU :

Hampir semua buku karangan Koentjaraningrat memiliki tipe yang khas dan disesuaikan cara belajar masyarakat Indonesia yang terbiasa dengan text book. Penjabaran yang terperinci serta penyebutan dan penjelasan secara bertahap yang membuat para pembaca bisa memahami dengan baik. Buku ini lebih membicarakan sesuatu hal yang lansung ke intinya . Ini yang membuat para pembaca menjadi bisa lebih mudah memahami apa maksut dari si pengarang.

KELEMAHAN BUKU:

Buku ini sangat berstruktur dengan membaca secara terurut inilah yang belum semua orang bisa memahami buku dengan cara tersebut. Seperti halnya saya pribadi lebih menyukai buku karangan Cliford Gertz karena bukunya sangat mudah dipahami karena ada penjabaran konkret dan contoh nyata dari suatu pengalaman pribadi pengarang yang dijadikan suatu bahan pengetahuan serta dikemas dengan suatu cerita yang bisa memudahkan saya untuk memahami hal tersebut.Buku ini saya merasa seperti dituntut secara perlahan-lahan oleh penulis yang mempersempit gerak pikir saya ketika ingin mencoba untuk mengeksplorasi suatu pemahaman dalam suatu pengetahuan.Dalam bahasa jawa , saya merasa “didekte” dan “dituntun”.

 

 

PENUTUP

Sebagian besar dalam buku Beberapa Pokok Pengantar Ilmu Antropologi ini sangat membantu para mahasiswa untuk mengenal antropologi secara mendalam namun ringan dalam segi bacaan. Buku ini merupakan buku yang sangat baik untuk pemula karena di buku ini banyak deskripsi – deskripsi, contoh – contoh kasus, dan diperkuat oleh teori-teori yang mendasar untuk pemula.

Contoh Cara Merancang Essay ( Tugas Komposisi menulis kreatif )

Merancang Essay

1.Judul :

 

Rakyat : Sudah Jatuh Tertimpa Tangga

“Konspirasi dalam dunia Kesehatan”

 

2. Alasan :

Alasan pribadi:

-Rakyat yang menjadi korban karena rakyat yang dirugikan walaupun pihak

  pihak tertentu ada yang diuntungkan.

-Pegalaman pribadi yang menemukan fakta ternyata dokter tertentu

  mendapatkan untung atau bagi hasil dari  pabrik obat tertentu.

-Ingin mengorek informasi lebih jauh mengenai praktek tersebut serta mencari

  tahu tentang etika dokter dan apoteker.

Alasan akademik

– Untuk pmenuhan tugas nilai mata kuliah komposisi menulis kreatif

3. Latar belakang

Kondisi sekarang sudah banyak masyarakat yang dirugikan. Banyak dokter yang melakukan praktek tersebut dengan maksut untuk mencari untung dari pabrik  obat tertentu. Rakyat yang lugu yang tidak tahu menau hanya dijadikan korban dari permaianan oleh pihak-pihak yang berkepentingan antara dokter dengan perusahaan obat tertentu. Memang tidak semua dokter melakukan hal tersebut tapi tidak dipungkiri lagi dunia dokter itu sendiri dekat dengan kondisi lingkungan yang seperti itu.

4. Temuan di permukaan

Banyak perusahaan obat yang melakukan pemasaran obatnya dengan melibatkan dokter sebagai perantara . Hal ini jelas terlihat ketika masyarakat dianjurkan untuk membeli obat tertentu yang mungkin harganya bisa memberatkan pasien namun dibalik itu semua ada pihak-pihak yang disengaja untuk mencari keuntungan diatas penderitaan rakyat serta lebih mementingkan kepentingan pribadi bukan kepentingan rakyat.

5. Pertanyaan Riset:

– Bagaimana proses praktik itu dilakukan ?

– Siapa saja yang dilibatkan?

– Bagaimana “budaya perusahaan” obat tersebut dalam melakukan

   pemasaran produk obatnya? Dilihat dari kenyataan di lapangan.

– Apakah praktik tersebut melanggar etika dokter ?

6. Metode

Metode yang digunakan dengan metode kualitatif dengan pendekatan yang deskriptif dan analisis.  Membutuhkan informan yang tepat serta kejujuran dari narasumber.Dalam hal ini kesulitannya adalah memilih narasumber yang terbuka dan jujur . Melibatkan dokter, sales perusahaan obat serta pasien sebagai informan yang dijadikan sebagai informan utama. Bisa menambahkan informan lain yang mungkin bisa lebih mendukung data seperti lembaga pelayanan kesehatan dan tenaga medis lain yang tahu betul yang terjadi di dalam dunia kesehatan itu .

7. Literature

Kurang mengerti sudah ada yang meneliti atau tidak yang jelas saya mendapatkan inspirasi topik penelitian tersebut dari buku yang berjudul “Orang Miskin Dilarang Sakit” serta berdasarkan pengalaman pribadi yang dialami oleh keluarga saya.

TUGAS MERANCANG ESSAY MATA KULIAH KOMPOSISI MENULIS KREATIF

 

RAKYAT: SUDAH JATUH TERTIMPA TANGGA

“KONSPIRASI DALAM DUNIA KESEHATAN”

 

 

 

               NAMA            : ANINDHA LUTFIKA RENI

NIM                 : 12/335149/SA/16625

JURUSAN     : ANTROPOLOGI BUDAYA

ANGKATAN : 2012

 

 

JURUSAN ANTROPOLOGI BUDAYA FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS GADJAH MADA 2013

Pentingnya Permainan tradisonal

Nama : Anindha Lutfika Reni

NIM : 12/16625/SA/335149

Tema : Permainan Tradisional

“PASAR-PASARAN”

Keanekaragaman Budaya yang ada di Indonesia ini adalah bukti bahwasanya bangsa ini memiliki karakter yang kuat. Dengan memahami permainan  tradisional kita juga akan bisa  memahami betapa pentingnya kita untuk menjujung tinggi pengetahuan kearifan lokal.Dengan kearifan lokal yang ada bisa membuat bagsa ini menjadi lebih berkarakter Kita bisa mengenalkan kembali permainan tradisional ini kepada anak-anak . Pada dasarnya semua permainan ,baik itu permainan tradisional maupun modern semua ini memiliki tujuan dan manfaatnya masing-masing. Mengetahui bahwa sejatinya dunia anak adalah “dunia bermain”.

Salah satu contoh permain tradisonal yang sering saya lakukan semasa saya masih anak-anak adalah permainan “Pasar-pasaran”. Permainan ini identik sekali dengan permainan para perempuan. Di dalam permainan ini memang lebih sering dimainkan oleh perempuan daripada laki-laki. Permainan ini memiliki banyak manfaat untuk perkembangan psikis dan sosial anak. Pasar-pasaran ini memiliki manfaat mengenalkan praktek ekonomi sederhana kepada anak. Anak diajarkan untuk bisa berhitung uang dengan baik, menentukan harga , menawar harga serta menata dagangan mulai dari membuka lapak hingga menutup jualan.

Permainan ini juga menuntut anak untuk menjadi lebih berfikir kreatif dalam menentukan bahan apa yang akan dipilih untuk di jual. Mulai dari mencari bahan di sekeliling untuk dijadikan suatu media pendukung di dalam permainan tersebut. Contohnya saja waktu dulu saya bermainan pasar-pasaran dengan menggunakan batu bata yang di haluskan dan di ibaratkan sebagai bumbu kacang yang ada serta penggunaan dedaunan sebagai sayurannnya

Manfaat yang lain bisa juga mendidik anak untuk bisa bersosialisasi dengan teman secara luas. Permainan ini memang melibatkan banyak orang membutuhkan yang namanya pembeli.  Pembeli ini bisa dikatakan minimal satu orang berarti di dalam permainan ini harus ada minimal dua orang yang terlibat. Hal ini yang mengajarkan kepada anak mengenai cara untuk berelasi dengan teman secara baik dan luas. Menjaga relasi teman juga berperan dalam permainan ini. Anak menjadi paham cara melobi orang tanpa menyakiti ataupun merendahkan seseorang.

Dari berbagai manfaat yang ada di dalam permainan ini adalah betapa pentingnya mengenalkan kembali permainan tradisional ini kepada anak-anak untuk meningkatkan pengetahuan kearifan lokal yang bisa membuat bagsa ini menjadi lebih berkarakter. Semua permainan bermanfaat sekali untuk sebagai media pembelajaran sosial dan psikologi anak.

 

 

ARTIKEL PENELITIAN BELIK PEMALANG

ARTIKEL PENELITIAN di  BULAKAN KECAMATAN BELIK, PEMALANG JAWA TENGAH.

 

Nama : Anindha Lutfika Reni

NIM : 12/16625/SA/335149

Jurusan : Antropologi Budaya

Topik Penelitian : Pelayanan Kesehatan Masyarakat

Judul : Aspek Sosial Budaya dan Masalah Kesehatan Lingkungan di Dusun Kali Keji

 

Abstraksi

“ Para Ahli Antropologi kesehatan, yang dari definisinya dapat disebutkan berorientasi ke ekologi, menaruh perhatian kepada hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungan alamnya. Tingkah laku, penyakit-penyakitnya,dan cara-cara di mana tingkah laku dan penyakitnya – penyakitnya mempengaruhi evolusi dan kebudayaannya melalui proses umpan-balik.” (Foster/Anderson 1986 : 14)

Kutipan di atas ini lah yang bisa dijadikan untuk dasar utama persoalan lingkungan di desa Bulakan khususnya dilihat dari sudut pandang sosial dan budaya yang juga berkaitan dengan perkembangan kesehatan di masyarakat. Permasalahan kesehatan lingkungan selain berdampak untuk kesehatan jasmani seseorang ternyata juga bisa berdampak pada persoalan sosial yang dipicu oleh permasalahan tersebut. Hal ini lah yang terjadi di Dusun Kali Keji , Desa Bulakan Kecamatan Belik Pemalang Jawa tengah. Masyarakat yang pasif untuk  menyelesaikan persoalan tersebut menambah dampak buruk yang lebih besar dan akan terus ada persoalan-persoalan berikutnya yang bisa terjadi di masyarakat. Dalam hal ini, akan menjelaskan lebih lanjut bagaimana masyarakat Dusun Kali Keji menghadapi persoalan serta cara masyarakat mencari solusi untuk permasalahan tersebut.

 

 

  1. Keadaan Lingkungan Dusun Kali Keji, Desa Bulakan

 

Desa Bulakan sesuai dengan makna dari nama desa ini sendiri yang berarti Bulak-bulak atau dalam makna Bahasa Indonesia berarti daerah yang dikelilingi oleh banyak mata air. Sehingga potensi terbesar dari desa ini yang sangat memungkinkan untuk dimanfaatkan walaupun tetap memperhatikan unsur-unsur yang tidak merugikan masyarakat di desa ini. Selain itu, perlunya perlestarian alam juga berperan juga untuk mempertahankan potensi yang ada supaya tetap terus ada di Desa Bulakan ini. Dengan pemanfaatan yang optimal , potensi-potensi ini bisa di kembangkan untuk menaikan pendapatan yang ada di Desa Bulakan ini. Sementara yang saya amati , mata air yang ada baru di manfaatkan dalam tahap pemenuhan kebutuhan Rumah Tangga serta pengairan sawah. Hal ini yang sebenarnya bisa di optimalkan lebih lanjut.

Di Desa Bulakan terdiri dari lima dusun yaitu Dusun Kali Keji, Dusun Dukuh Karang, Dusun Sawangan, Dusun Bulakan timur dan Dusun Bulakan Barat. Mendapatkan kesempatan  penempatan di Dusun Kali Keji. Masing-masing Dusun memiliki RT masing – masing . Balai desa ini terletak di pinggir jalan raya besar Randu Dongkal km 7. Secara fisik Balai desa ini sangatlah sederhana tidak seperti balai desa yang ada di Desa lain. Walaupun demikian ketertiban dalam pelaksanakan tugas para perangkat desa di desa ini bisa dibilang tertib. Jam kerja yang ada di Balai Desa ini pun tidak lama hanya dibuka dari jam 09.00 pagi sampai jam 13.00 siang. Di Balai Desa ini terdapat pula pendopo yang khusus untuk dijadikan tempat pertemuan antara para perangkat desa dengan masyarakat. Ketika berada di Desa ini tercatat sudah ada tiga kali pertemuan besar dengan masyarakat. Yang pertama agenda menganai “MUSRENBANGDES” ( Musyawarah Rencana Bangun Desa ), “Sosialisasi Jamkesmas” dan yang terakhir “ Sosialisasi Bantuan Rumah Layak Huni”. Lima diantara dusun yang ada di Desa Bulakan ini yang masih sangat kurang pengembangan masyarakatnya adalah di Dusun Kali Keji.

Secara fisik di dusun ini memang terletak paling terisolir dibandingkan dengan dusun –dusun yang lain yang berada saling berdekatan satu sama lain walaupun masih dalam lingkup di Desa yang sama. Jalan menuju ke dusun ini bisa dikatakan jauh dari jalan raya besar. Akses transportasi bisa dibilang sangat susah. Jika ditempuh dengan jalan kaki dari rumah yang ada di Dusun Kali Keji ini menuju ke jalan raya besar bisa menghabiskan waktu selama 45 menit. Dusun ini terletak di atas dekat dengan Sumber Air Candi yang konon katanya tidak ada Candinya itu ternyata hanyalah istilah nama saja . Dusun ini sangat terkenal dengan banyak mitos yang ada. Termasuk Sumber Air Candi tersebut , katanya disana ada petilasan orang yang dianggap sakti . Konon, ketika kita berada di sumber air tersebut kita di wajibkan untuk melepas alas kaki sebagai tanda kehormatan biasanya dengan orang jawa sering dikenal dengan istilah  “Nyuwun Sewu “ meminta ijin sebelum bertamu. Selain itu , keadaan masyarakat di sini mayoritas sangat ramah dan gemar bercanda. Hal ini saya buktikan sendiri selama tinggal di dusun ini selama dua minggu. Banyak hal yang di dapat dari masyarakat tersebut. Di desa Bulakan bisa dibilang masih dikelilingi banyak sungai karena banyak sawah juga yang perlu pengairan .

            Sepanjang jalan banyak ditemui jalan yang rusak dan berlubang. Hal ini pula yang menjadi titik ukur seberapa masyarakat aktif untuk menyelesaikan persoalan yang ada di dusun Kali Keji ini. Banyak permasalahan yang terjadi baik secara fisik maupun non fisik yang terjadi di dusun ini. Selama ini  masyarakat masih dianggap pasif dalam menyelesaikan berbagai persoalan . Hal inilah yang memicu akan datangnya persoalan-persoalan lain yang akan menambah dampak buruk kepada masyarakat baik itu secara fisik maupun non fisik.

 

            Dusun Kali Keji ini memang dekat dengan sumber air , namun kenyataannya justru persoalan yang utama di Dusun ini adalah masalah air bersih. Sangat dilematis ketika menghadapi suatu permasalahan yang justru itu dianggap masalah padahal hal tersebut sebenarnya dianggap sebagai potensi yang ada di Desa tersebut. Air yang mengalir di sungai inilah yang dijadikan sebagai kebutuhan sehari-hari warga Dusun Kali Keji. Air yang jernih dan deras menambah keindahan panorama alam yang ada di desa ini. Keadaan masyarakatnya yang sangat ramah dan guyub ini bisa dibuktikan dengan pengajian yang diadakan rutin hampir setiap hari . Dengan Pengajian inilah masyarakat akan lebih sering untuk bersilaturahmi antar tetangga dan mempererat kekerabatan yang ada.

  1. Pembahasan Masalah

Di suatu desa pasti ada permasalahan-permasalahan, mulai dari masalah yang kecil hingga yang besar. Seperti halnya di Dusun Kali Keji ini. Begitu banyak persoalan yang terjadi di Dusun ini, mulai dari persoalan pembagian bantuan , persoalan kesehatan ligkungan bahkan juga ada persoalan sosial yang menjadikan dusun ini terhambat perkembangan desanya. Masyarakat di Dusun Kali Keji ini memang terkenal dengan keegoisannya serta emosi yang mudah meledak, kata Ibu Mulyati (Ibu Kadus Kali Keji). Terbukti dengan adanya demo yang diajukan untuk Ibu Mul selaku ibu Kadus di Dusun kali Keji ini. Memang waktu itu, yang dipersoalkan oleh masyarakat ini memang yang dibutuhkan adalah kejelasan aliran dana bantuan yang harus di tindak lanjuti secara terbuka tidak abstrak. Ibu Mulyati sendri pernah berbicara mengenai gejolak persilisihan antar tetangga yang sudah dianggap hal yang biasa terjadi apalagi masalah dana bantuan. Datangnya bantuan itu justru merenggangkan kekerabatan antar masyarakat. Sangat retan untuk terjadi konflik . Seperti halnya dengan masalah bantuan kesehatan berupa pembagian Jamkesmas yang dianggap tidak merata dan kurang tepat sasaran.

Fokus kembali ke permasalahan kesehatan lingkungan .Dusun Kali Keji ini memang dekat dengan sumber air , namun kenyataannya justru persoalan yang utama di Dusun ini adalah masalah air bersih. Sangat dilematis ketika menghadapi suatu permasalahan yang justru itu dianggap masalah padahal hal tersebut sebenarnya dianggap sebagai potensi yang ada di Dusun tersebut. Air yang mengalir di sungai inilah yang dijadikan sebagai kebutuhan sehari-hari warga Dusun Kali Keji. Penyalahgunakan potensi air inilah yang menjadi pusat dari permaslahan kesehatan lingkungan. Sungai yang tadinya airnya jernih lambat laun akan menjadi tercemar karena kurangnya kesadaran masyarakat dalam berperilaku sehat serta menjaga sungai dengan semestinya ,padahal sungai inilah yang dijadikan masyarakat sebagai pemenuhan air dalam kehidupan sehari-hari. Bisa dibayangkan jika ternyata sungai yang selama ini dijadikan sebagai sarana utama untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari sudah tercemar dengan air limbah deterjen , serta masih banyak masyarakat yang Buang Air Besar sembarangan. Padahal mayoritas masyarakat di dusun ini menggunakan air sungai yang ada untuk pemenuhan air minum. Pencemaran air yang dilakukan oleh masyarakat yang kurang sadar tentang berperilaku sehat inilah yang menyebabkan persoalan kesehatan terutama yang akan berdampak berbahaya bagi kesehatan jasmani masyarakat dusun Kali Keji ini.

      Hasil wawancara terhadap Bapak Slamet selaku Ketua Lembaga Kesehatan Masyarakat Belik. Beliau mengatakan bahwa ada tiga permasalahan umum mengenai persoalan kesehatan yang dialami masyarakat di Desa Bulakan .

 

 

  1.  Kurangnya kesadaran masyarakat menjaga kebersihan dengan membiasakan cuci tangan dengan sabun
  2. Masih banyak masyarakat Bulakan yang Buang Air Besar di sungai
  3. Kurangnya kesadaran masyarakat untuk peduli dengan sampah-sampah yang ada, karena kebanyakan masyarakat membuang sampah di Sungai.

 

Dari tiga pokok permasalahan tersebut menjelaskan bahwa kurangnya kesadaran masyarakat dalam berperilaku bersih dan sehat sehingga banyak pencemaran yang terjadi padahal hal-hal yang seperti ini yang berdampak buruk bagi kesehatan. Tingginya angka diare, Demam Berdarah, Cikumunya dan Muntaber. Macam-macam penyakit inilah yang disebabkan selain oleh faktor imunitas seseorang tetapi juga bisa disebabkan oleh faktor lingkungan yang kurang bersih dan kurang sehat.        

Pendekatan ekologis adalah dasar bagi studi tentang masalah – masalah epidimiologi, cara-cara dimana tingkah laku individu dan kelompok dalam menentukan derajat kesehatan dan timbulnya penyakit yang berbeda dalam populasi yang berbeda-beda. Dalam studi ekologi , kita mulai dengan lingkungan . sejauh yang menyangkut manusia , lingkungan bersifat alamiah dan sosial-budaya . Semua elompok harus menyesuaikan diri dengan keadaan geografis dan iklim yang terdapat di tempat tinggal mereka, dan mereka harus belajar mengeksploitasi sumber-sumber yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. (Foster/Anderson 1986 : 15 ).

Hal di atas memang menunjukan bahwa hakekatnya manusia sangat membutuhkan kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan yang ada. Misal saja di Dusun Kali Keji, masyarakatnya sudah mulai mengekploitasi air yang ada di sungai sebagai pemenuhan air dalam kehidupan sehari-hari. Walaupun demikian, ternyata tak sepenuhnya akan berbalik positif untuk masyarakat jika sumber-sumber yang ada di salah gunakan untuk hal-hal yang bisa merusak atau mencemari sumber-sumber tersebut. Perlunya penyuluhan di dalam masyarakat untuk memberikan pemahaman mengenai bagaimana cara memanfaatkan sumber-sumber yang ada secara baik dan tidak mencemari sumber air tersebut.

Kasus ini memang sering dialami di sebagian masyarakat desa yang kurang mengerti mengenai perilaku hidup bersih dan sehat. Melihat kembali visi dan misi Bu Pati Pemalang yang sekarang adalah menitik beratkan pada persoalan kesehatan dan pendidikan. Kita ketahui bahwa manusia dengan lingkungan akan saling mempengaruhi satu sama lain. Maka dari itu keseimbangan lingkungan perlu sekali untuk diterapkan.  

  1. Persoalan Sosial masyarakat dilihat dari sudut pandang ekologis

Masyarakat di Dusun Kali Keji memang bisa dibilang wawasan untuk menjaga sumber-sumber alam yang ada masih sangat kurang, mengingat kembali apa yang telah dibicarakan oleh Ibu Yuni selaku ketua Puskesmas se Kecamatan Belik kepada saya mengeanai hal apa saja yang telah dilakukan pihak pemerintah dalam menghadapi berbagai persoalan kesehatan yang ada di lingkungan masyarakat. Ibu Yuni memang mengakui bahwa kurangnya kader di setiap desa yang menghambat jalannya penyuluhan-penyuluhan yang berkaitan dengan kesehatan ini . Ibu Yuni juga mengatakan hal ini sudah tidak seperti yang dulu , kader-kader yang sekarang menuntut untuk diberi uang istilahnya tidak ada uang tidak bekerja, padahal menurut Ibu Yuni jaman dulu mencari yang namanya kader itu mudah karena dulu memang masih banyak yang mau untuk suka rela dalam ikut serta memperbaiki sistem kesehatan di masyarakat.

Kembali lagi ke Dusun Kali keji dengan persoalan air bersih. Menurut Ibu Mul selaku Kadus di Dusun Kali Keji ini, ketika di musim hujan air itu akan melimpah ruah tapi sebaliknya jika di musim kemarau masyarakat d Dudun Kali Keji ini akan mengalami krisis air bersih dan persoalan yang seperti ini  hanya ditemukan di dusun Kali Keji. Padahal kenyataanya dusun ini dekat dengan sumber air candi. Ada beberapa faktor lain yang mengakibatkan krisis air tersebut. Kurang besarnya penampungan air yang menyebabkan pendistribusian air tidak merata di saat musim kemarau. Peramasalahan sosial yang timbul adalah ketika musim kemarau berlangsung, banyak masyarakat yang berebut air seolah-olah untuk berlomba-lomba mendapatkan air yang sebanyak-banyaknya hal –hal yang seperti inilah yang mengakibatkan konflik antar tetangga akan menjadi. Emosi dan keegoisannya masyarakat di Dusun inilah yang dianggap sebagai sumber permaslahan sosial.

Solusi yang diberikan oleh Ibu Mulyati adalah pembagian rata dan adil dan tidak saling mengedapankan ke egoisan masing-masing. Ibu Mul mencoba untuk membagi rata air yang ada untuk masyarakat yang ada di dusun ini. Konflik seperti ini sudah dianggap hal yang biasa karena setiap tahunnya pasti terjadi yang namanya krisis air dan manusia berusaha untuk bisa memeuhi keperluan nya masing-masing. Ibu Mulyati sering mendapatkan kritikan dan pengaduan dari warganya mengenai hal tersebut. Selaku Ibu Kadus , beliau berusaha untuk membahas masalah ini kepada perangkat desa terutama  Bapak Rohim selaku Kepala Desa Bulakan ini mengenai persoalan air bersih ini namun di dalam Musyawarah Rencana Bangun Desa ini justru aspirasi ibu Mul tidak di priyoritaskan dengan alasan masyarakat di dusun ini tidak bisa diberi tanggungjawab dalam hal pembangunan desa secara bersama –sama. Mengingat apa yang pernah dikatakan Bapak Rohim di dalam musywarah tersebut masyarakat dusun Kali Keji memang terkenal paling bersuara di belakang namun ketika dihadapkan suatu persoalan dan di ajak untuk bertemu dengan perangkat di desa ini tidak pernah hadir. Banyak bicara tetapi tidak banyak bekerja hal ini lah yang menyebabkan persoalan di dusun ini akan tetap terus ada selama tidak ada pembenahan anatara masyarakat dengan perangkat desa yang ada di Desa Bulakan ini.

  1. Siasat dan Solusi Masyarakat dalam menghadapi permasalahan kesehatan

Masyarakat di Dusun ini pada dasarnya secara spontan sudah mengerti apa yang seharusnya dilakukan untuk menangani persoalan kesehatan secara indivisu. Melihat dari keluarga Ibu Mulyati , menghadapi krisis air tersebut mereka menampung air yang melimpah di saaat musim hujan berlangsung kemudian air yang ,melimpah ini di masukan ke dalam tong-tong yang besar dan bak yang besar pula. Hal ini memang akan memicu tumbuhnya penyakit Demam Berdarah karena pada kenyataannya , Masyarakat di Dusun Kali Keji tidak pernah melakukan kegiatan menguras bak atau tong-tong penampung air ini. Dengan alasan “eman-eman” atau istilah bahasa indonesiannya adalah menghemat air demi pemenuhan air di saat musim kemarau.

            Maka tidak heran jika di Dusun ini nilai Demam berdarahnya paling tinggi dibanding dengan dusun-dusun yang lain. Saya pernah mencoba untuk memberikan solusi supaya menaruh ikan ke dalam bak ataupun tong yang bisa memakan jentik-jentik nyamuk . Solusi tersebut dianggap membuat air tersebut tidak suci lagi untuk dipakai wudlu. Kemudian saya mencoba untuk mencarikan solusi yang lain dengan penggunaan kaporit supaya jentik nyamuk tidak dapat hidup di dalam penampungan air ini, lagi-lagi hal tersebut dianggap kurang tepat karena air yang digunakan juga untuk diminum. Solusi yang terakhir pasang asbes di setiap bak mandi serta menutup bak dengan triplek. Solusi yang terakhir ini memang diakui solusi yang paling tepat namun jawaban masyarakat mengenai solusi tersebut sangat pasif. Mereka mengatakan malas untuk menutup bak tersebut. Hal ini lah yang membuat permasalahan akan terus ada jika masyarakatnya masih sangat pasif dalam mengadapi persoalan yang ada. Kembali lagi perlunya penyuluhan agar masyarakat sadar betapa pentingnya untuk berperilaku sehat dan bersih itu. Kurangnya pemahaman inilah yang membuat masyarakat di Dusun ini sering menyepelekan atau menganggap hal ini hal yang sudah biasa tanpa melakukan tindakan perbaikan maka hal tersebut yang menjadi faktor utama yang menyebabkan persoalan krisis air dan Demam Berdarah yang cukup tinggi di Dusun Kali Keji ini.

Selain masalah krisis air bersih di musim kemarau, masayarakat Bulakan sendiri dihadapakan oleh persoalan pencemaran air sungai padahal mayoritas masyarakat di Desa Bulakan ini menggunakan sungai sebagai sumber pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Membuang sampah di sungai, mencuci baju di sungai, Buang Air Besar di sungai hal – hal inilah yang menyebabakan pencemaran air itu terjadi. Air yang sudah tercemar oleh sama\pah, deterjen sisa sabun untuk mencuci serta kotoran manusia ini lah yang sangat berbahaya jika yang dijadikan sumber air selama ini yang ternyata sudah tercemar. Maka tidak heran jika banyaknya masyarakat yang terkena sakit Muntaber ini lah salah satu dampak buruk bagi kesehatan yang dialami masyarakat di Desa Bulakan ini. Perlunya pencegahan dengan memberikan pengertian kepada masyarakat bahwa hal yang seperti ini akan berdampak serius untuk kesehatan personal.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Foster , G. Dan B.G .Anderson , 1986,Antropologi Kesehatan , Terjemahan Priyanti P.S . dan Meutia F.H .S.,Jakarta ,Penerbit Universitas Indonesia.

Poerwanto Hari,2000,Kebudayaan dan Lingkungandalam prespektif Antropologi, Yogyakarta,Penerbit Pustaka Pelajar ( Anggota IKAPI ).